Pemakai Pewarna Alam pada Tenun Ikat Masih Sedikit, Kenapa?

TrubusLife
Karmin Winarta | Followers 0
10 Mei 2018   16:30

Komentar
Pemakai Pewarna Alam pada Tenun Ikat Masih Sedikit, Kenapa?

Kornelis Ndapakamang (Foto: Karmin Winarta)

Trubus.id -- Pewarna alam, selain ramah lingkungan, bahan dasarnya juga bisa diproduksi secara berkelanjutan. Khusus untuk kain tenun warna alam tidak menimbulkan alergi pada pemakainya.

Pemakaian warna alami pada tenun ikat khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) juga akan membuat warnanya tahan lama sampai beberapa puluh tahun kedepan. Namun sampai sekarang masih sedikit penenenun di NTT yang memakai pewarna alami.

Kornelis Ndapakamang, Ketua Sanggar Paluanda Lama Hamu yang ada di Praikundu, Lambanapu, Waingapu, Sumba Timur ini sejak tahun 1977 telah memakai warna alami untuk tenun ikat Sumbanya.

Baca Lainnya: 5 Keunggulan Pewarna Alami Pada Kain Tenun Ikat

Dia mengakui, masih banyak penenun, khususnya di Sumba yang memakai pewarna alam untuk tenun ikatnya. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah prosesnya yang sangat lama.

"Warna Alam membutuhkan proses yang lama, terutama warna indigo atau biru. Perlu fermentasi berhari-hari untuk menghasilkan warna biru yang diinginkan, katanya kepada Trubus.id Kamis (10/5).

Selain pengerjaan yang memakan waktu lebih lama, hara selembar kain tenun ikat Sumba pewarna alam bisa berkali-kali lipat harganya dibanding pewarna biasa.

Karena itu pasarnya sangat niche, hanya orang-orang tertentu yang mempunyai daya beli. Kornelis juga menyebutkan penyebab lain nya adalah datang dari penenun sendiri. 

Baca Lainnya: VIDEO: Batik Tulis Ciwaringin Pakai Warna Alam untuk Selamatkan Lingkungan

Konsumen sampai saat ini masih banyak yang tidak memahami perbedaan antara warna alami dengan warna kimia. Beberapa penjual kain tenun ikat memanfaatkan ketidaktahuan pembeli ini dengan mengatakan kain yang dijualnya memakai pewarna alami, padahal bukan.

Karena itu Kornelis selain mengadakan pelatihan pada anak-anak muda di sanggarnya, ia juga melakukan sosialissi untuk mengenalkan pewarna alami.

"Sampai sekarang kurang lebih baru 40 persen penenun Sumba yang memakai pewarna alami, " katanya.

Padahal memakai pewarna alam pada kain tenun mepunyai banyak keunggulan. Salah satunya adalah tidak menghasilkan limbah berbahaya bagi lingkungan. [KW]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: