Makan Berlimpah, Populasi Bekantan di TWA Pulang Kembang Terus Bertambah

TrubusLife
Syahroni | Followers 0
11 Juni 2018   07:00

Komentar
Makan Berlimpah, Populasi Bekantan di TWA Pulang Kembang Terus Bertambah

Bayi bekantan termonitor di TWA Pulau Kembang, Kalsel. (Foto: Doc/ BKSDA Kalsel)

Kabar gembira datang dari Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Kembang di Kalimantan Selatan. Petugas TWA Pulau Kembang belum lama ini mendapati seekor bayi bekantan di kawasan tersebut.

Dengan bertambahnya primata bernama latin Nasalis larvatus tersebut, total jadi ada 48 ekor bekantan di kawasan konservasi tersebut. 

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, Mahrus Aryadi menyebut, selain bayi bekantan, ditemukan juga beberapa anak bekantan di lokasi tersebut.

"Populasi Bekantan di TWA Pulau Kembang terpantau sebanyak 48 ekor dengan jumlah jantan enam ekor, betina 23 ekor, anak 16 ekor, dan bayi 1 ekor. Melihat komposisi populasi yang didominasi betina, membuat semakin optimis akan perkembangan bekantan di kawasan ini," ujar Mahrus dalam keterangan tertulisnya, Minggu (10/6). 

TWA Pulau Kembang merupakan salah satu kawasan konservasi dengan tipe ekosistem mangrove yang turut menjadi site monitoring bekantan di Kalsel. Mahrus mengungkapkan, monitoring bekantan di TWA Pulau Kembang telah dilakukan sejak 2015. 

Meskipun kawasan ini tidak terlalu luas, yakni sekitar 83 hektare, dibandingkan dengan kawasan konservasi lainnya dan peluang bertemu satwa bekantan di kawasan ini sangat kecil, monitoring terus rutin dilakukan.

"Vegetasi yang cukup rapat membuat sulit untuk memantau keberadaan bekantan. Selain itu, persaingan daerah jelajah dengan monyet ekor panjang yang mendominasi kawasan juga menjadi salah satu faktor susahnya memonitor bekantan di sini," katanya.

Namun meski demikian, Mahrus yakin, bekantan akan berkembang cukup baik di kawasan ini karena keberadaan berbagai jenis tanaman sebagai potensi pakan yang melimpah.

Adapun jenis pakannya antara lain, pucuk daun rambai (Sonneratia caseloaris), pucuk daun panggang (Ficus retusa), dungun (Haritiera littoralis), jingah (Gluta renghas), dan waru (Hibiscus tiliaceus). [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: