Ilustrasi (Foto: Redefining Strength)
Health & Beauty

Intermittent Fasting, Seberapa Aman dan Efektifkah Melangsingkan Tubuh?

By Ayu Setyowati
May 16, 2018

Trubus.id -- Belakangan kamu mungkin sering mendengar soal diet puasa alias intermittent fasting. Diet ini memiliki prinsip untuk membatasi porsi makanan, namun membebaskan jenis makanannya.

Dikutip dari situs hellosehat, secara umum, ada tiga metode populer terkait diet puasa. 

Metode pertama adalah metode 16/8 yang membagi waktu 16 jam waktu berpuasa dan 8 jam waktu mengonsumsi makanan. 

Metode kedua, Eat-Stop-Eat, yakni mengharuskan untuk tidak mengonsumsi makanan selama 24 jam dalam beberapa hari per minggu. Seperti berhenti mengonsumsi makanan dari waktu makan malam hingga makan malam berikutnya, kemudian dilanjutkan dengan setelah satu hari tidak berpuasa.

Baca Lainnya:Nyamuk Menggila, Warga Jayapura Wajib Tidur Pakai Kelambu Khusus

Metode ketiga, diet 5:2, dilakukan dengan cara mengurangi jumlah asupan hingga 25 persen dari jumlah normal, sekitar 500-600 kalori per hari atau setara dengan satu kali porsi makan.

Melansir Kompascom, dokter spesialis gizi klinik, Juwalita Surapsari, MGizi, SpGK mengatakan metode 16/8 dan eat-stop-eat bertujuan untuk menghilangkan jam makan yang akhirnya jumlah total kalori yg masuk akan lebih sedikit dari biasanya. Dia tak menampik bahwa berat badan akan turun, namun dianggap sebagai cara yang tidak sesuai karena periode puasa yang terlalu lama.

Periode puasa pada 16/8 mencapai 16 jam, sedangkan eat-to-eat mencapai 24 jam. Hasilnya, tubuh akan mencari sumber energi lain untuk bahan bakar tubuh. "Sumber energi utama tubuh kita kan glukosa. Nah ketika cadangan glukosa dalam tubuh (glikogen) sudah habis dipecah, maka tubuh akan membuat glukosa dari bahan baku asam amino hasil pemecahan protein otot," kata Juwalita.

Baca Lainnya: Konsumsi Cokelat Saat Sarapan, Ini Manfaat Sehatnya

Dia menambahkan, "Sangat disayangkan kalau otot banyak dipecah, padahal kita mau otot kita terjaga bagus." Orang yang menjalankan metode diet puasa tersebut akan  mengalami penurunan massa otot. Efek sampingnya juga jelas karena tubuh akan kekurangan energi, yang akhirnya akan lemas, konsentrasi menurun dan cepat lelah. 

Adapun untuk metode 5:2, Juwalita mengategorikan sebagai "very low calorie diet" yang membutuhkan supervisi dokter. Dia mengkhawatirkan bila dilakukan sendiri tanpa pengawasan medis yang baik maka akan kekurangan zat gizi.

Lantas, apakah diet puasa masih bisa direkomendasikan untuk diterapkan? "Secara umum tidak rekomen karena kita harus perhatikan efek samping tadi. Tapi kalau boleh pilih yang paling memungkinkan nomor 1 (metode 16/8) karena "hanya menghilangkan" makan pagi, walaupun makan pagi sangat penting," kata Juwalita. 

Baca Lainnya: Air Kelapa Mampu Gantikan Cairan yang Hilang Selama Puasa

Bila memang ingin mencoba diet puasa, Juwalita mengingatkan untuk tetap mengasup makanan ke tubuh dengan proporsi seimbang: ada sumber karbohidrat (utamakan karbo kompleks), lauk sebagai sumber protein, sayuran sebagai sumber vitamin dan mineral serta serat. 

"Kualitas makanan harus baik. Waktu makan juga sebaiknya dibagi-bagi, 2-3 jam sekali dan di akhir seperti sahur," kata dokter dari Prodia Health Care Bintaro Tangerang ini. Selain itu dia mengingatkan bahwa para pelaku diet ini harus sehat, tidak boleh memiliki penyakit diabetes, gangguan hati serta ginjal. 

Dia pun kembali menegaskan bahwa dokter biasanya tidak merekomendasi diet semacam ini. "Bisa untuk menurunkan berat badan, tapi tidak bagus karena ada efek samping," tegas Juwalita.

Nah, Trubus Mania, ingat lagi bahwa untuk mengadopsi metode diet apapun harus disesuaikan dengan kemampuan tubuh kamu, ya. [NN]

Komentar

    Silahkan masukkan komentar...

Your email address will not be published.

Registration Login
Sign in with social account
or
Lupa Password?
Daftar Login
Sign in with social account
or
Registration Login
Registration