Skin Divers atau Snorkeling, Perusak Terumbu Karang?

TrubusLife
Diah Fauziah
16 Mar 2018   16:00 WIB

Komentar
Skin Divers atau Snorkeling, Perusak Terumbu Karang?

Snorkeling, wisata bahari yang kian digemari wisatawan. (Foto: Dok. Pribadi Jimmy Khadafi)

Trubus.id -- Tidak dipungkiri jika keindahan alam bawah laut sangat menakjubkan. Itulah kenapa, ada banyak wisatawan yang melakukan snorkeling ataupun diving untuk menikmati salah satu keajaiban Tuhan. Namun ternyata, pariwisata merusak alam. Ya, ada banyak orang yang ketika melakukan snorkeling, mereka malah menginjak atau mengambil terumbu karang untuk dijadikan oleh-oleh.

Dihubungi melalui pesan WhatsApp, penggiat wisata yang sadar lingkungan ini menceritakan status koral di Indonesia yang sudah dalam tahap mengkhawatirkan.

“Sedih karena Indonesia penghasil sampah terbesar kedua di dunia. Sampah plastik yang nyangkut di terumbu karang penyebab terumbu mati. Begitu juga dengan ilegal fisihing, bom ikan, racun ikan, dan jaring trwal masih terus mengancam setiap hari. Pelaku wisata bahari yang melakukan aktivitas snorkeling, masih banyak yang menginjak terumbu karang. Itu karena, lokal guide belum teredukasi dengan baik. Menurut saya, penting sekali dilakukan edukasi bagi orang pesisir dan pulau tentang pentingnya terumbu karang,” ujarnya.

Jimmy Khadafi alias Jimboy, penggiat wisata yang sadar lingkungan (Foto: Dok. Pribadi).

Menanam Koral Itu Sederhana

Pada awal 2010, Jimmy Khadafi membuat trip snokeling. Namun, kegiatan itu hanya berjalan setahun saja. 

“Saya merasa malah ngajakin orang-orang buat menginjak koral. Lalu, saya coba buat katalog tentang cara snorkeling yang benar. Maksudnya sih, biar guide lokal bisa mengedukasi pengunjung yang snorkeling. Tapi alhamdulillah, tetap enggak berpengaruh. Justru, orang lokal lebih sadar usaha daripada sadar wisata,” kata pria yang kerap disapa Jimboy.

Itulah kenapa, pada tahun 2012, Jimboy membuat komunitas coral culture dengan membuat konsep edutourism. Tujuannya, semua peserta snorkeling bisa membantu Jimboy menanam koral yang baik dengan cara sederhana. Pada tahun 2013, Jimboy membuat reef scraper media besi dome dengan lapisan semen dan pasir laut. Setelah dipantau selama 1 tahun, terumbu karang bisa tumbuh antara 5 hingga 7 sentimeter.

Foto: Dok. Pribadi Jimmy Khadafi.

Dikatakan Jimboy, menanam koral itu sederhana, hanya mengambil bibit dari alam (f1) untuk kemudian ditempel ke besi yang sudah dilapisi semen putih dan pasir laut. Seminggu sekali, disikat bibitnya bersih, tidak ada alga yang menempel dan koloni polip (hewan koral) tidak stres. Jadi, dalam sebulan, bibit koral dibersihkan selama 4 kali dan kemudian dimonitoring 1 bulan sekali dalam satu tahun.

“Disikat biar enggak menempel alga-alga yang malah bikin koral mata. Nah, pas disikat itu, kita pakai sarung tangan biar tidak bersentuhan dengan kulit,” kata Jimboy.

Syarat Menanam Koral

Ia pun mengatakan jika metode sikat memudahkan polip memakan mikroplakton di sekitarnya. Karena, bibit baru mudah stres. Jadi, alga sangat suka membungkus bibit sehingga polip sulit menyerap mikroplankton. Untuk bibit koral, Jimboy mengambil dari alam, dengan ukuran lima hingga tujuh sentimeter.

“Setelahnya, kami ambil bibit dari koral garden yang sudah ditransplan,” jelasnya.
Untuk koral yang sudah mati, Jimboy akan mengumpulkannya jadi satu dan kemudian dibungkus dengan jaring.

Foto: Dok. Pribadi Jimmy Khadafi.

“Biasanya, mulai tumbuh kembali jenis softcoral dari semua koral yang sudah mati. Ini merupakan adopsi dari pengamatan tempat keramba ikan. Biasanya, koral yang mati dikumpulkan di bawah jaring agar ikan mudah berkamuflase dan tidak stres,” bebernya.

Nah, jaring yang digunakan biasanya keramba karena memiliki kerapatan yang lebih tinggi. Syarat lain menanam koral ialah ditempatkan di tempat yang berarus dengan kedalaman lima hingga tujuh meter. Sejauh ini, Jimboy sudah menaman 13 reef scraper, di mana 1 reef scraper itu 100 bibit koral. Selama ini, lokasi penanaman koral dilakukan di Provinsi Lampung, tepatnya di Pulau Tegal, Pulau Mahitam, dan Pulau Kalagian.

“Tahun ini, kami mau pasang 1000 bibit di Karang Medusa Lampung,” ujarnya.

Terumbu Karang Rusak Oleh Skin Divers

Tidak dipungkiri jika pelaku kerusakan terbesar terumbu karang ialah para penyelam.
“Mungkin, divers yang menyelam tidak didampingi dive master atau instruktur. Jadi, banyak yang tidak bisa menyesuaikan spot diving,” tuturnya.

Ia mencontohkan, untuk mengambil lisensi openwater, penyelaman dilakukan di tempat yang tidak terlalu dekat dengan karang karena buoyancy-nya masih belum stabil.

“Fins yang mereka pakai rentan kena terumbu karang dan bayak yang ingin berfoto di bawah laut untuk bergaya. Biasanya, ini dilakukan oleh divers yang tidak memiliki lisensi. Sebab, banyak yang menganggap jika diving bagian dari lifestyle,” aku Jimboy.

Foto: Dok. Pribadi Jimmy Khadafi.

Ia melanjutkan, “Tapi selama ini, kerusakan terumbu karang lebih banyak dilakukan oleh para skin divers atau snorkeling. Kalau divers, biasanya lebih berhati-hati saat melakukan penyelaman di area terumbu karang yang padat kerapatannya.”

Itulah kenapa, sejak tahun 2016, level pemandu selam minimal punya lisensi rescue divers.

“Jadi, leader wisata selam biasanya cek dive di area yang kerapatan koralnya sedikit dan umumnya berpasir, sebelum memasuki dive spot dengani kerapatan terumbu karang padat,” bebernya.

Oleh karena itu, Jimboy memberi saran.

“Kalau diving, ketentuannya jelas, sesuai lisensi divernya dengan dive spot yang ditentukan dive master. Untuk yang snorkeling, cari spot yang memiliki kedalaman antara 3 hingga 5 meter,” akunya.

Foto: Dok. Pribadi Jimmy Khadafi.

Begitu juga untuk nelayan, harus diberi aturan yang keras dan dikasih solusi untuk alat tangkap yang ramah lingkungan.

“Nah, untuk masyarakat, mulai mengurangi sampah plastik. Jangan cuma beli minuman 1 doang minta pakai plastik. Padahal, dimasukin ke dalam tas juga bisa,” ucapnya.

Bagaimana Trubus Mania, kalian sudah tahu kan, betapa mengkhawatirkannya terumbu karang di Indonesia. Yuk, mari kita jaga dan selamatkan terumbu karang. [DF] 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Begini Cara Tepat Hindari Kontaminasi Bakteri Pada Tanaman Tomat

Plant & Nature   19 Okt 2020 - 18:04 WIB
Bagikan:          
Bagikan: