Ahli Sebut Jika Tak Dicegah, Pandemi Covid-19 Bisa Tingkatkan Kasus Stunting

TrubusLife
Astri Sofyanti
20 Nov 2020   09:47 WIB

Komentar
Ahli Sebut Jika Tak Dicegah, Pandemi Covid-19 Bisa Tingkatkan Kasus Stunting

Jika tidak dicegah, pandemi Covid-19 bisa meningkatkan kasus stunting. (Shutterstock)

Trubus.id -- Masalah gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) bisa berdampak pada stunting atau bertubuh pendek. Ketua Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Dr Tin Herawati mengungkapkan, penguatan fungsi keluarga menjadi hal penting dalam upaya pencegahan stunting. Kejadian stunting pada umumnya terjadi karena asupan gizi yang tidak memadai dan serangan infeksi yang terjadi pada masa 1000 HPK.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis sejak dalam kandungan. Stunting tak hanya berdampak pada fisik anak yang ditandai dengan tinggi badan rendah, melainkan juga menghambat perkembangan kognitif serta kesehatan anak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak Baduta (bayi di bawah usia dua tahun) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat berisiko pada menurunnya tingkat produktivitas. Stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, menurunkan produktivitas pasar kerja, mengurangi pendapatan pekerja dewasa dan menyebabkan kemiskinan antar-generasi.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesda 2018) menunjukkan prevalensi stunting sebesar 30,8 persen dan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019 mengalami penurunan menjadi 27,7 persen. Hal ini berarti dalam satu tahun bisa menekan penurunan angka stunting 3,1 persen. Tantangan yang dihadapi saat ini adalah mampu mencapai target prevalensi stunting pada tahun 2024 menjadi 24 persen.

“Untuk mencapai target tersebut, tentunya perlu upaya dari berbagai pihak untuk ikut mencegah terjadinya stunting. Di sisi lain, pada masa pandemi Covid-19, rawan terjadinya masalah gizi termasuk stunting. Berbagai hasil kajian di masa pandemi menunjukkan bahwa makanan yang dikonsumsi menjadi lebih sedikit dan kualitas makanan menjadi lebih buruk sebagai akibat dari ketahanan ekonomi keluarga yang menurun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa isu kerawanan pangan muncul di masa pandemi akan berimplikasi pada buruknya asupan gizi yang memberi peluang terjadinya masalah gizi, termasuk stunting,” ujarnya.

Kondisi ini akan semakin mengkhawatirkan jika asupan gizi yang buruk terjadi pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), yaitu masa 270 hari atau 9 bulan dalam kandungan ditambah 730 hari atau sampai anak berusia dua tahun.

Isu lain yang muncul di masa pendemi adalah keharmonisan keluarga. Hasil kajian selama pandemi, ditemukan tindakan kekerasan dan perselisihan antara suami isteri. Hal ini berpeluang pada perceraian. Menurut Data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung, kasus perceraian terus meningkat setiap tahun dan pola yang sama juga terjadi pada masa pandemi Covid-19.

Penyebab perceraian terbanyak adalah perselisihan dan pertengkaran terus menerus serta masalah ekonomi. Kasus perceraian banyak terjadi pada usia perkawinan di bawah lima tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar perceraian terjadi pada usia perkawinan masih muda, yang memiliki peluang usai anaknya masih di bawah lima tahun mungkin juga di bawah dua tahun.

Hubungan pernikahan yang tidak harmonis dan berujung pada perceraian berpengaruh terhadap kebahagiaan yang dirasakan oleh keluarga. Ketidakbahagiaan yang dirasakan akibat dari perceraian orang tuanya dapat menimbulkan permasalahan psikologis yang menganggu tumbuh kembang anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya anak-anak yang berasal dari keluarga yang mengalami perceraian biasanya memiliki kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan keluarga yang harmonis. Hal ini sangat terkait dengan rendahnya kualitas pengasuhan.

Dr Tin menyampaikan adanya pertengkaran, perselisihan yang terus menerus, dan masalah ekonomi sehingga berujung perceraian, menunjukkan pelaksanaan fungsi keluarga yang tidak berjalan dengan baik.

“Ketidakberfungsian fungsi keluarga menyebabkan ketidakstabilan dalam kehidupan keluarga yang berpengaruh pada rendahnya kualitas pengasuhan dan berujung pada perceraian. Sebaliknya keluarga yang berfungsi dengan baik dapat mengelola sumber daya keluarga sehingga dapat memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga dan memudahkan dalam mencapai tujuan,” bebernya.

Sebagai penghasil sumberdaya manusia, keluarga harus menjalankan fungsinya dengan baik agar dapat melaksanakan pengasuhan dengan baik untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas. Fungsi keluarga yang berperan dengan baik akan memberikan perlindungan dari stresor dan perubahan yang terjadi dan cara yang positif dalam melaksankan fungsi keluarga dapat membantu keluarga dalam penyesuaian selama krisis.

“Oleh karena itu penguatan fungsi keluarga menjadi hal yang sangat penting terutama pada keluarga pada masa periode 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) dalam upaya pencegahan stunting,” tutupnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: