Talas Berpotensi Perkuat Ketahanan Pangan Indonesia

TrubusLife
Astri Sofyanti
17 Nov 2020   09:31 WIB

Komentar
Talas Berpotensi Perkuat Ketahanan Pangan Indonesia

Ilustrasi - Talas. (Istimewa)

Trubus.id -- Pandemi Covid-19 membuat kesadaran masyarakat akan pentingnya ketahanan pangan. Pertanian perkotaan (urban farming) menjadi salah satu kegiatan yang masif dilakukan masyarakat selama pandemi Covid-19. Bahkan diberbagai kesempatan pemerintah selalu menggaungkan family farming. Banyak masyarakat mulai menanam berbagai jenis sayuran, baik di pekarangan ataupun halaman rumah.

Meski pertanian perkotaan terus didorong, langkah lain yang perlu dilakukan upaya diversifikasi pangan dengan ragam biodiversitas tanaman penghasil karbohidrat berkelanjutan merupakan tantangan mendasar yang perlu untuk terus dikembangkan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Lebih-lebih pada kondisi perubahan iklim. Salah satu tanaman tersebut yaitu talas. Perguruan tinggi yang salah satu tridharmanya melakukan pengabdian pada masyarakat, menjadi garda terdepan yang bertugas dalam pengembangan komoditas melalui penelitian dan inovasi.

Guru Besar IPB University dari Fakultas Pertanian, Edi Santosa mengungkapkan, tanaman talas memiliki banyak keunggulan, misalnya seperti nutrisi yang sangat lengkap dibanding dengan umbi-umbi lainnya. Talas memiliki protein, mineral dan indeks glikemiknya juga lebih rendah dibandingkan beberapa umbi-umbian yang lain.

Saat ini, Edi bersama dengan Malaysian Agriculture Research and Development Institute (MARDI), Philipina, Fiji dan didanai oleh Food and Agriculture Organization (FAO) melalui Centre of Agriculture and Bioscience (CAB) Internasional membangun konsorsium talas sebagai pangan masa depan antisipasi perubahan iklim.

“Yang kita kembangkan adalah talas-talas yang tidak gatal dan cocok dengan lidah Indonesia. Secara potensi, IPB University punya koleksi talas yang banyak. Kami kumpulkan dari berbagai daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sebagainya. Kita sudah punya aksesi yang bagus, lalu kita lakukan percobaan-percobaan di lapangan,” kata dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura ini.

Produksi talas terbilang mudah karena hanya membutuhkan sedikit air dan cukup dengan pupuk kandang maka sudah dapat hidup dan bisa diandalkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Edi, satu pohon talas menghasilkan satu kilogram lebih dengan produktivitas 40 ton per hektare dengan harga talas di petani sekitar 5000 rupiah per kilonya,” jelasnya.

Saat ini, Edi sedang mencari umur talas yang lebih genjah agar panen talasnya dapat lebih cepat dengan produktivitas yang terus bertambah. Menurutnya, talas termasuk tanaman yang bandel, karena daya adaptasi ekologinya lebih luas dan fleksibel dibandingkan tanaman pangan yang sudah ketat prosedur produksinya. Talas juga dapat ditanam tanpa pestisida dan pupuk pabrik. Sehingga biaya inputnya akan jauh lebih feasible bagi petani kecil dibandingkan dengan komoditas lain.

Oleh karena itu, dirinya berharap pihak-pihak terkait dapat terpanggil untuk membangun diversifikasi pangan dari masyarakat yang paling membutuhkan. Untuk produksi yang lebih besar, butuh adanya dukungan hilirisasi dari sisi pemasaran dan industri pengolahannya.

“Harapannya talas bisa menjadi tanaman penting untuk daerah-daerah yang rawan perubahan iklim, menjadi pilar rumah tangga untuk menaikkan pendapatan serta dapat menjadi aktivitas industri di skala rumah tangga. Pilihan varietas terus dikembangkan. Sekarang koleksi ragam jenis dan varietas talas sudah dikumpulkan di IPB University, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen). Kita usahakan agar keragaman genetik itu bisa kita kembalikan ke petani. Sehingga petani secara riil terlibat dalam perakitan varietas secara mandiri, yang biasanya kita sebut on farm conservation dan participatory breeding. Talas ini adalah kekayaan alam kita, tapi saat ini, pada khasanah pangan kita belum terlalu diperhatikan. Padahal perannya di ekonomi dan ketahanan pangan pada masyarakat sangat dirasakan,” tutup Edi.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: