Mengompos, Teknik Jitu Mengelola Sampah Agar Memiliki Nilai Tambah

TrubusLife
Astri Sofyanti
09 Nov 2020   15:53 WIB

Komentar
Mengompos, Teknik Jitu Mengelola Sampah Agar Memiliki Nilai Tambah

Ilustrasi - Mengompos. (Unsplash/Markus Spiske)

Trubus.id -- Pernahkah kalian mendengar istilah kompos? Jika mendengar kompos apa yang langsung terbayang? Pasti pupuk? Tapi tahukah kamu kalau kompos memiliki peran besar untuk menjamin keberlangsungan hidup kita?

Secara umum, kompos merupakan hasil penguraian dari segala sisa organik yang kita hasilkan. Ketika diuraikan dengan baik, kompok berfungsi untuk menyuburkan tanah. Tanah yang subur akan akan membuat tanaman yang ditanam juga tumbuh subur.

Masalahnya adalah, banyak yang mengira mengompos itu sulit dan memakan waktu lama. Padahal mengompos itu mudah loh dan hanya persoalan membiasakan diri kita.

Mengompos bisa menjadi salah satu teknik untuk mengelola sampah basah seperti sisa makanan menjadi pupuk kompos yang bernilai ekonomis sekaligus mengurangi sampah dari awal sebelum sampah terbentuk.

CEO Sustaination Dwi Sasetyaningtyas, mengatakan ada empat hal dalam proses mengompos yaitu mikroba, materi coklat, materi hijau, dan udara.

“Material coklat warnanya coklat, kering, bunyinya kriuk. Contohnya ranting, daun kering, kardus, koran, atau serpihan kayu. Sementara, material hijau yaitu semua yang segar seperti bunga, daun, bulu-bulu hewan, sisa sayur dan buah, roti, itu semua material hijau,” kata Tyas dalam keterangan resmi Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI).

Menurutnya ada dua metode dalam mengompos, pertama menggunakan oksigen (aerob) ataupun tanpa oksigen (anaerob). Aerob membutuhkan oksigen atau udara melalui lubang komposter dan pengadukan sesekali. Sementara anaerob menguraikan sampah tanpa menggunakan udara.

Untuk para peluma, dirinya menyarankan untuk menggunakan metode aerob. Ini karena metode ini relatif lebih mudah dengan tingkat keberhasilan tinggi. Hasilnya pun juga dapat dikontrol dengan risiko yang lebih rendah, yang pasti tidak menimbulkan bau menyengat.

“Mikroba menjadi kunci kesuksesan dalam mengompos,” ujarnya.

Selain sampah organik, Tyas mengungkapkan bahwa sampah anorganik misalnya seperti sampah plastik juga dapat dipergunakan kembali untuk hal yang bermanfaat dan bernilai tambah, seperti kemasan kopi instan, kemasan bumbu dapur dan lainnya. Sampah ini bisa diolah kembali salah satunya menjadi bahan baku bangunan.

Untuk melakukannya, masyarakat bisa mengirimkannya ke pihak yang mengolah kembali jenis sampah ini, salah satunya Rebricks Indonesia. Di sana, sampah plastik ditransformasi menjadi bahan-bahan material bangunan, menggunakan metode shredding yaitu mencacah, lalu mencampurkan formula yang telah dibuat kemudian sampah dibentuk (dimolding) menjadi batu bata.

“Sampah plastik tidak harus bersih, tapi harus kering. Jadi, kalau masih ada serbuk-serbuk di dalam kemasan, tidak perlu dicuci. Untuk plastik minyak, bisa dilap supaya kering. Setelah itu dikirim ke drop point kita di Setiabudi, Ciputat, dan Tangerang Selatan,” tutur Co-Founder Rebricks Indonesia, Novita Tan.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: