LIPI: Araceae Jadi Alternatif Sumber Pangan Berkarbohidrat, Tak Kalah Enak dan Bergizi dari Nasi

TrubusLife
Astri Sofyanti
07 Sep 2020   11:26 WIB

Komentar
LIPI: Araceae Jadi Alternatif Sumber Pangan Berkarbohidrat, Tak Kalah Enak dan Bergizi dari Nasi

Di masa pandemi Covid-19, untuk mengurangi ketergantungan akan beras, tumbuhan seperti talas-talasan menjadi sumber karbohidrat alternatif yang tak kalah enak dan bergizi dari nasi. (Dok. LIPI)

Trubus.id -- Indonesia memiliki sumber daya hayati yang begitu melimpah. Berbagai jenis tanaman tumbuh subur di negeri tercinta. Salah satunya seperti tumbuhan talas-talasan yang masuk ke dalam keluarga Araceae. Tumbuhan ini bahkan kerap dimanfaatkan sebagai sumber pangan, tanaman hias, hingga digunakan sebagai bahan baku obat.

Mengutip dari Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dalam UU no.7 /1996, telah diamanatkan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi oleh pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama. Pemenuhan kebutuhan pangan penduduk Indonesia sering diidentikkan dengan pemenuhan kebutuhan beras sebagai makanan pokok. Padahal Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris yang memiliki sumber pangan non beras yang beragam dan sangat potensial apabila dikembangkan secara optimal.

Di masa pandemi Covid-19, untuk mengurangi ketergantungan akan beras, tumbuhan seperti talas-talasan menjadi sumber karbohidrat alternatif yang tak kalah enak dan bergizi dari nasi.

“Di masa pandemi Covid-19 ini, pemerintah mendorong gerakan ketahanan pangan bagi masyarakat, talas atau suweg bisa menjadi solusi bagi cadangan karbohidrat selain beras,” kata Ni Putu Sri Asih, peneliti Araceae di Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” Bali melalui siaran persnya.

“Masyarakat bisa mengolah umbinya sebagai campuran beras, penganan rebusan, serta diolah menjadi kue,” lanjutnya.

Tumbuhan ini mudah dikenali dengan bentuk daun dan coraknya yang beraneka, serta memiliki bunga tongkol yang seludangnya berwarna-warni.
 
Diakui Sri Asih, saat ini terdapat lebih dari 600 jenis Araceae di Indonesia. Hutan di Indonesia menyimpan keanekaragaman jenis Araceae yang tersebar di setiap pulaunya.

“Kalimantan adalah surga bagi berbagai jenis Araceae, namun potensinya masih perlu dieksplorasi,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat lebih mengenal Araceae sebagai tanaman pangan, terutama dari jenis Amorphophallus atau suweg, porang, dan talas (Colocasia esculenta). Ada pula Cyrtosperma merkusii yang digunakan sebagai salah satu makanan pokok di Sulawesi Utara.

Tak hanya itu, diakui Sri Asih, Araceae juga banyak diminati sebagai tanaman hias. Penggemar Araceae umumnya tertarik dengan bentuk daunnya dan perawatan yang relatif mudah. Tidak heran, Araceae menjadi tanaman hias favorit untuk berkebun di masa pandemi Covid-19.  

“Sebagian besar Araceae hidup di dataran rendah hingga sedang, ia hanya memerlukan habitat hidup berhumus, porous dan lembab,” ujarnya.
 
Beberapa jenis Araceae asal Indonesia yang berpotensi sebagai tanaman hias antara lain berbagai jenis Alocasia, Spathiphyllum, Schismatoglottis, Rhaphidophora, Scindapsus, dan Homalomena.

“Araceae asli Indonesia ini umumnya memiliki bentuk daun yang unik, tidak kalah cantik dengan Monstera, jenis Araceae dari luar negeri yang sedang naik daun,” terangnya.
 
Di sisi lain, potensi Araceae sebagai tanaman obat masih memerlukan penelitian lebih lanjut. “Selama ini pengetahuan mengenai potensi Araceae sebagai obat justru berasal dari kearifan lokal yang berkembang di masyarakat, misalnya Alocasia longiloba bisa dimanfaatkan sebagai obat luka. Ini bisa menjadi peluang bagi peneliti untuk mendalami potensi Araceae,” ungkap Sri Asih.
 
Meskipun status Araceae di habitat aslinya, khususnya di hutan Indonesia, masih mudah ditemukan, tetapi ancaman degradasi hutan berpotensi merusak habitat Araceae di alam. Di samping itu, studi populasi mengenai Araceae masih terbatas, sehingga status konservasinya belum teridentifikasi dengan baik.

“Masyarakat yang mengambil Araceae di alam tetap memiliki kesadaran untuk melestarikannya bagi generasi mendatang,” tutupnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Begini Cara Tepat Hindari Kontaminasi Bakteri Pada Tanaman Tomat

Plant & Nature   19 Okt 2020 - 18:04 WIB
Bagikan: