Rerumputan yang Mudah Dicerna, Solusi Meningkatkan Produksi Ternak dan Biofuel

TrubusLife
Syahroni
27 Juni 2020   17:00 WIB

Komentar
Rerumputan yang Mudah Dicerna, Solusi Meningkatkan Produksi Ternak dan Biofuel

ilustrasi. (Shutterstock)

Trubus.id -- Peluang dijadikan bahan makanan untuk hewan herbifora telah membuat beberapa tanaman berevolusi selama ribuan tahun. Namun hal ini tidak mengacu pada rumput dan dedaunan yang paling mudah dicerna.

Dinding sel yang kuat membantu melindungi jaringan yang berisi kalori berat, membuat tanaman lebih keras dan kurang membuat hewan berselera. Pertahanan ini pun bertahan cukup lama untuk tanaman menghasilkan generasi berikutnya.

Keuntungan evolusi bagi tanaman ini adalah kerugian baik bagi hewan yang gemar merumput maupun para ilmuwan yang berusaha menghasilkan biofuel yang lebih bersih untuk menggerakkan kendaraan dan mesin lainnya.

Jadi para ahli biologi bekerja untuk menciptakan lebih banyak rumput yang dapat dicerna yang dapat membantu sapi dan mobil berbahan bakar biofuel. Sebuah tim ilmuwan internasional kini telah menunjuk sebuah gen yang menguatkan dinding sel. Ketika mereka menekannya, pelepasan gula tanaman meningkat hingga 60 persen.

"Di Brasil saja, pasar potensial untuk teknologi ini dihargai tahun lalu [US $ 400 juta] untuk biofuel dan [$ 18,9 juta] untuk ternak hijauan," kata Dr. Hugo Molinari dari Laboratorium Genetika dan Bioteknologi di Embrapa Agroenergy, yang ikut memimpin penelitian.

Dinding sel yang kaku membuat tanaman kurang mudah dicerna oleh hewan dan mengganggu dalam pemrosesan biofuel. Belajar menekan gen yang mendorong dinding sel yang kaku berarti lebih banyak tanaman yang dimaksud dapat digunakan untuk makanan atau bahan bakar.

Rumput yang diciptakan tim ilmuan yang lebih mudah dicerna bisa sangat membantu di negara-negara seperti Brasil, di mana ternak merupakan bagian utama dari ekonomi pertanian. Brazil juga memiliki industri biofuel yang terus berkembang yang menggunakan sisa makanan non-pangan dari rumput dan tanaman tebu. Menekan gen dinding sel yang kaku berarti makanan yang lebih mudah dicerna untuk ternak, dan sisa makanan yang lebih berguna untuk industri biofuel.

"Dampaknya berpotensi global karena setiap negara menggunakan tanaman rumput untuk memberi makan hewan dan beberapa tanaman biofuel di seluruh dunia menggunakan bahan baku ini," kata co-pemimpin Dr. Rowan Mitchell, seorang ahli biologi tanaman di Rothamsted Research.

Tim peneliti telah menerbitkan temuan mereka dalam jurnal New Phytologist. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

4 Tips Melindungi Anak dari Kejahatan Seksual

Health & Beauty   02 Juli 2020 - 17:38 WIB
Bagikan:          
Bagikan: