Cuaca Panas Berpotensi Perburuk Pasien Covid-19, Simak Penjelasan Ahli

TrubusLife
Astri Sofyanti
24 Juni 2020   14:13 WIB

Komentar
Cuaca Panas Berpotensi Perburuk Pasien Covid-19, Simak Penjelasan Ahli

Ilustrasi - Cuaca panas. (imago images/R. Traut)

Trubus.id -- Saat ini, negara-negara di dunia masih fokus memerangi pandemi virus corona (Covid-19). Virus ini bahkan telah menyebar hampir ke semua negara di dunia. Namun, bukan hanya Covid-19 satu-satunya masalah yang mendesak untuk ditangani.

Pemanasan global yang telah menjadi isu dunia masih berlangsung bahkan di tengah merebaknya pandemi itu. Andreas Becker dari German Weather Service, DWD, di Frankfurt am Main menyebut jika cuaca pada Januari dan Maret terlalu kering. “Januari terlalu hangat. Tidak ada bukti bahwa pemanasan global telah berhenti atau melambat,” kata dia dilansir dari Deutsche Welle.

Masyarakat yang tinggal di wilayah yang sudah memasuki musim panas dan di masa pandemi Covid-19, harus benar-benar menjaga kesehatan.

Cuaca panas bisa memperburuk situasi pasien Covid-19 dan bahkan meningkatkan tingkat penularan ketika orang berkumpul di luar ruangan.

Para ahli mengatakan rekor suhu yang menghangat dan kekeringan dapat menambah masalah lain terhadap paru-paru manusia, selain yang telah disebabkan oleh virus corona.

Para pakar kesehatan seperti dilansir Xinhua, dari Antara, Rabu (24/6/20) meminta masyarakat untuk selalu memakai masker jika beraktivitas di luar rumah untuk mencegah penyebaran virus corona. Untuk memudahkan bernapas, seseorang harus memilih bahan masker yang ringan seperti kain katun.

Selain itu, para pakar kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk mengenakan masker di dalam ruangan jika pengaturan jarak fisik tidak memungkinkan. Tetaplah berusaha menjaga jarak fisik dan sosial dengan orang lain.

Untuk mengurangi potensi penyebaran virus melalui udara atau aerosol, Global Heat Health Information Network (GHHIN), sebuah forum independen ilmuwan, praktisi dan pembuat kebijakan, menyarankan semua sistem ventilasi dan pendingin udara diperiksa, dirawat, dan dibersihkan secara teratur untuk mencegah penularan.

“Bahkan di lingkungan yang berventilasi baik, orang harus terus mengikuti rekomendasi jarak fisik dan menjaga kebersihan tangan,” kata pihak GHHIN yang juga menyarankan suhu ruangan sebaiknya diatur 24-27 derajat Celcius untuk pendinginan.

Selain itu, perhatikan masalah usia, kondisi medis yang sudah ada sebelumnya dan faktor-faktor lain dapat meningkatkan kerentanan orang terhadap panas ekstrem, kata jaringan yang dipelopori oleh WHO dan WMO itu.

Hal lain yang tak kalah penting, penuhilah asupan gizi melalui makanan sehat dan cukupilah kebutuhan hidrasi tubuh demi mencegah dehidrasi.

Cuaca Panas Perburuk Efek Covid-19 di Eropa

Andreas Marx dari Pusat Penelitian Lingkungan Helmholtz di Leipzig mengatakan bahwa curah hujan dalam tiga tahun belakangan memang luar biasa rendah. Marx mengatakan rendahnya curah hujan ini tidak hanya terjadi di Jerman utara, tetapi juga di Polandia, Ukraina, Belarus, Rusia, dan Rumania.

Baik Becker maupun Marx menambahkan bahwa kondisi geografi Eropa yang beragam, termasuk daerah yang bergunung-gunung dan memiliki lautan, telah membuat cuaca di Eropa lebih sulit diprediksi dibandingkan tempat lain seperti Australia.

Karena ramalan cuaca untuk satu atau dua minggu dianggap tidak pasti, para ahli meteorologi cenderung menghindar dari membuat prediksi cuaca jangka panjang.

Meski demikian, keduanya mengatakan musim panas tahun ini akan lebih hangat dari biasanya. German Weather Service, misalnya, telah memperkirakan bahwa suhu di Jerman bisa setengah derajat Celsius lebih hangat daripada rata-rata.

“Secara teknis, yang dianggap sebagai hari-hari panas adalah hari dengan suhu di atas 30 derajat Celsius. Secara statistik, bisa diharapkan akan ada tujuh atau delapan hari seperti itu setiap tahun di Leipzig. Tetapi kita mengalami suhu 36 derajat di antaranya pada tahun 2018, dan 29 derajat di 2019. Itu berarti gelombang panas dapat berlangsung tiga hingga empat kali lebih lama daripada rata-rata.” ujar Marx.

Dirinya memperingatkan bahwa kondisi ini memiliki konsekuensi serius bagi petani dan kesehatan manusia.

Jika semuanya berjalan sesuai yang diperkirakan para ahli, orang-orang Eropa tidak hanya akan menghadapi prospek pembatasan gerakan akibat Covid-19, tetapi juga harus menderita selama musim panas.

Cuaca panas juga rentan terhadap warga lanjut usia yang sebelumnya sudah berisiko tinggi terinfeksi virus corona. Keadaan ini juga membuat pemakaian masker wajah menjadi semakin tidak nyaman.

Kekeringan yang panjang juga meningkatkan kemungkinan kebakaran hutan dan kemungkinan polusi asap akibat kebakaran. Hal ini akan menjadi beban lain terhadap paru-paru manusia, terutama bagi mereka yang telah terinfeksi virus corona.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

4 Tips Melindungi Anak dari Kejahatan Seksual

Health & Beauty   02 Juli 2020 - 17:38 WIB
Bagikan:          
Bagikan: