Tubuh dan Otak Bereaksi Usai Baca Berita Covid-19, Waspada Gejala Psikosomatik

TrubusLife
Astri Sofyanti
08 Juni 2020   17:00 WIB

Komentar
Tubuh dan Otak Bereaksi Usai Baca Berita Covid-19, Waspada Gejala Psikosomatik

Ilustrasi - Kecemasan. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Trubus.id -- Sebagai bentuk kewaspadaan seseorang pada masa pandemi Covid-19, banyak masyarakat mengikuti berbagai pemberitaan terkait penyebaran virus corona baik di Indonesia ataupun kasus-kasus penularan Covid-19 di dunia. Ternyata kondisi ini berisiko tinggi membuat seseorang menjadi lebih panik, khawatir, bahkan hingga stres.

Rasa khawatir atau cemas yang berlebihan akibat sering menerima informasi tersebut pada akhirnya menyebabkan tubuh menciptakan gejala mirik Covid-19. Akibatnya, seseorang akan berpikir bahwa dirinya terinfeksi virus corona.

Padahal, sesungguhnya gejala tersebut merupakan manifestasi dari rasa cemas berlebihan, bukan akibat terinfeksi virus. Kondisi ini dikenal dengan istilah psikosomatik.

Psikosomatik sendiri berasal dari dua kata, yaitu pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Pada umumnya, psikosomatik adalah suatu kondisi atau gangguan ketika pikiran memengaruhi tubuh hingga memicu munculnya keluhan fisik tanpa adanya penyakit.

Gejala psikosomatik bisa terjadi akibat ketidakstabilan sistem saraf otonom, di mana sistem saraf simpatis dan saraf parasimpatis menjadi tidak seimbang. Hal tersebut biasanya disebabkan oleh faktor stres yang tidak mampu diadaptasi dengan baik.

Kemudian, tubuh mengalami tekanan terus-menerus dan adrenalin akan mengalir ke seluruh tubuh sehingga menimbulkan gejala psikosomatik.

Umumnya, gejala psikosomatik mirip dengan gangguan kecemasan, seperti nyeri dada, sesak napas, merasa tubuh terlalu panas atau demam. Akan tetapi, gejala psikosomatik yang muncul dapat dikaitkan dengan kondisi yang sedang terjadi. Gejala-gejala ini ternyata tak mengejutkan untuk ahli kesehatan mental.

Lantas apa yang akan terjadi pada tubuh dan otak seseorang jika terlalu banyak membaca atau mendengar informasi dan pemberitaan seputar Covid-19?

Sebagaimana melansir Huffington post dari CNNIndonesia, Senin (8/6/20), membaca berita yang menegangkan akan mengaktifkan respons pertarungan atau pelarian dalam diri.

Ketika seseorang terlalu banyak mendapat infomasi terkait Covid-19, biasanya tubuh akan langsung bereaksi, seperti, merasa cemas, jantung berdebar kencang, napas memburu, susah tidur hingga mimpi buruk.

Hal ini terjadi karena pada seseorang karena terpapar dengan stresor, meski secara tak langsung, misalnya melalui media. Respons untuk 'bertarung' atau lari mulai menyala. Ini merupakan cara tubuh terhadap ancaman yang dirasakan.

“Ketika otak ditunjukkan gambar sesuatu yang berpotensi traumatis, pusat-pusat otak yang bertanggung jawab atas respons rasa takut menyala [dan] pusat-pusat otak yang terkait dengan perkembangan PTSD menyala,” kata Alison Holman, seorang psikolog dan profesor keperawatan di University of California Irvine.

Ketika orang terus-menerus memaparkan diri mereka pada berita yang memicu kecemasan, mereka membuat otak mereka merasakan peristiwa yang mengancam dan menegangkan berulang kali, maka hal ini bisa berpengaruh pada kesehatan mental seseorang.

“Jika Anda berulang kali terkena stresor itu, itu dapat menyebabkan suasana hati yang tertekan, itu dapat menyebabkan insomnia, kelelahan [dan] penurunan konsentrasi,” ujar Collin Reiff, seorang psikiater di NYU Langone Health.

Holman menekankan, semakin banyak orang terpapar berita menegangkan seperti virus corona maka semakin besar kemungkinan mereka melaporkan tingkat stres dan kecemasan akut yang lebih tinggi.

Dalam sebuah penelitian yang berjudul Psychological Predictors of Anxiety in Response to the H1N1 (Swine Flu) Pandemic menyatakan hubungan antara suatu krisis kesehatan dengan psikosomatik. Berdasarkan hasil studi tersebut, diungkapkan bahwa krisis kesehatan yang dipublikasikan secara luas dapat menyebabkan kondisi psikogenik massal.

Cara mengatasi psikosomatik akibat pemberitaan Covid-19:

Istirahat sejenak dari pemberitaan virus corona

Mengikuti perkembangan tentang virus corona memang penting sebagai bentuk kewaspadaan. Akan tetapi, tidak sehat jika terus-menerus membaca, mendengar, dan menonton berita baik melalui media sosial ataupun media lainnya.

Jadi, cobalah meluangkan waktu sejenak untuk beristirahat, bersantai, dan melakukan berbagai aktivitas yang Anda sukai.

Misalnya, membaca buku, mendengarkan lagu atau podcast, memasak, bermain game, olahraga, mengobrol dengan teman dan keluarga, dan lainnya.

Ketika mengobrol dengan teman-teman dan keluarga, usahakan agar tidak terlalu fokus untuk membahas wabah virus corona ini. Menghindari berita sama sekali memang sebaiknya tidak dilakukan. Namun, cara terbaik adalah dengan membatasinya aga tidak terlalu cemas dan stres.

Tetaplah berpikir positif

Tetap berpikir positif dapat membantu seseorang mendapatkan perasaan lebih tenang. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk tetap memelihara pikiran yang positif. Mulai dari memberikan sugesti positif pada diri sendiri, lebih fokus pada hal-hal baik dan menyenangkan, hingga berbagi cerita dan canda dengan orang-orang tersayang.

Menghadapi pemberitaan pandemi Covid-19 tanpa merasa cemas, gelisah dan stress bisa membantu kamu menjaga kesehatan mental dan fisik. Tidak hanya baik untuk diri sendiri melainkan juga orang-orang di sekitar Anda.

Tetapi jika gejala psikosomatik akibat mengikuti pemberitaan Covid-19, dan kamu sulit untuk mengatasinya, disarankan untuk menghubungi pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, secara online.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bawang Merah dan Daun Bawang Manakah yang Lebih Sehat

Health & Beauty   29 Jan 2021 - 09:39 WIB
Bagikan:          

Dosen IPB University Berbagi Tips Merawat Ikan Hias

Pet & Animal   12 Jan 2021 - 10:50 WIB
Bagikan:          
Bagikan: