Polusi Udara Memicu Jutaan Serangan Asma di Seluruh Dunia

TrubusLife
Syahroni
03 Juni 2020   09:00 WIB

Komentar
Polusi Udara Memicu Jutaan Serangan Asma di Seluruh Dunia

Ilustrasi. (Shutterstock)

Trubus.id -- Para peneliti di George Washington University (GW) memperkirakan bahwa hingga 33 juta pasieb ruang gawat darurat terkait asma dipicu oleh paparan ozon atau partikel halus (PM2.5). Meskipun telah lama diakui bahwa menghirup udara yang tercemar dapat memicu serangan asma, penelitian ini adalah yang pertama untuk mengukur efek polusi udara pada kasus-kasus asma di seluruh dunia.

Penulis utama studi yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Health Perspectives., Dr. Susan C. Anenberg, adalah profesor di bidang Kesehatan Lingkungan dan Pekerjaan di GW Milken Institute School of Public Health.

"Jutaan orang di seluruh dunia harus pergi ke ruang gawat darurat untuk serangan asma setiap tahun karena mereka menghirup udara kotor," kata Dr. Anenberg dilansir dari earth.com. "Temuan kami menunjukkan bahwa kebijakan yang bertujuan membersihkan udara dapat mengurangi beban global asma dan meningkatkan kesehatan pernapasan di seluruh dunia."

Mempengaruhi sekitar 358 juta orang, asma adalah penyakit pernapasan kronis yang paling umum di dunia. Penelitian baru menunjukkan bahwa emisi mobil dan jenis polusi udara lainnya sangat meningkatkan frekuensi serangan asma yang serius.

Anenberg dan timnya memulai penyelidikan dengan memeriksa kunjungan ruang gawat darurat untuk asma di 54 negara dan Hong Kong. Para peneliti kemudian menggabungkan data ini dengan hubungan paparan-respons epidemiologis, dan juga dengan tingkat polusi global yang direkam oleh satelit.

Studi ini mengungkapkan bahwa antara 9 dan 23 juta kunjungan ruang gawat darurat asma tahunan dapat dipicu oleh ozon di seluruh dunia, sementara 5 hingga 10 juta kunjungan ruang gawat darurat asma lainnya terkait dengan partikel halus.

Sekitar setengah dari kunjungan ruang gawat darurat terkait asma yang disebabkan oleh polusi udara terjadi di negara-negara Asia Selatan dan Timur, terutama di seluruh India dan Cina.

Di Amerika Serikat, di mana udaranya relatif bersih dibandingkan dengan negara-negara Asia Selatan dan Timur, ozon dan partikel diperkirakan berkontribusi hingga 33 persen dari semua kunjungan ER terkait asma di negara tersebut.

Daven Henze adalah peneliti utama pada proyek tersebut dan seorang profesor di Universitas Colorado Boulder.

"Nilai menggunakan satelit adalah bahwa kami dapat memperoleh ukuran konsentrasi polusi udara yang konsisten di seluruh dunia," kata Profesor Henze. "Informasi ini memungkinkan kami untuk menghubungkan beban asma dengan polusi udara bahkan di bagian dunia di mana pengukuran kualitas udara ambien belum tersedia."

Dr. Anenberg menyimpulkan, “Kita tahu bahwa polusi udara adalah faktor risiko kesehatan lingkungan yang terkemuka secara global. Hasil kami menunjukkan bahwa jangkauan dampak kesehatan masyarakat global dari menghirup udara kotor bahkan lebih jauh - dan termasuk jutaan serangan asma setiap tahun. "

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: