Pengelolaan Lahan di Hutan Bakau Papua Dapat Berdampak pada Target Pengurangan Emisi Negara di Masa Depan

TrubusLife
Syahroni
31 Mar 2020   22:00 WIB

Komentar
Pengelolaan Lahan di Hutan Bakau Papua Dapat Berdampak pada Target Pengurangan Emisi Negara di Masa Depan

Kandidat peraih gelar PhD Charles Darwin University, Sigit D. Sasmito mengatakan praktik pengelolaan lahan saat ini di hutan bakau Papua mengurangi stok karbon secara substansial. (Doc/ Charles Darwin University)

Trubus.id -- Para peneliti telah menemukan bahwa perubahan dalam praktik pengelolaan lahan saat ini di hutan bakau di Provinsi Papua Barat, dapat memiliki dampak signifikan terhadap target pengurangan emisi negara di masa depan.

Penelitian yang diterbitkan dalam Global Change Biology ini menemukan bahwa eskalasi perubahan penggunaan lahan di masa depan di hutan bakau Papua dapat memiliki implikasi bagi Indonesia's Nationally Determined Contributions (NDCs) di bawah Perjanjian Paris 2015.

Kandidat peraih Ph.D Charles Darwin University's Research Institute for the Environment and Livelihoods, Sigit D. Sasmito mengatakan praktik pengelolaan lahan saat ini di hutan bakau Papua mengurangi stok karbon secara substansial.

"Evaluasi kami terhadap cadangan karbon biru dan potensi emisi dan serapannya menunjukkan bahwa praktik pengelolaan lahan saat ini di hutan bakau Papua, seperti pemanenan hutan dan budidaya skala kecil, mengurangi stok karbon secara substansial," kata Sigit.

"Mengingat hutan bakau Papua menyumbang 50% dari luas 2,9 juta hektar hutan bakau di Indonesia, wilayah ini jelas merupakan aset penting untuk kebijakan mitigasi perubahan iklim berbasis alam."

Dia mengatakan bahwa walaupun bakau diakui sebagai penyerap "karbon biru" yang signifikan, kapasitas penyimpanan karbonnya secara dramatis tergantung pada berbagai faktor ekologis.

"Kami menemukan ada berbagai macam penyimpanan karbon biru alami sebagai fungsi dari lokasi dan penggunaan lahan," kata Sigit.

"Kami juga menemukan bahwa konversi mangrove menjadi akuakultur menyebabkan hilangnya stok karbon biomassa hidup sebesar 85%. Menggabungkan kehilangan stok karbon dari biomassa hidup dan sumber karbon tanah dari konversi mangrove menjadi akuakultur ditemukan mengurangi cadangan karbon sebesar 66%."

Dia mengatakan penelitian memiliki implikasi untuk pengelolaan lahan masa depan, dengan mangrove dianggap sebagai solusi berbasis alam yang dapat membantu memperbaiki dampak perubahan iklim di planet ini.

"Eskalasi perubahan penggunaan lahan saat ini di hutan bakau Papua di masa depan dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca yang substansial," katanya.

"Penelitian menunjukkan bahwa jika dilakukan dalam skala yang memadai dan jangka panjang, regenerasi mangrove berpotensi berkontribusi pada NDC Indonesia dengan meningkatkan cadangan karbon bakau dan mengimbangi emisi gas rumah kaca antropogenik."

Ilmuwan utama Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) Daniel Murdiyarso mengatakan emisi karbon yang terkait dengan perubahan penggunaan lahan mangrove harus diperhitungkan untuk memastikan penghitungan yang akurat.

"Secara keseluruhan, ini menunjukkan kepada kita bahwa kebijakan untuk melestarikan mangrove sebagai penyerap karbon dapat membantu Indonesia mengurangi emisi terkait penggunaan lahan," kata Dr. Murdiyarso.

"Tapi itu juga menunjukkan bahwa kita harus melanjutkan dengan hati-hati untuk memastikan bahwa program regenerasi bibit bakau didasarkan pada kesesuaian hidro -omorfik, daripada menanam untuk kenyamanan di sekitar area konflik tenurial lahan potensial atau habitat yang tidak pantas termasuk lumpur dan pantai." jelasnya lagi. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Tetap Cantik dan Awet Muda dengan Batang Nyirih

Health & Beauty   23 Sep 2020 - 09:22 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: