Ilmuwan Mengungkap Sebab Jutaan Burung Mati di Tepi Samudra Pasifik

TrubusLife
Hernawan Nugroho
19 Jan 2020   20:00 WIB

Komentar
Ilmuwan Mengungkap Sebab Jutaan Burung Mati di Tepi Samudra Pasifik

Saat itu, ilmuwan memperkirakan burung-burung common murre yang ditemukan, meninggal karena kelaparan (gettyimages)

Trubus.id -- Beberapa tahun lalu, ada peristiwa yang menyedihkan. Sekitar satu juta burung laut mati di laut selama kurang dari 12 bulan pada musim panas 2015 hingga musim semi 2016.

Menurut ilmuwan, peristiwa itu merupakan kematian massal terbesar yang pernah dicatat dalam sejarah. Baru-baru ini, ilmuwan mengungkapkan penyebab kematian jutaan burung itu, teman-teman.

Selama sepanjang musim panas 2015 sampai musim semi 2016 yang lalu, jasad burung-burung banyak terbawa ke tepian sepanjang pantai barat Amerika, mulai dari California hingga Alaska.

Burung-burung itu adalah burung common murre, jenis burung laut yang makan ikan. Sekitar 62.000 ekor jasad burung common murre ditemukan di bibir pantai, namun diperkirakan ada satu juta burung yang mati.

Baca Lainnya : Badan Federal Amerika Usulkan Habitat Laut Tertentu untuk Lindungi Paus Bungkuk Pasifik

Saat itu, ilmuwan memperkirakan burung-burung common murre yang ditemukan, meninggal karena kelaparan, dilihat dari fisiknya yang sangat kurus.

Setelah hampir empat tahun berlalu, ilmuwan mengemukakan sebab kematian massal burung common murre ini.

Para ilmuwan menyebut penyebab kematian massal burung common murre itu dengan sebutan “the blob”. The blob adalah area luas air laut yang panas di bagian timur laut Samudra Pasifik.

Area air laut yang panas itu disebabkan oleh adanya gelombang panas yang taerjadi selama bertahun-tahun.

Gelombang panas di laut itu pertama kali terjadi tahun 2013, kemudian semakin parah pada musim panas 2015 karena ada peristiwa El Nino. Gelombang panas itupun terus berlangsung hingga 2016.

(foto: pixabay)

Gelombang panas itu menciptakan the blob yang mencakup area lautan seluas 1.600 kilometer yang menghangat sekitar 3 – 6 derajat Clcius.

Karena ada punggungan bertekanan tinggi yang menenangkan air laut itu, panas pun tetap berada di dalam air dan tidak ada badai yang membantu mendinginkan suhu air.

Baca Lainnya : Burung Afrika yang Memandu Manusia saat Mencari Madu itu Bernama Honeyguide

Meski kelihatannya perubahan suhu itu hanya sedikit, namun dampak yang ditimbulkan pada ekosistem laut sangat besar, teman-teman.

Karena kenaikan suhu air laut itu, ganggang yang ada di sana tidak lagi banyak jumlahnya. Padahal, ganggang atau alga itu menjadi makanan bagi banyak makluk laut, mulai dari udang hingga paus.

Suhu panas justru menyebabkan berkembangnya alga berbahaya di sepanjang tepi barat, yang membuat banyak hewan mati. Selain common murre, hewan lain yang terkena dampak kematian massal itu adalah singa laut, puffin, dan paus baleen.

Menurut ilmuwan, burung common murre bisa mati kelaparan karena area laut yang panas menyebabkan semakin banyak hewan berebut mangsa yang jumlahnya semakin sedikit.

Laut yang memanas menyebabkan kenaikan metabolisme pada ikan pemangsa ikan kecil, misalnya ikan salmon, ikan cod, dan halibut, sehingga mereka jadi makan lebih banyak.

Baca Lainnya : Gara-gara Solar Eclipse, 300.000 Ikan Salmon Migrasi ke Pasifik

Karena ikan kecil habis dikonsumsi oleh ikan-ikan itu, akhirnya burung common murre tidak kebagian dan akhirnya mati kelaparan. Akibatnya, sampai sekarang, jumlah burung common murre belum bisa kembali seperti sedia kala.

Ditambah lagi, area laut yang memanas terbentuk juga di tempat lainnya seperti tepi laut Washington di Amerika dan di pantai timur Selandia Baru. Di Selandia Baru, area air laut yang panas itu sangat luas, sekitar 1 juta kilometer persegi, hingga terlihat dari ruang angkasa.

Menurut ilmuwan, kemunculan area laut yang panas di wilayah yang luas jarang terjadi. Namun akibat perubahan iklim global, fenomena suhu air laut yang panas ini semakin sering terjadi.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: