Terancam Punah, Selandia Baru Upayakan Keselamatan Kakapo, Burung Langka yang Tak Bisa Terbang 

TrubusLife
Syahroni
04 Jan 2020   20:00 WIB

Komentar
Terancam Punah, Selandia Baru Upayakan Keselamatan Kakapo, Burung Langka yang Tak Bisa Terbang 

Burung Kakapo. (Pinterest)

Trubus.id -- Salah satu burung paling langka di dunia, kakapo (Strigopidae), berada di ambang kepunahan. Hanya ditemukan di beberapa cagar alam Selandia Baru, ini adalah satu-satunya burung yang tidak bisa terbang di planet ini. Jumlah populasi saat ini adalah 211, sehingga memicu inisiatif konservasi, terutama karena orang-orang Maori terus menjalin hubungan spiritual yang kuat dengan kakapo, yang namanya diterjemahkan sebagai "kakatua malam." Salah satu inisiatif, misalnya, adalah Predator Free 2050, proyek untuk menghilangkan predator di seluruh hutan belantara Selandia Baru untuk membantu spesies asli berkembang kembali.

Musim perkembangbiakan kakapo tahun 2019 mencatat rekor keberhasilan, menurut Andrew Digby, penasihat sains kakapo Selandia Baru, yang mengatakan, “Antara Januari dan April, anak burung lahir, dimana 70 anak masih hidup.” Meskipun demikian, sembilan kakapo menyerah pada aspergillosis, infeksi pernapasan yang disebabkan oleh jamur di udara.

Yang menarik, manusia belum menghuni Selandia Baru sampai tahun 1200-an. Kakapo tidak terancam, hanya saingan beberapa spesies kelelawar dalam hal makanan. Predator alami mereka adalah burung pemangsa yang bisa mereka hindari, berkat bulu yang sangat berevolusi yang bisa menyamarkan kakapo di lantai hutan.

Semua itu berubah setelah kedatangan orang Polinesia pertama di abad ke-13 dan diperburuk lagi lima abad kemudian, ketika permukiman Eropa dimulai.

Mengutip Inhabitat, Tane Davis dari tim konservasi kakapo suku Maori Ngai Tahu menjelaskan bahwa orang Polinesia awal “memakan kakapo, menggunakan bulu-bulu mereka untuk menenun jubah dan mengukir tulang-tulang mereka ke dalam kail ikan.” Orang-orang Eropa mempercepat kematian kakapo dengan anjing pemburu mereka, kucing, musang Inggris, cerpelai, rusa, tikus dan bahkan posum Australia. Ditambah lagi, pembukaan hutan yang luas, untuk membangun kota dan lahan pertanian, menyebabkan hilangnya habitat ekstrem yang menghancurkan populasi kakapo. Pada 1995, hanya 51 burung yang tersisa, menggembleng upaya konservasi.

Kakapo bahkan lebih rentan karena 40 persen telurnya tidak subur, akibat perkawinan sedarah saat ini. Tingkat keberhasilan kontemporer didorong dengan inseminasi buatan pasangan yang secara genetik cocok dengan yang kompatibel.

Sementara itu, pulau Anchor, Chalky, Hauturu dan Whenua Hou telah dibebaskan dari predator untuk menjadi suaka konservasi kakapo. Drone mentransfer sperma antara tim konservasi yang bekerja di lokasi berbeda. Dua cagar alam kakapo baru sedang direncanakan untuk masa depan.

Langkah-langkah lain yang diambil untuk memastikan tingkat kelangsungan hidup kakapo adalah bahwa setiap induk burung diberikan satu anak untuk dibesarkan, sementara sisanya dibesarkan dengan tangan untuk memastikan nutrisi yang tepat. Demikian juga, semua kakapo dilengkapi dengan pemancar (microchipped) untuk memaksimalkan upaya pelacakan.

Burung-burung itu dipantau dengan cermat karena, jika dibiarkan sendiri, mereka hanya berkembang biak setiap dua hingga empat tahun, bertepatan dengan ketika pohon rimu New Zeland berbuah. Tetapi para konservasionis “menipu” kakapos untuk berkembang biak lebih sering dengan memberi makan makanan tambahan dan menjaga berat burung untuk kesehatan telur yang lebih baik.

Upaya-upaya ini berkontribusi pada musim kawin yang lebih sukses pada tahun 2019 lalu, dan para pelestari lingkungan berharap untuk terus meningkatkan jumlah tersebut untuk menyelamatkan burung langka dan unik ini.

Let’s hope for the best. 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Wabah Belalang yang Menyerang Afrika Sekarang Terjadi di Tiongkok

Plant & Nature   24 Feb 2020 - 11:20 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Makanan Wajib Saat Menderita Flu

Health & Beauty   22 Feb 2020 - 23:15 WIB
Bagikan: