Pasca Tsunami, Bongkahan Besar Gunung Anak Krakatau Kotori Dasar Lautan

TrubusLife
Syahroni
18 Des 2019   20:00 WIB

Komentar
Pasca Tsunami, Bongkahan Besar Gunung Anak Krakatau Kotori Dasar Lautan

Kawah gunung berapi Anak Krakatau sebagian runtuh setelah letusannya dengan bagian-bagiannya meluncur ke laut dan memicu gelombang mematikan. (Doc/ Nurul Hidayat (Bisnis Indonesia) Via AFP)

Trubus.id -- Bongkahan besar gunung berapi di Indonesia mengotori dasar laut setelah letusan dan keruntuhannya tahun lalu memicu tsunami yang mematikan, menurut penelitian baru.

Citra survei kelautan menunjukkan bagian selat antara pulau Jawa dan Sumatra yang ditutupi batu-batu besar berbentuk segitiga dari gunung berapi Anak Krakatau. Beberapa bongkahan bahkan mencapai tinggi 90 meter (295 kaki). Sebagian kawah gunung Anak Karakatau runtuh setelah meletus 22 Desember silam dengan sebagian bongkahan meluncur ke laut dan memicu gelombang mematikan yang menewaskan lebih dari 400 orang dan melukai ribuan lainnya.

Gunung Anak Krakatau muncul di lokasi gunung berapi Krakatau yang legendaris, yang dihancurkan setelah letusan besar-besaran tahun 1883 yang menewaskan sedikitnya 36.000 orang. Bencana tahun 2018 melanda tanpa peringatan, membanjiri pantai-pantai populer dan menyapu hotel-hotel wisata dan komunitas-komunitas pesisir, meninggalkan jejak kematian dan kehancuran setelahnya.

Baca Lainnya : Ilmuan Temukan Cara Tepat Memprediksi di Mana Gunung Berapi akan Meletus Berikutnya

Puing-puing dari gunung berapi menyebar sejauh 2.000 meter dari tempat itu runtuh, menurut penelitian baru yang dipresentasikan pada pertemuan American Geophysical Union di San Francisco minggu lalu.

Menggunakan bathymetry multibeam echosounder, tim internasional termasuk anggota British Geological Survey, National Oceanography Centre dan beberapa universitas AS dan Inggris memetakan dasar laut dengan teknologi sonar.

"Tsunami yang dihasilkan oleh tanah longsor yang sangat kecil dari gunung berapi aktif seperti Anak Krakatau berpotensi menghancurkan garis pantai lokal dan komunitas mereka", terang David Tappin dari British Geological Survey kepada AFP.

Dalam studi tim sebelumnya, yang termasuk pekerjaan oleh Stephan Grilli di University of Rhode Island, dikatakan bencana itu menawarkan pandangan langka pada tsunami yang dipicu oleh letusan gunung berapi, daripada gempa bumi bawah laut yang lebih umum.

Tsunami 2018 adalah bencana alam besar ketiga di Indonesia dalam enam bulan. Ini mengikuti serangkaian gempa kuat di pulau Lombok dan tsunami yang dipicu gempa pada bulan September yang menewaskan sekitar 2.200 orang di Palu di pulau Sulawesi, dengan ribuan lainnya hilang dan diperkirakan tewas.

Baca Lainnya : Gunung Berapi Purba Dapatkah Aktif Kembali?

"Peristiwa ini benar-benar menunjukkan bahaya yang sangat nyata dari mekanisme tsunami non-seismik, dan bersama dengan tsunami Palu September 2018, harus menjadi katalisator untuk meningkatkan peringatan dan mitigasi dari peristiwa-peristiwa ini," kata Tappin.

Minggu depan menandai peringatan 15 tahun tsunami Boxing Day 2004, yang menewaskan sekitar 220.000 orang di negara-negara di sekitar Samudra Hindia, mayoritas di Aceh, Indonesia.

Tsunami itu — salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah — dihasilkan oleh gempa dahsyat berkekuatan 9,3 skala Richter yang melanda laut lepas pantai Sumatra.

Indonesia yang dihiasi dengan gunung berapi, kepulauan Asia Tenggara yang luas, adalah salah satu negara yang paling terpukul bencana di Bumi karena posisinya dikelilingi Cincin Api Pasifik, tempat lempeng tektonik bertabrakan. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: