30 Tahun Dianggap Punah, Rusa Vietnam Tiba-tiba Unjuk Gigi di Depan Kamera

TrubusLife
Syahroni
13 Nov 2019   20:30 WIB

Komentar
30 Tahun Dianggap Punah, Rusa Vietnam Tiba-tiba Unjuk Gigi di Depan Kamera

Sebuah gambar diam dari kamera jarak jauh menangkap gambat Chevrotain punggung Perak di hutan yang berada di Vietnam tengah. (Doc/ AFP)

Trubus.id -- Spesies hewan kecil seperti rusa yang sangat langka yang diperkirakan berada di ambang kepunahan telah ditemukan di hutan barat laut Vietnam untuk pertama kalinya dalam hampir 30 tahun.

Dikenal sebagai Chevrotain atau Rusa Tikus Punggung Perak, spesimen terakhir tercatat pada tahun 1990, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan Senin (11/11) di jurnal Nature Ecology and Evolution.

Spesies itu, Tragulus versicolor, pertama kali dideskripsikan pada tahun 1910 berdasarkan pada beberapa binatang yang ditemukan di dekat Nha Trang, sekitar 450 kilometer (280 mil) timur laut dari Kota Ho Chi Minh. Dengan tidak adanya penampakan yang dikonfirmasi sejak 1990, para ahli berasumsi spesies itu pasti telah terdorong ke jurang kepunahan karena perburuan.

Namun ahli biologi Vietnam, An Nguyen, yang bekerja dengan Pelestarian Satwa Liar Global dan merupakan mahasiswa PhD di Institut Leibnitze untuk Penelitian Kebun Binatang dan Satwa Liar, telah bertanya-tanya selama bertahun-tahun apakah Chevrotain punggung perak mungkin masih bertahan di suatu tempat.

Bekerja dengan kolega Barney Long dan Andrew Tilker, para ahli berkumpul dengan penduduk desa setempat untuk menyaring penampakan yang dilaporkan. Beberapa cukup konsisten dengan menyebut kalau Chevrotain punggung perak masih ada. Mereka kemudian memasang lebih dari 30 kamera yang diaktifkan oleh gerakan di habitat hutan terdekat.

"Hasilnya luar biasa. Saya sangat gembira ketika kami memeriksa jebakan kamera dan melihat foto chevrotain punggung perak," kata Nguyen seperti dilansir dari AFP.

Namun Tilker mengingatkan dalam sebuah posting blog bahwa "hanya karena kami menemukan spesies ini relatif mudah tidak berarti itu tidak terancam".

Hutan-hutan di Asia Tenggara berada di bawah tekanan luar biasa dari pertumbuhan populasi dan pembangunan "jadi kita perlu maju dari kurva" pada konservasi, tambah Tilker.

Pada bulan Mei, badan pakar keanekaragaman hayati Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang dikenal sebagai IPBES, mengeluarkan laporan penting yang memperingatkan bahwa hingga satu juta spesies menghadapi risiko kepunahan karena dampak kemanusiaan terhadap planet ini. [RN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Rambut Rontok Terus? Cermati Beberapa Penyebabnya

Health & Beauty   06 Des 2019 - 11:53 WIB
Bagikan:          

Peneliti Temukan Kaldu Sup Tradisional Rumahan Mampu Lawan Malaria?

Health & Beauty   06 Des 2019 - 07:42 WIB
Bagikan:          
Bagikan: