Sejarah Terbentuknya Tempat Sandboarding, Gumuk Pasir Parangkusumo di Yogyakarta

TrubusLife
Hernawan Nugroho
13 Nov 2019   18:00 WIB

Komentar
Sejarah Terbentuknya Tempat Sandboarding,  Gumuk Pasir Parangkusumo di Yogyakarta

Fenomena alam gumuk pasir di Parangtritis merupakan satu-satunya di Asia dan kini menjadi wisata alam yang ramai dikunjungi wisatawan saat hari libur tiba (travelingyuk)

Trubus.id -- Gumuk pasir atau sand dunes merupakan salah satu fenomena alam yang terdapat di pesisir pantai Parangtritis dan Parangkusumo. Fenomena alam gumuk pasir di Parangtritis merupakan satu-satunya di Asia dan kini menjadi wisata alam yang ramai dikunjungi wisatawan saat hari libur tiba. Terutama yang terbaru adalah untuk sandboarding.

Gumuk pasir merupakan hasil dari erosi angin (eolian) dan hingga saat ini terus berlangsung. 

Gumuk pasit di Parangtritis bertipe Barchan atau berbentuk bulan sabit. Kalau mau ke gumuk pasir ini sebaiknya datang sore hari karena kalau siang sangat panas. Bagaimana bisa di Parangtritis terbentuk gumuk pasir yang begitu banyak? Ini dia sejarah terbentuknya gumuk pasir Parangtritis.

Baca Lainnya : Nikmati Sandboarding di Pantai Selatan Pulau Jawa, Hanya Dua Lokasi di Dunia

Menurut laman GeoMagz Gumuk pasir Parangkusumo Bantul, pada dasarnya bisa terbentuk karena syarat berikut terpenuhi:

  1. adanya pasokan material pasir yang banyak
  2. morfologi pantai landai
  3. adanya arus angin yang kuat untuk menerbangkan butiran pasir
  4. musim kemarau dan hujan sangat tegas berbeda
  5. perbedaan pasang naik dan surut cukup besar

Pasir berasal dari material vulkanis gunung Merapi (Foto: googlemaps)

Awal mula dahulu Gunung Merapi mengalami erupsi besar yang memuntahkan material vulkanik berupa debu, pasir, lahar panas dan dingin, batu dan lainnya. Material tersebut terbawa oleh sungai yang berhulu di Merapi. Semua aliran lalu menuju sungai Opak yang bisa anda lihat ketika melintasi jembatan panjang sebelum masuk gerbang Parangtritis. Jadi pasir di Parangtritis itu dari Merapi asalnya. Kita bisa lihat warna pasir pantainya hitam bukan?. Itu tandanya pasir tersebut berasal dari endapan vulkanik beda dengan pasir pantai lain yang putih, pink atau lainnya. Jadi pasir pantai tidak sama di semua tempat. 

Endapan pasir Merapi lalu terbawa menuju pantai selatan. Sesampainya di muara, material endapan tersebut dihadang ombak besar pantai selatan sehingga menjadi butiran pasir halus yang bisa diterbangkan angin dari laut. Ukuran pasir berkisar hingga 0,02 mikron. 

Gelombang laut kemudian menggerakan pasir ke tepian pantai. Setelah sampai tepi pantai, pasir yang basah lalu mengering  kehilangan berat karena panas matahari dan terhempas angin menuju daratan. 

Baca Lainnya : Pantai Sadranan Gunungkidul, Tempat Snorkling Baru di Yogyakarta

Pasir terus-menerus terbawa angin dan mengendap di daratan dan terbentuklah gundukan pasir. Gundukan inilah yang menjadi gumuk pasir. Gumuk pasir di Parangtritis berarah sesuai hembusan angin. Adanya pegunungan karst di timur membuat angin dari arah tenggara lebih kuat sehingga pola gumuk pasir cenderung menghadap ke tenggara.

Erosi angin di Parangtritis sangat kuat dan bisa menghancurkan bangunan di sekitar pantai. Ekosistem gumuk pasir sangat unik dan menjadi salah satu lokasi ekowisata yang ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Apalagi di sana kini dibangun Laboratorium Geospasial yang dibuka untuk umum. Vegetasi yang umum dijumpai di daerah gumuk pasir ini adalah Cemara Udang. 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Rambut Rontok Terus? Cermati Beberapa Penyebabnya

Health & Beauty   06 Des 2019 - 11:53 WIB
Bagikan:          

Peneliti Temukan Kaldu Sup Tradisional Rumahan Mampu Lawan Malaria?

Health & Beauty   06 Des 2019 - 07:42 WIB
Bagikan:          
Bagikan: