Sakit Perut Setelah Minum Susu, Mengapa Bisa Terjadi?

TrubusLife
Hernawan Nugroho
30 Sep 2019   14:30 WIB

Komentar
Sakit Perut Setelah Minum Susu, Mengapa Bisa Terjadi?

Susu menyebabkan gangguan pencernaan pada beberapa orang dengan kondisi khusus (gettyimages)

Trubus.id -- Susu merupakan asupan sehat karena mengandung banyak zat gizi penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Namun sayang, minuman yang identik dengan warna putih ini tak bisa dikonsumsi sembarangan, lantaran dapat menyebabkan sakit perutpada beberapa orang, Trubus Mania. Ya, susu memang dapat menyebabkan keluhan sakit perut bila dikonsumsi oleh golongan orang tertentu. Keadaan ini terjadi akibat adanya kondisi medis yang dikenal dengan sebutan intoleransi laktosa.

Apa itu intoleransi laktosa? Laman HealthToday mengatakan Intoleransi laktosa adalah keadaan dimana tubuh seseorang tidak memiliki jumlah enzim laktase yang cukup. Oleh karena itu, tubuhnya tak mampu memecah laktosa (gula dalam susu) menjadi glukosa dan galaktosa, sehingga kedua zat tersebut tetap berada di saluran cerna.

Baca Lainnya : Susu Kayu Manis, Solusi Menurunkan Berat Badan dan Kulit Lebih Sehat

Di usus besar, laktosa yang tidak dipecah akan bercampur dengan bakteri dan mengalami proses fermentasi. Alhasil, keluhan perut kembung, diare, dan nyeri perut tak bisa dihindari lagi. Gejala intoleransi laktosa biasanya muncul dalam rentang 2 jam setelah minum susu.

Intoleransi laktosa berbeda dengan alergi susu sapi. Ini karena alergi susu sapi disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap protein di dalam susu. Pada kasus alergi susu sapi, gejalanya berupa kemerahan di kulit, gatal, dan sesak napas. Semua gejala tersebut benar-benar berbeda dari gejala intoleransi laktosa.

Jika Trubus Mania alergi pada susu sapi, sedikit saja susu sapi yang tertelan sudah bisa menimbulkan reaksi. Sedangkan pada sebagian besar orang yang mengalami intoleransi laktosa, mengonsumsi produk yang mengandung laktosa seperti susu sapi dalam jumlah kecil mungkin tidak menimbulkan keluhan apa-apa. Meski demikian, hal ini tentu bervariasi antar masing-masing individu.

(foto: shutterstock)

Kehadiran intoleransi laktosa dapat dideteksi dengan melakukan challenge test, sebagai berikut:

  1. Hentikan konsumsi susu dan segala jenis produk olahannya selama minimal 7 hari hingga beberapa minggu.
  2. Jika tubuh terasa normal atau tidak mengalami keluhan apa-apa, cobalah untuk mengonsumsi susu sapi atau produk olahannya.
  3. Jika muncul keluhan sakit perut, diare, atau gangguan saluran cerna lainnya, maka kemungkinan besar Anda mengalami intoleransi laktosa.

Selain challenge test, pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kehadiran intoleransi laktosa adalah tes bernapas. Saat melakukan tes ini, Anda hanya perlu bernapas seperti biasa. Jika terdapat jumlah hidrogen yang tinggi saat mengembuskan napas, maka kemungkinan besar Anda mengalami intoleransi laktosa. Hal ini karena hidrogen diperlukan dalam proses pemecahan laktosa di saluran cerna. Jadi, jika tidak ada laktosa yang dicerna, hidrogen akan dibawa ke paru dan diembuskan ke luar tubuh.

Baca Lainnya : Perbedaan 5 Jenis Susu dan Proses Pembuatannya

Adakah solusi intoleransi laktosa?

Seseorang yang mengalami intoleransi laktosa sebenarnya tidak dilarang minum susu. Karena pada beberapa kasus, intoleransi laktosa merupakan keluhan sementara (atau selamanya) tergantung dari penyebab utamanya. Sebagian besar kasus intoleransi laktosa yang muncul pada usia dewasa bersifat genetik dan berlangsung seumur hidup. Sedangkan pada anak-anak, intoleransi laktosa dapat terjadi akibat infeksi saluran cerna dan hanya bertahan beberapa minggu saja. Namun, jika Trubus Mania benar-benar ragu akan hal ini dan tak ingin mengalami sakit perut setelah minum susu, pilihlah susu yang bebas kandungan laktosa. [NN]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: