Ilmuan Temukan Spesies Cacing Baru yang Miliki 6 Kelamin, Ini Kelebihannya

TrubusLife
Syahroni
28 Sep 2019   10:00 WIB

Komentar
Ilmuan Temukan Spesies Cacing Baru yang Miliki 6 Kelamin, Ini Kelebihannya

Spesies cacing baru ini dapat memberi petunjuk kepada para ilmuwan tentang bagaimana manusia dapat menahan kadar arsenik yang tinggi, menurut sebuah studi baru. (Doc/ Caltech)

Trubus.id -- Para peneliti menemukan spesies baru cacing yang sangat berbeda dengan spesies-spesies sebelumnya. Spesies cacing ini memiliki tiga jenis kelamin yang berbeda, dapat bertahan 500 kali lipat dosis arsenik yang diperlukan untuk membunuh manusia dan menjaga anak-anaknya dalam kantong, meski tidak seperti kangguru.

Para peneliti berpikir manusia mungkin memiliki sesuatu untuk dipelajari dari ketahanan spesies cacing baru ini. 

Adalah para peneliti dari Caltech yang menemukan spesies cacing baru itu. Mereka menemukan delapan spesies cacing yang hidup di Danau Mono yang kaya arsenik di California. Tim mempublikasikan temuannya pada hari Kamis (27/9) di jurnal Current Biology.

Danau Mono tiga kali lebih asin daripada Samudra Pasifik - begitu asin, kata para peneliti, bahwa hanya dua spesies lain yang pernah hidup di dalamnya: udang air asin dan lalat selam. Namun itu semua diketahui sebelum mereka menemukan cacing ini.

Biologi cacing bisa menjadi kunci bagi manusia

Kedelapan cacing itu unik - ada yang predator, ada yang parasit. Lainnya tidak ada pada mikroba di danau. Tapi mereka semua ekstrofil - organisme yang tumbuh subur dalam kondisi parah yang tidak bisa bertahan di sebagian besar spesies.

Danau California hanyalah salah satu dari beberapa lokasi ekstrem di mana para peneliti telah melihat nematoda, yang termasuk dalam delapan spesies cacing. Mereka bertahan hidup di dasar lautan, tundra Antartika dan bahkan di bawah permukaan bumi.

Nematoda, para peneliti berpendapat, mungkin secara genetik cenderung berkembang dalam kondisi ekstrem. Belajar lebih banyak tentang faktor-faktor yang membuat mereka tetap hidup di lingkungan yang keras dapat menyebabkan terobosan dalam kesehatan manusia, kata para peneliti.

Arsenik, racun yang muncul secara alami di kerak bumi, merembes ke sumber air di seluruh dunia dan dapat meracuni mereka yang meminumnya ketika levelnya tinggi. Jadi memahami biologi di balik cacing baja ini dapat membantu para peneliti memahami bagaimana racun mempengaruhi tubuh manusia, kata rekan penulis James Siho Lee dalam sebuah pernyataan dilansir dari CNN.

"Inovasi berikutnya untuk bioteknologi bisa saja ada di alam liar. Kita harus melindungi dan memanfaatkan satwa liar dengan bertanggung jawab," katanya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: