Rahasia Dibalik Fenomena Angin Tornado Kepulauan Seribu

TrubusLife
Trubus Life
24 Okt 2017   10:30 WIB

Komentar
Rahasia Dibalik Fenomena Angin Tornado Kepulauan Seribu

Angin tornado terjadi di Kepulauan Seribu. (Foto: Instagram/ @jktinfo)

Trubus.id -- Melihat kejadian angin tornado kemarin (23/10/2017) di Kepulauan Seribu, Jakarta, rasanya agak aneh. Sebagai negara tropis, sejatinya Indonesia sangat jarang mengalami fenomena alam tersebut. 

Angin tornado yang terjadi kemarin di Kepulauan Seribu, dapat disebut sebagai fenomena alam yang langka. Tidak ada korban jiwa akibat peristiwa itu lantaran angin tornado terjadi di pulau yang tidak berpenduduk, dekat dengan Pulau Opak dan Pulau Kaliage.

Hary Tirto Djatmiko, ST selaku Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menjelaskan, fenomena angin tornado skala kecil atau puting beliung sangat rentan terjadi saat masa transisi atau pancaroba. Baik itu pancaroba dari musim panas ke musim hujan ataupun sebaliknya, dari musim hujan ke musim panas.

Hary juga menjelaskan, sehari sebelum angin tornado terjadi di Kepulauan Seribu, cuaca sangat panas dan kering. Hal ini disebabkan radiasi matahari yang cukup kuat. Terjadi perbedaan suhu antara jam tujuh dan sepuluh pagi yang sangat mencolok, sekitar 4,5 derajat.

Fenomena alam tersebut membuat langit membentuk awan abu-abu dan hitam yang menjulang tinggi. Disebut awan Cb (Cumulonimbus). Jika selama tiga hari tidak terjadi hujan selama masa pancaroba, diperkirakan akan muncul hujan lebat disertai angin kencang. Berpotensi terjadinya angin tornado skala kecil atau puting beliung.

Melihat kejadian seperti itu di Kepulauan Seribu, sebaiknya kita melakukan antisipasi jika angin tornado datang. Beberapa hal utama terkait pencegahan adalah menebang pohon yang besar dan rimbun serta memperkokoh bangunan rumah. [DF]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: