Kabut Asap Musuh Paru-Paru, Ini Gejala yang Ditimbulkan

TrubusLife
Hernawan Nugroho | Followers 0
16 Sep 2019   14:00

Komentar
Kabut Asap Musuh Paru-Paru, Ini Gejala yang Ditimbulkan

Meluasnya dampak kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan memaksa masyarakat membatasi aktivitasnya demi kesehatan (Antaranews)

Trubus.id -- Tahun ini kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di Indonesia. Umumnya, kejadian ini muncul pada saat musim kemarau tiba. Lagi-lagi negeri ini menjadi "pengekspor" asap ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Ketika asap itu sampai di aderah perkotaan, maka ia akan menjadi kabut asap. Sebenarnya, banyak hal yang bisa memicu kemunculan kabut antara lain asap kendaraan bermotor dan industri.

Dalam laman U.S. Environmental Protection Agency atau Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), Kabut asap merupakan jenis polusi udara yang dihasilkan dari campuran beberapa gas dan partikel yang bereaksi dengan sinar matahari. Gas-gas yang terlibat dalam proses ini adalah karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO2), sulfur oksida (SO2), senyawa organik volatil (VOC), dan ozon. Sementara itu, partikel-partikel yang terdapat dalam kabut asap adalah asap itu sendiri, debu, pasir, dan serbuk sari.

Baca Lainnya : Penyakit Kanker, Pembunuh Nomor Satu Pemadam Kebakaran

Seberapa Bahaya Kabut Asap itu? Berikut ini penjelasannya menurut Health.

1. Susah bernapas dan kerusakan paru-paru

Tingginya konsentrasi asap di udara akan membuat kita sulit bernapas dan dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Hal ini terutama menimpa mereka yang banyak beraktivitas di ruangan terbuka. Penelitian menunjukkan bahwa menghirup kabut asap ini dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit paru-paru seperti infeksi paru-paru terutama pada anak-anak, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan kanker paru-paru.

2. Batuk dan iritasi tenggorokan

Saat terkena paparan asap, seseorang dapat mengalami batuk dan iritasi tenggorokan. Umumnya keluhan ini berlangsung selama beberapa jam. Namun, efeknya bagi sistem pernapasan manusia bisa berlangsung lama walau gejala sudah menghilang.

3. Memperburuk gejala penyakit paru-paru

Penyakit asma dan PPOK berisiko menjadi semakin parah jika menghirup kabut asap. Penelitian di Thailand menunjukkan bahwa pada musim kabut asap, jumlah kunjungan di unit gawat darurat terkait kambuhnya gejala penyakit asma dan PPOK turut meningkat. Hal ini dikarenakan zat yang terkandung dalam kabut asap bersifat iritatif dan dapat membuat paru-paru meradang.

Gangguan paru-paru biasanya ditandai dengan kesulitan dalam bernafas atau rasa sesak di bagian dada (foto: Health)

4. Berdampak kepada fungsi jantung

Partikel-partikel yang ada dalam kabut asap berisiko menginfiltrasi aliran darah manusia sehingga dapat berakibat buruk bagi jantung. Hal ini terjadi karena partikel dalam kabut asap biasanya sangat kecil, yaitu kurang dari 10 mikrometer. Makin kecil ukuran partikel, maka makin besar risiko yang bisa ditimbulkan. Penelitian juga menunjukkan bahwa paparan kabut asap dalam jangka panjang berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit jantung koroner dan penumpukan plak pada pembuluh darah. Hal ini diduga berkaitan dengan proses peradangan yang muncul karena paparan partikel di dalam kabut asap.

5. Buruk untuk mata

Efek buruk kabut asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata, akibat debu dan zat iritatif di dalam kabut asap. Untuk itu, sediakan obat tetes mata dan jangan lupa gunakan kacamata jika bepergian ke luar rumah.

Baca Lainnya : Benarkah Polusi Asap Bikin Pria Mandul?

6. Berisiko terkena kanker paru-paru

Tentang masalah ini, Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Persahabatan Agus Dwi Susanto mengatakan kepada AntaraNews, secara teori bisa terjadi penurunan fungsi paru-paru jika teriritasi terus-menerus karena terpapar zat berbahaya. Selain itu, dalam kabut asap mengandung partikel m10 yang bersifat karsinogen. "Karsinogen itu bahan yang berpotensi kanker. Artinya orang yang terpajan karsinogen bisa berisiko.

Agus menjelaskan, untuk menjadi kanker paru butuh paparan karsinogen dalam waktu bertahun-tahun dan terjadi secara kontinyu seperti pada seorang perokok. Sedangkan dalam kasus kabut asap, warga tentunya tak lagi terpapar karsinogen jika bencana kabut asap berakhir. Meskipun, tubuh memiliki kemampuan untuk membersihkan ketika kembali menghirup udara segar. Namun, itu akan sangat terganggu saat udara tercemar parah selama berhari-hari.

 "Secara fisiologi, sebenarnya tubuh punya kemampuan untuk membersihkan. Kalau orang-orang menghirup udara kotor, besoknya (menghirup) udara bersih, maka pembersihan tubuh akan bekerja. tetapi itu sulit dilakukan di lingkungan penuh pousi udara," jelas Agus. Meski belum ada data di Indonesia, penelitian di luar negeri mengungkapkan terjadinya kematian dini pada 1.000-2000 orang per tahun akibat sering terpapar polusi udara. [NN]


 

  1


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Fransiska Lie 16 Sep 2019 - 14:10

permisi ya mau numpang promosi bo kelinci99 silahkan kunjungi WWWoKELINCIPOKER99oME

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: