Irigasi Tetes, Solusi Cerdas yang Terbukti Mengubah Gurun Pasir Menjadi Perkebunan Subur

TrubusLife
Hernawan Nugroho
11 Sep 2019   16:00 WIB

Komentar
Irigasi Tetes, Solusi Cerdas yang Terbukti Mengubah Gurun Pasir Menjadi Perkebunan Subur

Setetes demi setetes, tepat sesuai kebutuhan tanaman dan hemat air (Amazon)

Trubus.id -- Irigasi tetes atau drip irigation kini bukan hal asing bagi pehobi tanaman buah dan tanaman hias. Teknologi spektakuler ternyata berasal dari sebuah hal yang tidak disengaja, tidak direncanakan. Ini dia kisah muasal dan kesuksesan dari sistem irigasi tetesan khas Israel yang terkenal di seluruh dunia ini.

Menurut laman Cozer, pada tahun 1930an, di tengah-tengah gurun Negev, insinyur air Israel, Simcha Blass, membuat sebuah penemuan penting. Ia memperhatikan bahwa satu pohon di tanahnya tampaknya bertumbuh lebih cepat daripada tanaman di sekitarnya. Alasannya? Ternyata ada pipa air yang bocor dekat pohon tersebut sehingga mengairi tanah di sekitarnya, setetes demi setetes. Blass mulai bereksperimen dan akhirnya berhasil menciptakan sistem irigasi tetesan.

Baca Lainnya : Jika Irigasi Tidak Diperbaiki, Jutaan Ikan di Australia Mati dalam Enam Bulan

Konsepnya sederhana. Alih-alih menggunakan sistem alat penyiram biasa yang membasahi seluruh bidang tanah tanpa pandang bulu, sistem irigasi tetesan melepaskan air ke dalam tanah setetes demi setetes, hanya di tempat di mana dibutuhkan. Di tahun 1959, Blass memperkenalkan model pertama – selang plastik yang dilubangi dengan beberapa lubang kecil – dan meminta sebuah kibbutz untuk memproduksi dan mendistribusikannya.

Enam tahun kemudian, perusahaan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertahian memperkenalkan irigasi tetesan volume rendah kepada seluruh dunia. Saat ini sistem ini digunakan di lebih dari ratusan negara, termasuk di negara-negara seperti Peru, Senegal, Mesir, Rusia, Meksiko dan Amerika Serikat. Alasan kesuksesannya adalah karena dibandingkan dengan sistem penyiraman biasa, sistem irigasi tetes menggunakan hanya setengah dari jumlah air yang digunakan alat penyiraman biasa.

Israel berhasil mengubah gurun menjadi lahan perkebunan yang subur (foto: Netafim)

Keandalan teknologi itu teruji saat terjadi kekeringan di Israel tahun 1990-1991. Pasokan air bagi petani dikurangi sebanyak lebih dari 50 persen untuk mengatasi kekurangan air, dan walaupun para petani pada jangka pendek terdampak secara negatif, mereka berhasil beradaptasi melalui investasi yang substantif dalam teknologi irigasi tetes yang terkomputerisasi sehingga menurunkan kebutuhan air mereka dalam jangka panjang. Jadi, misalnya, antara tahun 2000-2005, sektor buah-buahan – walaupun mengalami pengurangan pasokan air sebanyak rata-rata 35 persen – mengalami kenaikan produksi sejumlah 42 persen.

Dr. Daniel Hillel, seorang ilmuwan air dan tanah Israel serta anggota pendiri kibbutz Sde Boker di gurun Negev, menerima penghargaan World Food Prize 2012 berkat penelitian perintisnya dalam pengembangan teknik irigasi tetes. Penghargaan ini diberikan kepada pribadi yang telah berkontribusi dalam kemajuan perkembangan manusia dengan memperbaiki kualitas, kuantitas atau ketersediaan pangan bagi dunia. Ia berkolaborasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia untuk menerapkan dan menyebarkan metode irigasi yang lebih baik.

Baca Lainnya : Antisipasi Kekeringan di Masa Depan, Prancis Mulai Perketat Penggunaan Air Tanah

Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal, ia menjelaskan bahwa teknologi ini harus terus diinovasi dan disesuaikan dengan jenis panen. Misalnya, teknologi irigasi tenaga surya kini telah dikembangkan. Dan bahan pipa plastik yang digunakan dalam sistem terkadang diganti dengan keramik, karena lebih berpori. Irigasi tetes bisa dibilang telah menjadi inovasi dunia di bidang pertanian yang paling berharga. Petani semakin menyadari betapa berharganya sumber daya air, dan bagaimana penggunaan dan pengelolaan air secara efisien dapat membantu pertanian, dan bagaimana teknologi irigasi tetes dapat berdampak positif bagi masyarakat secara umum. Irigasi tetes telah, dan akan terus memberi manfaat bagi pangan dunia.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Penangkapan Ikan Besar-besaran Ganggu Rantai Makanan di Laut Bohai

Plant & Nature   14 Nov 2019 - 20:52 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: