Populasi Anoa dan Babirusa di Alam Liar Mengalami Penurunan

TrubusLife
Hernawan Nugroho | Followers 0
10 Sep 2019   10:00

Komentar
Populasi Anoa dan Babirusa di Alam Liar Mengalami Penurunan

Anoa kini terancam punah (istimewa)

Trubus.id -- Indonesia memiliki berbagai satwa endemik atau satwa khas suatu daerah, contohnya komodo dari Pulau Komodo. Sedangkan dari Sulawesi, ada anoa dan babirusa yang menjadi hewan endemik.

Namun sayangnya saat ini populasi dua hewan endemik ini menurun, Trubus Mania. Hal ini dilaporkan dari pengamatan yang dilakukan oleh tim dari Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Jadi, saat ini, ada berapa jumlah anoa dan babirusa yang tersisa? Berikut ini keterangan yang dikutip dari laman Sultraprov.

Baca Lainnya : Naruto, Monyet Sulawesi jadi

Pihak Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu atau BBTNLL ternyata sudah melakukan pengamatan terhadap jumlah anoa dan babirusa sejak tahun 2014. Dari pengamatan yang dilakukan sampai tahun 2018, tercatat kalau populasi dua jenis hewan ini mengalami penurunan. Penurunan jumlah anoa dan babirusa ini dianggap mengkhawatirkan, karena kepunahan bisa terjadi terhadap dua jenis hewan endemik Sulawesi Tengah ini.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dan data dari tahun 2013, anoa yang ada di sekitar Taman Nasional Lore Lindu ternyata mengalami penurunan cukup banyak. Jumlah anoa yang tercatat tahun 2018 ternyata menurun sebanyak 87 persen dibandingkan dari data yang didapatkan pada 2013 lalu.

Akibatnya, saat ini hanya ada sekitar sepuluh ekor anoa saja di kawasan endemik atau habitat anoa. Jumlah babirusa juga menunjukkan mengalami penurunan, meskipun tidak sebanyak anoa. Dari data yang didapatkan pada 2013, jumlah babirusa di kawasan taman nasional berjumlah 74 ekor. Namun pada 2018, jumlah atau populasi babirusa yang tercatat hanya ada 41 ekor saja, teman-teman. Jumlah ini menunjukkan kalau dalam lima tahun, jumlah babirusa menurun sebanyak 44 persen.

Anoa dibagi menjadi dua jenis, yaitu anoa dataran rendah dan anoa pegunungan. Perbedaan kedua jenis anoa ini terletak pada warna bulu dan tanduknya, yaitu anoa dataran rendah punya bulu yang agak kehitaman dengan tanduk melingkar seperti kerbau.

Sedangkan anoa pegunungan memiliki bulu berwarna agak cokelat dan tanduk yang kasar dengan penampang seperti segitiga. Sayangnya anoa menjadi langka dan terancam punah karena banyak diburu untuk diambil daging, kulit, dan tanduknya.

Baca Lainnya : Pasca Bencana, Kini Sulawesi Tengah Fokus Tambah Areal Tanam Pajale

Taring melengkung di sekitar mulut menjadi ciri khas babirusa (foto: Sultraprov)

Tidak hanya anoa saja yang menjadi hewan endemik Sulawesi, tapi juga hewan bernama babirusa. Babirusa masih satu keluarga dengan babi hutan. Bentuk babirusa dengan babi hutan sangat mirip, tapi babirusa memiliki taring yang melengkung di dekat mulutnya.

Untuk mendapatkan makanan, biasanya babirusa akan mencari makanan di malam hari dan makan apa saja, mulai dari dedaunan, buah-buahan, larva, hingga jamur. Babirusa menjadi hewan endemik Sulawesi yang sejak 1996 termasuk sebagai hewan dilindungi karena populasinya yang semakin berkurang disebabkan oleh perburuan liar dan kerusakan hutan.

Selain itu, babirusa juga termasuk hewan yang lama dalam berkembangbiak. Dalam setahun, induk babirusa hanya bisa melahirkan satu atau dua ekor anak babirusa saja. Akibatnya jumlah babirusa tidak bisa bertambah dengan cepat.

  1


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Cindy Tanaka 10 Sep 2019 - 14:35

permisi ya mau numpang promosi bo kelinci99 silahkan kunjungi WWWoKELINCIPOKER99oME

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: