Hutan Tropis, Gudang Tanaman Penyembuh yang Terancam Punah

TrubusLife
Hernawan Nugroho
13 Agu 2019   15:00 WIB

Komentar
Hutan Tropis, Gudang Tanaman Penyembuh yang Terancam Punah

Musnahnya hutan di Kalimantan berarti makin kecilnya peluang pengembangan obat-obatan berbasis hayati (WWF)

Trubus.id -- Menurut laporan World Wild Life Fund for Nature (WWF) yang baru, tumbuhan yang berpotensi mengobati atau menyembuhkan penyakit seperti kanker, AIDS, dan malaria telah ditemukan di hutan-hutan di jantung Kalimantan. Namun organisasi konservasi global itu mengatakan, harta karun medis ini terancam dan menyerukan perlindungan jangka panjangnya. 

Para ilmuwan saat ini sedang menguji sampel yang dikumpulkan di negara bagian Sabah dan Sarawak, Malaysia, serta di Kalimantan, bagian Indonesia dari Kalimantan. Mereka berharap dapat mengembangkan obat-obatan yang dapat berkontribusi pada pengobatan penyakit manusia yang mematikan. 

Baca Lainnya : Miris, Hutan Sumatra Salah Satu Warisan Dunia Terancam Punah

Semakin banyak perusakan hutan dapat memperkecil kesempatan para ahli farmasi untuk menemukan dan mengembangkan sumber potensial obat yang menyelamatkan jiwa. Para ilmuwan juga menemukan bahan kimia unik dalam lateks yang diproduksi oleh pohon bintangor. Senyawa, Calanolide A, tampaknya efektif terhadap replikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV), serta bakteri tuberkulosis, yang mempengaruhi banyak pasien AIDS.

Penemuan ini sangat penting karena, sampai saat ini, belum ada satu pun obat yang dapat mengobati HIV dan TB. Jika terbukti secara klinis, Calanolide A bisa menjadi perkembangan utama bagi kesehatan jutaan orang di seluruh dunia. Laporan lebih lanjut mengatakan bahwa para peneliti menemukan agen anti-malaria yang kuat dan sebelumnya tidak dikenal di kulit pohon lokal yang secara tradisional digunakan oleh masyarakat Kenyah di Kalimantan untuk mengobati malaria.

Zat tersebut tampaknya membunuh parasit malaria manusia Plasmodium falciparum dalam tes laboratorium. Masih menurut WWF, 422 spesies tanaman baru telah ditemukan di Kalimantan dalam 25 tahun terakhir, dan banyak spesies lain sedang menunggu untuk ditemukan dan dipelajari, beberapa dari mereka dapat memiliki properti medis yang berpotensi penting. Namun, organisasi konservasi global memperingatkan bahwa semua penemuan yang menjanjikan ini pada akhirnya akan hilang jika hutan hujan Kalimantan yang hilang tidak dilindungi secara memadai.

Hutan hujan tropis merupakan gudangnya tumbuhan berkhasiat obat penyakit-penyakit berat (Foto: Gettyimages)

Butuh waktu lama sebelum zat yang ditemukan dalam tanaman dapat dikembangkan sebagai obat yang efisien dan digunakan oleh dokter. Ratusan tanaman telah disaring, puluhan senyawa telah diidentifikasi, tetapi hanya beberapa dari mereka yang sekarang diuji secara klinis. Masyarakat adat seperti Dayak Kenyah juga berpotensi mendapat manfaat dari pengembangan obat-obatan berdasarkan pengetahuan tradisional mereka.

Baca Lainnya : Deforestasi di Hutan Amazon Capai Titik Kritis

Konvensi Keanekaragaman Hayati, di mana Indonesia dan Malaysia merupakan pihak kedua, menetapkan bahwa masyarakat adat harus menyetujui penggunaan pengetahuan tradisional mereka dan bahwa setiap manfaat dari penggunaannya harus dibagikan secara adil kepada mereka. Konvensi ini juga mengakui hak kedaulatan Negara atas sumber daya genetik mereka sehingga pengembangan obat-obatan atau penggunaan lain tunduk pada hukum negara asal.

Saat ini, hanya setengah dari tutupan hutan Kalimantan yang tersisa, turun dari 75 persen pada pertengahan 1980-an. Tetapi tiga pemerintah di Pulau Kalimantan -Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia- telah meluncurkan inisiatif Heart of Borneo, yang bertujuan untuk melestarikan sekitar 220.000 km2 hutan ekuatorial dan berbagai spesies satwa liar. Adanya pernyataan seperti itu sangat positif karena akan memastikan perlindungan jangka panjang ke suatu wilayah yang mungkin mengandung beberapa penemuan medis paling penting di masa depan. [NN]

 

 

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: