Budi Daya Dombos, Mudah dan Berpeluang Cerah

TrubusLife
Hernawan Nugroho
01 Agu 2019   16:30 WIB

Komentar
Budi Daya Dombos, Mudah dan Berpeluang Cerah

Dombos penghasil daging dan bulu berprospek ekonomi cerah (JatengProv)

Mendekati hari raya Idul Adha, permintaan hewan qurban berupa kambing, domba dan sapi pasti meningkat pesat. Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah memiliki domba khas berjuluk Dombos, singkatan dari domba Wonosobo. 

“Kalau fokusnya ke hasil daging jenis itu pilihannya. Potensi itu membuat peternak melihat peluang ekonomis yang cerah dan tertarik membudidayakannya,” ujar Sugiono kepada Trubus.id. Ucapan peternak di desa Surangede, kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah bukan tanpa bukti. Daerahnya yang terletak 7 km dari obyek wisata Dieng adalah sentra dombos. 

Keunikan dombos dibandingkan galur-galur domba lain adalah bobotnya yang mencapai dua kali lipat bobot domba lokal lainnya. Menurut Sugi -panggilan Sugiono, dombos dapat tumbuh dengan berat badan 120 - 150 kg pada saat dewasa setara umur 2—3 tahun. Menurut Sugi–nama panggilan Sugiono, selain postur tubuh yang besar, dombos juga memiliki kelebihan berupa kemampuan reproduksi yang cepat. 

“Bila domba lokal lain dapat beranak setahun sekali, berbeda dengan dombos yang dapat beranak 3 kali dalam 2 tahun. Masa dewasa kelamin dombos kebanyakan pada umur 6 – 7 bulan, tetapi perkawinan baru bisa dilakukan di atas umur 1 tahun,” ujarnya. Sementara produktivitasnya mencapai umur 5 – 6 tahun. 

Baca Lainnya : Mau Kurban, Mesti Tahu Perbedaan Kambing dan Domba

Perkawinan dombos kebanyakan dilakukan secara alami dengan seekor pejantan yang dapat membuahi 13 ekor betina. Sugi sendiri memelihara 25 ekor dombos di kandang seluas 75 m2. Namun, ayah 1 anak itu mengatakan, kemudahan lainnya adalah domba Wonosobo dibudidayakan dengan pola kandang tertutup. Domba ditempatkan pada sebuah bangunan kandang dan tidak diangon atau digembalakan di padang rumput.

Kandang dibuat model panggung, sehingga memudahkan dalam membersihkan kotoran dan sisa pakan. Selain itu yang paling penting adalah disiplin menjaga kebersihan kandang merancang supaya pertukaran udara dapat selalu terjadi. Sugi mengatakan, selama ia membudidayakan dombos sangat jarang terkena penyakit, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk obat-obatan juga sangat minim.

Untuk urusan penyediaan pakan, peternak setempat tidak mengalami kesulitan. Pakannya juga sebagian besar rumput atau hijauan saja, bisa didapat dari lahan tegalan dan sekitar sawah. Penambahan seperti dedak dapat juga dilakukan pada anakan domba untuk menambah nutrisi. Namun, sesuai dengan pertumbuhan badannya yang pesat dan dapat berukuran besar. Bobot anakan dombos sehabis lahir sudah mencapai 4 kg, 2 kali lipat dari domba biasa.

Baca Lainnya : Jangan Gunakan Kantong Plastik Hitam Untuk Bungkus Daging Kurban

Sedangkan usia 1 bulan kemudian dapat mencapai 15—18 kg, atau setara 3 kali lipat bobot domba biasa yang seusia. Akibatnya porsi pakannya juga lebih banyak 2 kali dari kambing biasa,” ujar Sugi. Ia mengatakan, kalau pada umumnya kebutuhan pakan rumput untuk domba ekor tipis (domba biasa—Red) memerlukan 4 kg per hari, maka untuk dombos memerlukan 8 kg per hari.

Abdul Munir, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Wonosobo mengatakan dalam JatengProv.go.id, karakter yang terdapat pada dombos adalah mengikuti induk tetuanya. Asal usul dombos adalah silangan antara domba Texel dengan domba lokal ekor tipis (DET). Dengan performa biologis yang stabil maka dombos dapat dikategorikan sebagai galur lokal Wonosobo yang sudah mantap.

Ia menerangkan, pada 1954, Indonesia mendatangkan domba Texel yang berasal dari Belanda, pemerintah kemudian mengirimkan 5 ekor domba Texel ke Wonosobo pada 1957. "Semenjak itu, domba Texel disilangkan dengan domba lokal Wonosobo sampai terlahir keturunan ke-5 (F5) yang kini ditetapkan sebagai dombos,” ujarnya. Ia menambahkan nama dombos adalah pemberian Presiden SBY pada tahun 2008. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Begini Cara Tepat Hindari Kontaminasi Bakteri Pada Tanaman Tomat

Plant & Nature   19 Okt 2020 - 18:04 WIB
Bagikan:          
Bagikan: