Mengapa Nyamuk Cenderung Pemilih dalam Menggigit Manusia?

TrubusLife
Thomas Aquinus
24 Juni 2019   15:30 WIB

Komentar
Mengapa Nyamuk Cenderung Pemilih dalam Menggigit Manusia?

Ilustrasi (Science ABC)

Trubus.id -- Beberapa orang dapat duduk di luar sepanjang musim panas dan berhasil tidak digigit nyamuk. Namun sebagian lainnya justru menderita gatal meskipun sudah mandi dan memakai lotion antinyamuk. Apa sih penyebabnya?   

Adalah lanskap kimia yang tak terlihat dari udara di sekitar kita. Nyamuk memanfaatkan lanskap ini dengan menggunakan perilaku khusus dan organ indera untuk menemukan korban dengan mengikuti jejak kimiawi yang ditinggalkan tubuh mereka. 

Secara khusus, nyamuk mengandalkan karbon dioksida untuk menemukan inangnya. Ketika kita menghembuskan napas, karbon dioksida dari paru-paru kita tidak langsung menyatu dengan udara, namun tetap tinggal dalam bentuk gumpalan dimana nyamuk mengikutinya seperti remah roti.

"Nyamuk mulai menyesuaikan diri dengan karbon dioksida dan terus terbang melawan angin saat mereka merasakan konsentrasi yang lebih tinggi daripada yang terkandung di udara ambien normal," kata Joop van Loon, ahli entomologi di Universitas Wageningen di Belanda. Menggunakan karbon dioksida, nyamuk dapat mengunci target dari jarak hingga 164 kaki (50 meter). Dalam jarak dekat, nyamuk memperhitungkan banyak faktor yang bervariasi dari orang ke orang, termasuk suhu kulit, keberadaan uap air dan warna.

Baca Lainnya : Terungkap, Ini Dia Alasan Kenapa Nyamuk Suka Berdengung di Telinga Manusia

Para ilmuwan berpendapat bahwa variabel terpenting yang diandalkan nyamuk ketika memilih satu orang daripada yang lain adalah senyawa kimia yang diproduksi oleh koloni mikroba yang hidup di kulit kita. 

"Bakteri mengubah sekresi kelenjar keringat kita menjadi senyawa volatil yang dibawa melalui udara ke sistem penciuman di kepala nyamuk," kata Van Loon kepada Live Science.

‘Karangan bunga’ kimia ini rumit, terdiri dari 300 senyawa yang berbeda, dan mereka bervariasi dari orang ke orang berdasarkan variasi genetik dan lingkungan.

"Jika Anda membandingkan ayah dan anak perempuan dalam rumah tangga yang sama, mungkin ada perbedaan dalam rasio bahan kimia yang dihasilkan mikroba," kata Jeff Riffell, seorang profesor biologi di University of Washington yang telah mempelajari atraksi nyamuk.

Baca Lainnya : Kenapa Nyamuk Pilih-pilih Mangsa? Penelitian Ini Ungkap Jawabannya

Misalnya, pria dengan keragaman mikroba kulit yang lebih besar cenderung mendapatkan lebih sedikit gigitan nyamuk daripada pria dengan mikroba kulit yang kurang beragam, menurut temuan sebuah studi 2011 di jurnal PLOS ONE. Selain itu, pria dengan mikroba yang kurang beragam cenderung memiliki bakteri berikut di tubuh mereka: Leptotrichia, Delftia, Actinobacteria Gp3 dan Staphylococcus, kata para peneliti. 

Sebaliknya, pria dengan beragam mikroba cenderung memiliki bakteri Pseudomonas dan Variovorax di kulitnya, demikian temuan studi itu.

Baca Lainnya : Jamur yang Dipersenjatai dengan Racun Laba-laba Dapat Membunuh Nyamuk Malaria

Perbedaan kecil dalam komposisi karangan bunga kimia ini dapat menjelaskan perbedaan besar dalam berapa banyak gigitan yang didapat seseorang. Komposisi koloni-koloni mikroba itu juga dapat bervariasi dari waktu ke waktu pada individu yang sama, terutama jika orang itu sakit, kata Riffell.

Kita tidak memiliki banyak kendali atas mikrobioma pada kulit kita, tetapi Riffell memang menawarkan beberapa saran berdasarkan penelitiannya. 

"Nyamuk menyukai warna hitam," jadi pertimbangkan untuk mengenakan sesuatu yang lebih cerah pada saat berada di luar ruangan. [NN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: