Di Kota Ini, Sampah Bantal Hingga Sikat Gigi Wajib Didaur Ulang Sesuai Kategori

TrubusLife
Syahroni
17 Juni 2019   18:00 WIB

Komentar
Di Kota Ini, Sampah Bantal Hingga Sikat Gigi Wajib Didaur Ulang  Sesuai Kategori

Seorang pekerja menyortir koran dan majalah untuk didaur ulang di pusat limbah di kota Kamikatsu, prefektur Tokushima, Jepang. (KAZUHIRO NOGI/AGENCE FRANCE-PRESSE)

Trubus.id -- Plastik, kertas, logam? Di Kamikatsu Jepang, memilah sampah tidak sesederhana itu. Warga menghadapi 45 kategori yang membingungkan untuk sampah mereka karena kota ini tengah menuju kota bebas limbah atau 'nol limbah' pada tahun 2020.

Dan bukan itu saja, Kota di Jepang barat ini bahkan tidak memiliki layanan pengumpulan sampah. Sebanyak 1.500 penduduknya harus mengangkut limbah mereka sendiri ke fasilitas setempat.

"Ya, ini rumit," kata Naoko Yokoyama, seorang warga berusia 39 tahun yang membawanya ke pusat limbah kota seperti dilansir dari AFP, Senin (17/6).

"Tapi saya menjadi lebih sadar lingkungan sejak saya pindah ke sini setahun yang lalu," katanya lagi.

Baca Lainnya : Sampah Plastik Bekas Mainan, Disulap Menjadi Perabotan Anak

Kategori pembuangan mencakup segalanya mulai dari bantal hingga sikat gigi karena kota ini bertujuan untuk mendaur ulang semua limbahnya, mengirim apa pun ke insinerator, pada tahun depan.

Prosesnya bisa berat. Tidak hanya ada lusinan kategori terpisah, tetapi barang-barang seperti kantong plastik dan botol harus dicuci dan dikeringkan lebih dulu agar memudahkan proses daur ulang.

Di fasilitas limbah kota, ada lusinan kotak yang berbeda untuk setiap kategori. Jika bagian-bagian dari suatu barang masuk ke dalam kategori yang berbeda untuk didaur ulang, penghuni diharapkan untuk memisahkannya dan mengirimkan kembali ke wadah yang tepat.

Seorang lelaki yang membawa rak harus menggunakan palu untuk mencungkil kayu dari logam, sementara di tempat lain pekerja memotong tabung karet yang tebal dan panjang sehingga akan masuk ke dalam kotak penyortiran.

Kazuyuki Kiyohara, manajer pusat limbah mengatakan, plastik merupakan mayoritas sampah warga - dan meskipun ada program, ada sedikit pengurangan dalam konsumsi.

Baca Lainnya : 2 Ton Sampah yang Dibuang 30 Tahun Lalu, Ditemukan di Pulau Jeju

"Gaya hidup kita terutama tergantung pada plastik," kata pria berusia 38 tahun itu.

"Konsumen dapat mengurangi limbah plastik sampai batas tertentu, tetapi kita akan tetap memiliki limbah jika produsen terus membuat produk plastik." tambahnya lagi.

Banyak bagian di Jepang sudah membutuhkan pemisahan sampah, tetapi sebagian besar wilayah hanya memiliki beberapa kategori, dengan sebagian besar sampah rumah tangga akan disalurkan ke insinerator.

Negara ini menghasilkan lebih sedikit sampah umum per orang daripada kebanyakan negara maju, tetapi menghasilkan lebih banyak sampah plastik per kapita daripada dari negara manapun kecuali Amerika Serikat.

Baca Lainnya : Selain Amerika, 187 Negara Sepakati Kerangka Kerja Perangi Sampah Plastik Dunia

Meski begitu, tidak semua warga berpikir inisiatif itu bisa berhasil di tempat lain.

"Ini berhasil karena kita hanya 1.500 orang di sini," kata Yokoyama, yang pindah dari Kyoto ke Kamikatsu belum lama ini.

"Akan sulit di kota besar dengan populasi yang lebih besar," tambahnya, karena pihak berwenang akan berjuang untuk menegakkannya.

Namun warga lain mengatakan kebijakan itu hanya akal sehat.

"Saya mengerti lebih mudah untuk hanya membakar sampah," kata Saeko Takahashi, 71 tahun, saat dia mencuci karton susu dan mengikat surat kabar bersama.

"Lebih baik mendaur ulang, ini sangat sia-sia," jelasnya lagi. [RN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Ilmuan Ungkap Resep Rahasia Alam Dalam Pembentukan Daun Tanaman

Plant & Nature   22 Nov 2019 - 15:13 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: