Ramah Lingkungan, Pengrajin Kain Tenun NTB Tetap Gunakan Pewarna dari Tumbuhan

TrubusLife
Astri Sofyanti | Followers 0
24 April 2019   23:00

Komentar
Ramah Lingkungan, Pengrajin Kain Tenun NTB Tetap Gunakan Pewarna dari Tumbuhan

Kain tenun khas NTB dengan pewarna alami yang dipamerkan di Inacraft 2019. (Trubus.id/ Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya alam semakin tinggi. Terlebih saat ini tren gaya hidup hijau mulai diterapkan oleh berbagai kalangan masyarakat. Dampaknya, semakin banyak produk-produk kerajinan yang menggunakan bahan dasar dari alam yang jadi pilihan.

Melihat potensi ini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Nusa Tenggara Barat pun terus mendorong Industri Kecil Menengah (IKM) di wilayahnya agar tetap menggunakan pewarna alami sebagai bahan pewarna kain tenun kerajinan tangan mereka.

Baca Lainnya : Melalui Inacraft 2019, Menperin Dorong Ekspor Produk Kerajinan Tanah Air

“Kebanyakan penenun di NTB masih menggunakan pewarna alami ketimbang pewarna kimia, di samping bahan bakunya yang masih banyak, pewarna alami pada kain tenun akan memberikan motif warna yang soft,” kata Andi Pramaria Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan kepada Trubus.id di Jakarta, Rabu (24/4).

Lebih lanjut Andi mengungkapkan, pewarna alami yang digunakan untuk mewarnai kain tenun ini berasal dari bahan alam seperti kulit-kulit pohon, mulai dari kulit pohon nangka untuk warna kuning, kulit kayu pohon teureup untuk warna coklat muda, kulit pohon jambu untuk warna merah muda, dan masih banyak jenis tumbuhan lain yang bisa dimanfaatkan untuk pewarna alami kain tenun.

Baca Lainnya : 1.421 Pengrajin IKM Ramaikan Inacraft 2019 yang Dibuka Presiden Jokowi Hari Ini

Diakuinya, kain tenun yang menggunakan pewarna alami harganya akan lebih mahal ketimbang kain tenun yang diwarnai dengan pewarna kimia. Meski begitu, dirinya mengatakan, meski harganya lebih mahal, para konsumen justru lebih menyukai warna kain tenun yang terbuat dari pewarna alami.

“Kalau kain tenun yang terbuat dari pewarna alami, kisaran harganya Rp1,2 juta sampai Rp1,8 juta per kain,” ujarnya.Sebelum digunakan sebagai pewarna alami, kulit pohon harus diproses terlebih dahulu yakni dengan cara di masak. “Proses pemasakan ini bertujuan agar kain tenun tidak akan luntur jika di cuci. Jadi pewarna alami akan kita kuasi karena menjadikan gradasi warna pastel pada kain tenun tersebut,” ungkapnya. [RN]

  1


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Fransiska Lie 25 April 2019 - 13:57

permisi ya mau numpang promosi bo kelinci99 silahkan kunjungi WWWoKELINCIPOKER99oME

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: