OPINI: Lika-liku Beternak Babi di Indonesia

TrubusLife
Heri Priyatmoko | Followers 0
09 Feb 2019   06:00

Komentar
OPINI: Lika-liku Beternak Babi di Indonesia

Ilustrasi peternakan babi (Istimewa)

Penuh Tantangan, Bisnis Peternakan Babi Menggiurkan

Sekalipun penuh tantangan, bisnis peternakan babi dirasa menggiurkan. Betapa tidak, daging babi cukup digemari komunitas China dan non muslim dari waktu ke waktu. Pasokan daging babi jangan sampai tersendat untuk dimasak di pawon demi memanjakan lidah.

Mulai sate babi, babi kuah, babi kecap, campuran bakmi, nasi goreng, capcay dan lainnya. Menurut kepercayaan orang China, daging babi yang berlapis atau samcan memuat nilai filosofi perihal tingkatan kehidupan. Kata samcan adalah dialek Hokkian, di mana kata aslinya san ceng yang artinya tiga lapis. Selang seling daging dan lemak.

Baca Lainnya : Populasi Babi di Spanyol Melebihi Jumlah Manusianya, Apa Akibatnya? 

Babi gemuk dari kandang yang dibawa ke penjagalan untuk disembelih, ternyata mengikuti aturan lembaga plat merah. Koran Darmo Kondo (1919) mewartakan, Pemerintah Belanda mengeluarkan regulasi pajak menyembelih babi dan kerbau yang berlaku di Hindia Belanda. Barisan pengusaha babi diminta menyimak buku peraturan yang sudah disalin dalam bahasa Melayu itu supaya tidak asal menjual daging.

Bukan hanya memenuhi pesanan restoran dan hotel, juragan babi meraup untung dari suburnya budaya omben-omben alias menenggak minuman keras. Di Solo, hidup kultur mabuk disertai menyantap trambul (camilan) berupa daging babi maupun anjing.

Fakta historis ini saya temukan dalam Bromartani (1887). Terkisah, duduk seorang penjual daging babi bersama perempuan China yang dibatasi meja. Berteman sebotol arak dan camilan berupa daging babi goreng.

Baca Lainnya : Babi Terjelek di Dunia Ternyata Berasal dari Indonesia

Dua insan ini bersulang. Lalu, si lelaki mencomot irisan daging babi yang agak panjang. Digigitlah daging itu, kemudian disuapkan (loloh) kepada lawan minumnya. Yang empunya rumah datang dan terperanjat melihat mereka. Aspek yang disorot jurnalis atau letak nilai berita adalah perilaku “mesra” dua manusia lawan jenis ini lantaran bikin kaget pemilik rumah, bukan tradisi mabuk plus trambul babi.

Kisah lama di atas jelas bukan pengantar tidur dan sekadar bernostalgia. Namun, upaya meluaskan pengetahuan peternakan babi di Indonesia yang lestari. Terbukti, peternakan genjik terus menguntit zaman karena mampu membaca dinamika pasar. Di samping itu, proses regenerasi penyantap daging babi berjalan lancar. Bagi kalangan ilmuwan humaniora, tiada salahnya juga “beternak” (cerita) binatang. Menggelarkan “kandang” bagi hewan dalam pustaka. [NN/DF]

Heri Priyatmoko

Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma

Penulis buku “Sejara Wisata Kuliner Solo”

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

Perubahan Iklim Sebabkan Laba-laba Makin Agresif

Thomas Aquinus   Pet & Animal
Bagikan:          
Bagikan: