OPINI: Lika-liku Beternak Babi di Indonesia

TrubusLife
Heri Priyatmoko | Followers 0
09 Feb 2019   06:00

Komentar
OPINI: Lika-liku Beternak Babi di Indonesia

Ilustrasi peternakan babi (Istimewa)

Beternak Babi

Tidak enteng beternak babi. Teringat percakapan di suatu sore bersama ayah kawan saya yang juga juragan babi di dukuh Pinggir, belasan tahun silam. Dibeberkan segenap syarat yang kudu dipenuhi usahawan babi, yakni kandang babi mestinya jauh dari pemukiman warga.

Pasalnya, aroma yang ditimbulkan dari ternak genjik (anak babi) kurang sedap. Rawan menimbulkan keresahan maupun konflik dengan tetangga kalau menerjang syarat pokok tersebut. Maklum, jika kandang babi tempo dulu jaraknya membentang agak jauh dari pemukiman.

Lantas, diupayakan dekat sungai dan dipastikan pasokan air melimpah. Unsur ini terbilang vital, menimbang perlunya saluran pembuangan kotoran babi yang menuju sungai dan gelontoran air guna membersihkan kandang supaya babi relatif bersih. Gambaran tersebut sangatlah cocok dengan kandang di Pinggir yang dikitari Kali Mati, Baben dialiri Kali Wingko, dan Kampung Sewu menggantungkan Sungai Pepe yang bermuara ke Bengawan Solo.

Baca Lainnya : Piper, Babi Lucu Ini Dulu Ditelantarkan Pemiliknya

Hanya saja, peternak babi kudu waspada bila tiba-tiba banjir bertamu akibat air sungai meluap. Kesialan ini pernah menimpa juragan babi di Surabaya, satu setengah abad lampau. Bromartani bertarik 1867 mengisahkan, suatu hari, Sungai Mas membanjiri kandang peternak babi milik orang China.

Binatang berkaki empat yang ada di kandang, terkena banjir. Saking kuatnya arus, tak semua babi berhasil berenang dan menepi. Mengetahui kahanan pahit ini, hati pemilik kandang diberati rasa khawatir. Bergegaslah dia mencebur ke sungai, berniat menyelamatkan piarannya dengan memegangi kedua telinga babi.

Lantaran panik dan arus kuat, ia berteriak meminta tolong pada orang yang berlalu-lalang. Tentu saja teriakannya merampas perhatian warga. Beruntung, seorang opas (pembantu polisi) lewat dan melihatnya, lalu cepat-cepat mengulurkan bantuan. Jurnalis koran tertua di Jawa menulis, seumpama petugas keamanan tersebut tidak lekas menolong, besar kemungkinan peternak dan babi itu meninggal.

Baca Lainnya : Gara-gara Virus, 38 Ribu Babi Ternak Dimusnahkan di China

Kandang babi harus memperhatikan analisis dampak lingkungan serta karakter masyarakat setempat. Maka, sebelum membangun kandang berukuran 3X5 m2 untuk 10 babi, sang juragan tidak boleh meremehkan suara penduduk sekitar daripada timbul perkara di kemudian hari.

Pernah, aduan warga menghiasi koran Bromartanikebe (1891). Ditujukan pada pemangku kepentingan untuk menindaklanjuti keberadaan orang China di kampung yang ngingu (memelihara) babi. Lantaran berkeliaran di rumah penduduk, binatang itu dikhawatirkan merusak tanaman, selain aromanya yang menyengat.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: