OPINI: Lika-liku Beternak Babi di Indonesia

TrubusLife
Heri Priyatmoko | Followers 0
09 Feb 2019   06:00

Komentar
OPINI: Lika-liku Beternak Babi di Indonesia

Ilustrasi peternakan babi (Istimewa)

Trubus.id -- Keremangan senja membungkus kawasan Pecinan di Kota Solo. Petang yang basah itu, di kampung halaman Presiden Jokowi, tampak ribuan orang tumplek-blek menyaksikan keindahan lampion dan swafoto.

Rupanya, kemeriahan Imlek belum sirna. Tahun Baru Imlek 2570 ini bershio babi tanah. Menengok kalender China, tahun babi meliputi 1935, 1947, 1959, 1971, 1983, 1995, 2007 dan 2019.

Perayaan ini laksana kereta waktu untuk memahami lebih aspek babi dari sisi pandang sejarah. Lema babi memantulkan kenangan yang membekas bagi masyarakat Nusantara yang bertemali dengan perkara ingon-ingon dan dapur sedari masa kerajaan Mataram Kuno.

Cukup lama babi diakrabi manusia Indonesia dengan merujuk bukti prasasti abad X yang terpahat keterangan sumber hewani. Selain wok (babi), ada ikan gurami, kakap, daging kidang (kijang), hayam (ayam), wedhus (kambing), serta bakatak (katak).

Baca Lainnya : Festival Babi Berenang di Kampung Ini Menarik Perhatian Wisatawan

Pergulatan panjang masyarakat lokal dengan hewan berkaki empat itu melahirkan toponim baben. Penggal kata yang jarang termaktub dalam kamus. Hanya terawat dalam memori kolektif ini, menyediakan petunjuk penting menelisik dunia peternakan babi pada masa lampau.

Di tlatah Jawa, baben dimengerti sebagai daerah atau lokasi beternak babi. Atau, di kawasan itu dulu, dijumpai kandang babi. Sampai detik ini, toponim baben masih dapat ditemukan di Kalurahan Kwarasan, Sukoharjo. Demikian pula di Dukuh Pinggir yang secara administratif masuk Kecamatan Grogol, dipergoki peternakan babi hingga pengujung abad XX. Sedangkan di Kota Bengawan, wilayah baben kala itu berada di dekat Kampung Sewu, kendati sekarang sudah tak berbekas.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: