Ngartini Sang Pelestari Guzheng, Alat Musik dari Tiongkok

TrubusLife
Reza Perdana | Followers 0
05 Feb 2019   21:01

Komentar
Ngartini Sang Pelestari Guzheng, Alat Musik dari Tiongkok

Guzheng, alat musik asal Tiongkok (Reza Perdana)

Trubus.id -- Sebagai keturunan etnis Tionghoa, Ngartini Huang berkomitmen melestarikan alat musik asal Tiongkok, guzheng. Bahkan, perempuan berusia 50 tahun ini membuka sekolah bagi yang mau belajar memainkan alat musik tersebut.

Sekolah untuk belajar memainkan guzheng yang dibuka Ngartini diberinama Jade Music School. Terletak di Jalan Singosari, Kelurahan Sei Rengas Permata, Kecamatan Medan Area, menjadi satu-satunya yang tetap melestarikan budaya alat musik dari zaman kedinastian Tiongkok ribuan tahun silam. 

Ngartini mengaku, selain mengajarkan cara bermain guzheng, di sekolah musiknya ia juga mengajarkan cara memainkam pipa, yaitu alat musik petik  yang bentuknya menyerupai gitar modern.

Bentuk guzheng terdiri dari kotak kayu dengan lengkung cembung pada bagian atas. Di sana, ada 21 senar yang terpasang, dengan kayu-kayu kecil sebagai penyangga. Guzheng 21 senar adalah yang paling modern dan telah banyak berevolusi.

Dari berbagai sumber disebutkan, guzheng awalnya hanya memiliki 5 senar. Pada zaman dinasti Qin dan Han, jumlah senarnya bertambah menjadi 12. Kemudian pada zaman dinasti Ming dan Qing, jumlah senarnya bertambah lagi menjadi 14-16. 

"Standar guzheng yang digunakan sejak tahun 1970 hingga saat ini terdiri dari 21 senar," kata Ngartini, Selasa (5/2).

Ngartini, yang juga dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB-USU), bersama para muridnya juga menggarap lagu-lagu tanah air. Bahkan saat memainkan lagu Indonesia Pusaka, gubahan Ismail Marzuki, permainannya begitu harmonis dan menyentuh hati.

"Saya suka memainkan alat musik guzheng sejak kecil yang kemudian diperdalam di Tiongkok. Di sana belajar dari sang maestro Guzheng, Sun Wen Yan Maestro, guru besar guzheng di Universitas Musik Shanghai," sebutnya.

Ngartini menuturkan, sekolah yang didirikan tersebut, saat ini jumlah murid yang dimiliki 100 orang. Murid-uridnya mulai dari usia 3 tahun hingga 80 tahun. Para murid diajarkan teknik dasar hingga mahir. 

"Musik yang diajari jenis klasik sampai modern. Saya menyesuaikan selera pasar dan tidak menghilangkan unsur kebudayaan," ungkapnya.

Ngartini sering mengisi acara-acar, terutama saat perayaan Imlek. Biasanya di momen Imlek, mereka kebanjiran orderan. Biasanya mereka menunjukkan permainan dua kecapi, empat kecapi, atau bisa lebih besar.

"Lagu yang dibawa saat Imlek adalah Gong xi Gong xi. Bisa juga mandarin pop," tandasnya.  

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Begini Cara Memanfaatkan Kopi untuk Kecantikan Wajah

Thomas Aquinus   Health & Beauty
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: