Bangun Zona Ekowisata, Singapura Malah Dikritik Pencinta Lingkungan

TrubusLife
Ayu Setyowati | Followers 0
10 Jan 2019   15:30

Komentar
Bangun Zona Ekowisata, Singapura Malah Dikritik Pencinta Lingkungan

Ilustrasi taman ekowisata (Business Times)

Trubus.id -- Meski dikenal sebagai pusat keuangan dan penerbangan internasional, Singapura masih masih menjadi rumah bagi hutan hujan tropis dan beragam satwa liar. Kota ini juga memiliki kebun binatang yang menyediakan wisata sungai dan wisata malam hari, dua jenis kegiatan yang selalu menarik perhatian turis domestik dan mancanegara.

Rencana pemerintah Singapura yang ingin membangun zona ekowisata demi meningkatkan jumlah kunjungan turis mendapat penolakan dari pecinta lingkungan, yang merasa kalau proyek itu justru bakal merusak habitat alami tumbuhan dan hewan di Negeri Singa tersebut.

Mengutip CNN, demi terwujudnya proyek tersebut, Singapura mulai membabat sejumlah area di Mandai untuk pembangunan taman burung, taman hutan hujan dan komplek resor berkapasitas 400 kamar. 

Baca Lainnya : Bantu Selamatkan Bumi, Singapura Bangun Hotel Hijau

Kelompok pecinta lingkungan masih berharap pemerintah Singapura mempromosikan wisata di habitat alami, bukan malah menghancurkan habitat alami untuk membangun zona ekowisata yang notabene buatan. Mereka juga khawatir adanya kemungkinan tanaman dan hewan yang ada dalam area itu diperlakukan secara semena-mena oleh para pekerja proyek.

"Saya pikir mengganti habitat alami dengan buatan merupakan ide yang kurang tepat," kata Subaraj Rajathurai, seorang pecinta lingkungan.. "Sepertinya menghasilkan uang lebih penting dibanding melestarikan keanekaragamanhayati," tambahnya.

Keselamatan Hewan
Perusahaan yang sedang melakukan proyek pembangunan zona ekowisata di Singapura, Mandai Park Holdings, mengklaim bahwa proyek ini akan membawa banyak perubahan. Berlokasi di Mandai, proyek ini dekat dengan kawasan desa dan sawah yang bersebelahan dengan cagar alam dilindungi.

Taman burung dibangun untuk menggantikan yang lama yang akan menampilkan sembilan area kandang burung. Sementara taman hutan hujan akan dibangun di antara pepohonan dengan lintasan berupa jalan setapak. Kemudian, hotel yang dibangun merupakan penginapan dalam jaringan hotel yang berbasis di Singapura, Banyan Tree.

Baca Lainnya : Mulai 2019, Singapura Terapkan Pajak Karbon

Diperkirakan akan selesai tahun 2023, pembangunan sudah dimulai sejak tahun 2017 lalu dalam lahan seluas 126 hektar.

Sementara itu, kelompok pecinta lingkungan khawatir dengan kasus tenggiling dan macan tutul yang tewas dilindas kendaraan berat selama pembangunan berlangsung. Subaraj mengatakan kasus itu bisa terjadi karena kurangnya langkah-langkah perlindungan terhadap habitat alami selama pembangunan berlangsung, misalnya peletakan pagar besi di sepanjang jalur agar tak ada hewan yang terlindas. 

Tetapi Mandai Park Holdings bersikeras bahwa mereka telah melakukan segala cara untuk mencegah kematian hewan selama pembangunan berlangsung.

Baca Lainnya : Lahan Habis, Tahun 2018 Singapura Hentikan Izin Kepemilikan Mobil Baru

Saat ini pagar besi dan rambu-rambu pengingat pengendara akan lintasan hewan telah dipasang di sepanjang jalur, berikut dengan tali-tali yang dipasang di pepohonan sebagai lintasan monyet. Jembatan permanen yang tertutup semak dan pohon yang memungkinkan hewan menyeberang juga akan dibangun pada tahun ini.

"Kami telah bekerja dengan komunitas pecinta lingkungan untuk mencari cara melindungi hewan-hewan ini," kata Mike Barclay, CEO Mandai Park Holdings. 

Bagaimana menurut Trubus Mania

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

60 Persen Spesies Kopi Liar Terancam Punah 

Ayu Setyowati   Plant & Nature
Bagikan: