Waspada Ledakan Populasi Tikus Akibat Perubahan Iklim

TrubusLife
Ayu Setyowati | Followers 0
07 Nov 2018   23:00

Komentar
Waspada Ledakan Populasi Tikus Akibat Perubahan Iklim

Perubahan iklim menyebabkan populasi tikus kian banyak. (KDKA Radio)

Trubus.id -- Perubahan iklim tak hanya berdampak pada Bumi, tapi juga menyebabkan ledakan populasi tikus. Baru-baru ini, para ilmuwan telah memperkirakan kenaikan suhu secara global sebesar 2 derajat Celsius pada akhir abad ini. Rupanya, peningkatan suhu membuat tikus berkembang biak dengan subur.

Bobby Corrigan, pakar tikus dari Cornell University di New York, Amerika Serikat, menjelaskan jika hewan pengerat seperti tikus memiliki masa kehamilan yang sangat cepat, hanya 14 hari.

Selain itu, tikus hanya membutuhkan satu bulan setelah dilahirkan untuk melakukan reproduksi. Artinya, satu ekor tikus hamil dapat melahirkan 15.000 hingga 18.000 ekor tikus dalam waktu kurang dari satu tahun.

Baca Lainnya : Dibanding Bahan Kimia, Cara Ini Lebih Ampuh Usir Tikus

Ini bukan peringatan pertama. Sebelumnya, para ahli, mulai dari pakar pengerat hingga ahli biologi, telah mewaspadai efek perubahan iklim terhadap lonjakan reproduksi tikus. Apalagi, tikus bisa menularkan berbagai penyakit seperti pes, sampar, leptospirosis, diare, demam dan keracunan makanan.

Bahkan, kuman penyakit di kotoran tikus yang mengering mampu menyebar dan menempel di makanan rumah. Semua penyakit itu bisa berdampak pada kematian.

Pada tahun 2011, sebanyak 13 orang warga Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, meninggal dunia akibat leptospirosis. Sementara itu pada tahun 2016, ada 40 kasus warga Jakarta yang didiagnosis leptospirosis.

Baca Lainnya : Tips Ini Paling Ampuh Cegah Tikus Masuk ke Rumah, Caranya?

Di Amerika, panggilan ke layanan pengendalian hama meningkat hingga 60 persen. Bahkan, beberapa kota di Selandia Baru menjadi pusat pengembangbiakan yang subur bagi tikus. Itu karena, Selandia Baru mengalami musim panas terparah dalam sejarah.

"Di beberapa tempat, kita melihat peningkatan sepuluh kali lipat dalam populasi hewan pengerat," kata Dr. Graeme Elliott dari Departemen Konservasi Selandia Baru. [DF]

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: