Vegetasi Laut Mampu Menyerap Karbon Lebih Besar dibanding Hutan Indonesia 

TrubusLife
Binsar Marulitua
07 Nov 2018   21:00 WIB

Komentar
Vegetasi Laut Mampu Menyerap Karbon Lebih Besar dibanding Hutan Indonesia 

Ilustrasi (Istimewa)

Trubus.id -- Laut mampu memainkan peran utama dalam memperlambat laju perubahan iklim global dengan menyerap  Karbon Dioksida (COâ‚‚) dari atmosfer dan menyimpannya sebagai karbon. Konsep "Karbon Biru" dalam wujud vegetasi pesisir, jauh lebih efektif menurunkan karbon dibandingan hutan-hutan di daratan. 

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dirhamsyah menjelaskan, bahwa vegetasi mangrove dan lamun berkontribusi terhadap penimbunan sedimen sebesar 50 persen dari total penyerapan karbon.

Kemampuan vegetasi laut menyerap karbon 50-80 persen lebih besar dibandingkan vegetasi hutan, tentunya berpotensi menguraikan transisi masa depan yang rendah emisi dan berketahanan iklim seperti yang tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. 

Baca Lainnya: Pemerintah Gelontorkan Rp 13,5 M untuk Ekosistem Karbon Biru

" Vegetasi laut dalam menyerap karbon 50-80 persen lebih besar dibandingkan vegetasi  berbagai jenis hutan di  daratan. Kapasitas lamun dalam penyerapan karbon yang 6,59 ton C/ha/tahun itu setara dengan emisi 35 sepeda motor per tahun. Artinya, mengkonversi 1 hektare padang lamun, dapat membantu menyerap kembali CO2 yang dihasilkan 35 sepeda motor," Jelas Dirhamsyah di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Pademangan, Jakarta Utara, Rabu (7/11).

Dirhamsyah menambahkan, estimasi padang lamun seluruh Indonesia  seluas 875.967  hektare. Dari cakupan luasan tersebut,kapasitas serapan total sebanyak  6,59 ton C/ha/tahun, dengan  potensi cadangan serapan karbon lamun sebanyak 1,9-5,8 Mt C/tahun. Sedangkan potensi cadangan karbon biomas sebanyak 0,94C/ha dengan potensi cadangan sebanyak 275,9 - 823,4 kt C

Ditambahkan Dirhamsyah, padang lamun yang memiliki kemampuan untuk menyerap karbon, masih didominasi oleh dua jenis lamun, yakni Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii. Kedua jenis lamun tersebut menjadi tumpuan karena memiliki nilai cadangan karbon yang besar.

Baca Lainnya: Kaimana Segera Jadi Laboratorium Karbon Biru untuk Selamatkan Bumi

Cadangan karbon pada lamun itu tersimpan pada substrat yang ada di bawah permukaan pasir laut dan menyatu dengan akar lamun. Cadangan tersebut, mampu bertahan dalam kurun waktu lama jika kawasan pesisir tidak mengalami kerusakan karena berbagai hal.

Meskipun memiliki  cadangan yang besar, ditambahkan Dirhamsyah,  tetap perlu dilakukan pengukuran secara kontinu berapa cadangan biomassa yang tersimpan dan berapa kemampuan serapan karbon dari lamun yang ada. Cara itu harus dilakukan, karena diyakini pemetaan padang lamun untuk menyerap karbondioksida bisa terus terjaga baik kualitas maupun kuantitas.

Bersisian denga itu, potensi besar padang lamun untuk menyerap karbon harus berhadapan dengan kondisi yang memprihatinkan.  Dari 293.464 ha padang lamun yang sudah tervalidasi, tercatat hanya 15,35 persen saja yang kondisinya bagus atau sehat. Sementara, 53,8 persen dinyatakan kurang sehat dan 30,77 persen dinyatakan miskin.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Perubahan Iklim Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Anak Seluruh Dunia

Health & Beauty   19 Nov 2019 - 07:12 WIB
Bagikan:          
Bagikan: