Perilaku Manusia Hambat Populasi Paus

TrubusLife
Diah Fauziah | Followers 0
07 Nov 2018   15:30

Komentar
Perilaku Manusia Hambat Populasi Paus

Paus (Pixabay/ Three-shoots)

Trubus.id -- Ketika paus atlantik betina yang paling langka menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, memisahkan dirinya, tidak banyak energi tersisa untuk kawin dan menyusui.

Perilaku manusia dan apa yang terjadi di lautan seperti tabrakan kapal dan perburuan paus telah menghambat pemulihan mamalia ini, menurut penelitian yang diterbitkan pada Rabu (7/11). Dalam puluhan tahun, populasi paus utara hilang sekitar 450 ribu ekor, walaupun sempat naik sedikit dari tahun 1990, kemudian turun lagi pada tahun 2010.

"Perilaku manusia menghancurkan spesies paus dua kali lipat selama seperempat abad," kata Peter Corkeron, peneliti dari NOAA Northeastern Fisheries Science Center di Massachusetts, Amerika Serikat.

Baca Lainnya : Canggih, Satelit Mampu Melacak Keberadaan Paus dari Luar Angkasa

Dari tahun 1970 hingga 2009, sebesar 80 persen dari 122 kematian paus atlantik utara disebabkan oleh objek atau aktivitas manusia. Diluar jumlah paus yang dibunuh, muncul pertanyaan apakah spesies itu telah dibatasi populasinya.

Peter membandingkan tingkat kelahiran paus atlantik utara dengan spesies kanan selatan yang diperkirakan berjumlah sekitar 15.000 ekor. Jauh lebih baik dari populasi paus atlantik utara.

Baca Lainnya : Pembuatan Cagar Alam Paus di Atlantik Selatan Terancam Gagal

Seperti yang diduga, tiga kelompok paus kanan selatan (di lepas pantai Amerika Selatan bagian timur, Afrika bagian selatan dan Australia barat daya) mempunyai keturunan dua kali lipat lebih banyak dibandingkan yang di utara. Bukti bahwa lingkungan di Atlantik Utara telah sangat buruk.

Lebih dari 80 persen paus utara terjerat jaring yang ditinggalkan nelayan.

"Tidak sedikit paus atlantik utara yang terluka. Ya, jaring nelayan menyebabkan luka robek di tubuhnya, berat badan berkurang dan keengganan untuk kawin," kata peneliti yang jurnalnya diterbitkan di Royal Society Open Science[DF]

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: