Misteri Kedahsyatan Tsunami 2004 di Aceh Terpecahkan

TrubusLife
Diah Fauziah | Followers 0
23 Okt 2018   13:00

Komentar
Misteri Kedahsyatan Tsunami 2004 di Aceh Terpecahkan

Gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh 2004 lalu. (The Atlantic)

Trubus.id -- 26 Desember 2004 lalu, Aceh dilanda gempa bumi bermagnitudo 9,2 . Tidak lama setelah gempa bumi, wilayah di Sumatra ini diterjang tsunami. Menewaskan lebih dari 170 ribu orang tewas dengan 1,3 juta rumah hancur, fasilitas umum dan banyak sumber kehidupan rusak.

Sejak itu, ada banyak penelitian tentang gempa bumi megathrust di Aceh. Terbaru, berdasarkan temuan tim peneliti Universitas Syiah Kuala dan Earth Observatory of Singapore (EOS) Nanyang Technological University (NTU), misteri tentang dahsyatnya tsunami di Aceh pada tahun 2004 lalu, mulai terpecahkan.

Baca Lainnya : 5 Gempa Megathrust Terdahsyat Abad Ini

Misteri itu terpecahkan saat peneliti menemukan sebuah gua dekat pantai di Meunasah Lhok, Kecamatan Lhong, Kabupaten Aceh Besar. Dari gua tersebut, peneliti mengetahui jika Aceh sudah dilanda tsunami besar sejak 7400 tahun lalu.

Masyarakat setempat menyebut gua tersebut sebagai Guha Ek Leuntie, gua kotoran kelelawar. Itu karena, ada banyak tumpukan kotoran kelelawar yang melapisi dasar gua tersebut. Dan, kotoran kelelawar tersebut menjadi kunci utama pemecah misteri serangkaian peristiwa megatsunami di Aceh.

Baca Lainnya : Ilmuwan Tidak Menduga jika Gempa Bumi di Donggala dan Palu Menyebabkan Tsunami

"Lapisan-lapisan pasir yang terendapkan oleh kejadian tsnami pada masa lampau ada di dalam gua. Lapisan-lapisan pasir tsunami ini bersusun silang dengan endapan guano secara rapi. Melalui proses indentifikasi lapisan, penentuan umur radioaktif unsur karbon dan analisis fosil-fosil mikroskopis atau foraminifera, para ilmuwan telah mampu merangkaikan kembali berbagai peristiwa tsunami purba dahsyat yang pernah menghantam daratan Aceh," kata Nazi Imail, Ph.D, dosen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, saat di Medan, Senin (22/10).

Ia melanjutkan, "Karena itu, keberadaan gua pantai ini perlu dilestarikan sebagai upaya pendidikan bencana dan pengembangan kawasan heritage terkait kebencanaan," kata Nazi Imail, Ph.D, dosen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, saat di Medan, Senin (22/10). [DF]
 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

Penganut Bumi Datar Kembali Tentang Hukum Gravitasi

Binsar Marulitua   Plant & Nature
Bagikan: