Kabut Asap di India Memburuk karena Petasan

TrubusLife
Diah Fauziah
19 Okt 2018   17:30 WIB

Komentar
Kabut Asap di India Memburuk karena Petasan

Polusi udara di India. (India)

Trubus.id -- Menjelang musim dingin, kabut asap beracun mulai menyelimuti New Delhi, India. Keadaan ini diperburuk dengan ratusan ribu petasan yang dibakar warga untuk merayakan Diwali, festival cahaya bagi masyarakat Hindu di India, Rabu (7/11) mendatang.

Tentu, asap dari petasan yang dibakar itu akan membuat New Delhi akan lebih banyak kabut. Bisa bertahan berhari-hari karena kecepatan angin menurun di musim dingin, menambah polusi yang disebabkan pembakaran sisi tanaman, emisi kendaraan dan gas industri.

Ada 14 kota paling tercemar di India. Itulah kenapa, pemerintah setempat telah melakukan sedikit usaha untuk membatasi penjualan petasan jelang perayaan Diwali. Hanya saja, tidak berjalan baik lantaran Diwali merupakan salah satu festival paling penting bagi jutaan umat Hindu di India.

Festival Diwali merupakan perayaan penting bagi warga India yang bergama Hindu. Di festival ini, semua orang menyalakan petasan. Foto: The National.

"Tidak mudah bagi pemerintah untuk melarang kembang api di festival Diwali. Tentu, akan berhasil jika semua pihak, terutama Mahkamah Agung mendukungnya," kata pejabar senior yang enggan disebutkan namanya oleh AFP.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Lingkungan federal menolak berkomentar. Begitu juga dengan juru bicara Pemkot New Delhi yang tidak mau dimintai komentar.

Baca Lainnya : Polusi Udara Bisa Menyebabkan Krisis Pangan?

Tahun lalu, Mahkamah Agung melarang penjualan petasan di sekitar New Delhi. Kebijakan tersebut dapat mengurangi emisi sebanyak 30 persen, kata pejabat pemerintah. Namun sepertinya, tahun ini, Mahkamah Agung tidak akan melarang penjualan petasan.

"Situasinya akan suram. Seseorang akan mempertanyakan pelarangan berdasarkan keputusan yang dibuat mahkamah agung tahun lalu," kata Ritwick Duta, pengacara lingkungan yang terkait dengan prakarsa hukum untuk hutan dan lingkungan nirlba kepada Reuter.

Dalam pernyataannya ke mahkamah agung, Kementerian Lingkungan telah meminta diperkenalkannya petasan yang memancarkan bahan kimia tidak berbahaya. Jika menggunakan petasan baru, emisi berbahaya akan turun sebanyak 30 hingga 40 persen, kata Rakesh Kumar, direktur Institut Penelitian Teknil Lingkungan Nasional.

Baca Lainnya : Atasi Polusi Udara, India Usulkan Menara Penyaring Udara

"Tapi, industri petasan perlu membuat terobosan untuk mengambil sampel dari prototipe dan formulasi kimia yang baru dikembangkan," kata Rakesh.

Sementara itu, penjual petasan menolak jika mahkamah agung melakukan pelarangan penjualan petasan seperti tahun lalu.

"Tahun lalu, saya hanya bisa menjual 10 persen petasan dari cadangan yang ada karena larangan itu. Jika tahun ini ada larangan menjual petasan, saya akan mengabaikan peraturan itu," kata Maheshwar Dayal Sharma, penjual petasan di New Delhi.

Ia melanjutkan, "Tolong jangan menyalahkan kami atas kekacauan yang merupakan hasil dari faktor lain seperti knalpot industri dan kendaraan." [DF]

 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Kebiasaan Masyarakat Tiongkok Minum Air Panas, Apa Manfaatnya?

Health & Beauty   16 Des 2019 - 14:55 WIB
Bagikan:          

Berenang Secara Rutin Baik untuk Kesehatan Anjing

Pet & Animal   16 Des 2019 - 11:04 WIB
Bagikan:          
Bagikan: