8 Kota Ini Paling Berisiko Tenggelam Akibat Perubahan Iklim

TrubusLife
Ayu Setyowati
16 Okt 2018   13:00 WIB

Komentar
8 Kota Ini Paling Berisiko Tenggelam Akibat Perubahan Iklim

Suasana di London ketika banjir terjadi beberapa waktu lalu. (21st Century Challenge)

Trubus.id -- Sebuah makalah singkat yang baru diterbitkan badan amal berbasis di London, Christian Aid, mengungkapkan jika kota-kota pesisir menghadapi bahaya lebih besar karena dipengaruhi kenaikan permukaan laut, memicu perubahan iklim. Delapan kota yang paling berisiko tenggelam ialah London, Shanghai, Bangkok, Houston, Jakarta, Manila, Dhaka dan Lagos.

Berjudul Sinking Cities, Rising Seas, makalah ini diterbitkan tepat sebelum laporan khusus Panel Antar Pemerintah Internasional mengenai Perubahan Iklim yang merinci bagaimana dunia harus bekerja sama untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celcius, beberapa waktu lalu.

Dan seperti yang Christian Aid jelaskan, kenaikan suhu 2 derajat Celcius dalam pemanasan global, akan membawa manusia ke dalam rezim iklim yang tak tertandingi dalam sejarah. Permukaan laut bisa naik setinggi 40 sentimeter dalam beberapa dekade mendatang.

Jakarta telah kehilangan sarana perlindungan banjir alamiah yang berharga untuk pembangunan merajalela. Faktor tambahan seperti perencanaan buruk dapat memperburuk situasi yang sudah mengerikan. Sementara itu, perubahan iklim bertindak sebagai pengganda lebih lanjut dari kerentanan yang ada di masa depan.

Baca Lainnya : Suhu Bumi Meningkat, Tersisa 12 Tahun untuk Atasi Perubahan Iklim

Berikut adalah delapan kota yang disorot di Sinking Cities, Rising Seas dengan info tentang prediksi kota tenggelam, apa yang dipertaruhkan dan bagaimana pemerintah setempat telah mengambil tindakan.

Houston

Topografi Houston secara alami memang genting. Namun, beragan kegiatan manusia seperti ekstraksi air tanah skala industri serta produksi minyak dan gas, menyebabkan metropolis Texas yang hidup dan beragam ini tenggelam.

"Ironisnya, menjadi produsen fosil, merusak daya tahan Houston yang sudah terbatas terhadap dampak iklim, termasuk kenaikan permukaan laut," tulis Kramer.

Secara total, wilayah Houston-Galveston telah tenggelam total 105,9 inci selama beberapa dekade. Saat ini, bagian barat laut Kota Houston tenggelam paling cepat dengan laju sekitar 2 inci per tahun.

Jakarta

Foto: The Straits Time.

Sekitar 40 persen dari Jakarta terletak di bawah permukaan laut. Alasan utama Jakarta tenggelam begitu cepat sebenarnya relatif mudah terbaca yakni tidak adanya jaringan air leding yang dapat diandalkan, menyebabkan lebih banyak sumur ilegal yang digunakan penduduk Jakarta untuk mengambil air tanah.

Ini adalah sumur yang telah mengeringkan akuifer bawah tanah, mendorong penurunan dramatis seperti itu. Selain itu, Kota Jakarta yang penuh sesak dengan gedung-gedung tinggi menjulang tinggi, semakin memperburuk keadaan.

"Hilangnya air tanah meruntuhkan Jakarta dari bawahnya, ditambah dengan beratnya bangunan-bangunannya mendorong dari atas, menyebabkan Jakarta tenggelam lebih jauh," tulis Christian Aid.

Bangkok

Dengan ketinggian mencapai lima kaki di atas permukaan laut, pada tahun 2015, pejabat pemerintah memperkirakan jika ibu kota Thailand yang tenggelam di bawah satu inci per tahun, bisa tenggelam dalam waktu 15 tahun jika air di sekitar kota tidak berhenti meningkat pada tingkat seperti saat ini.

Baca Lainnya : Diklaim Bisa Mengurangi Perubahan Iklim, Turbin Angin Tetap Berdampak pada Pemanasan Lokal

Tenggelamnya Bangkok secara ironis menjadi lebih buruk karena beratnya bangunan-bangunan pencakar langit yang menekan ke sedimen tepi sungai. Memadatkan tanah karena air yang tersisa habis.

Menurut Dewan Reformasi Nasional Thailand, yang merekomendasikan pembangunan tembok laut besar-besaran di sekitar kota, sekitar 700 bangunan memiliki lebih dari 20 lantai tersebar di Bangkok serta 4.000 bangunan dengan lantai antara delapan hingga 20.

London

Banyaknya pencakar langit berat tak perlu disalahkan karena fakta bahwa ibu kota Inggris ini secara bertahap tenggelam. Dari sudut pandang geologis, tenggelamnya London dikarenakan sebagian besar diakibatkan melelehnya gletser Inggris.

Orang tak perlu melihat lebih jauh pertahanan banjir utama London, Thames Barrier, untuk memahami betapa suram situasinya. Dibangun dan dirancang pada 1984 untuk melindungi London dari banjir tingkat satu dalam 100 tahun hingga tahun 2300. Para insinyur mengantisipasi bahwa penghalang akan digunakan dua atau tiga kali setiap tahun. Sebenarnya, ini terlihat lebih banyak tindakan dan saat ini digunakan enam hingga tujuh kali per tahun.

Baca Lainnya : Niat Indonesia Jadi Negara Percontohan Perubahan Iklim

Shanghai

Shanghai, kota terpadat di dunia, tenggelam karena perkembangan kota yang diperparah oleh ekstraksi air tanah. Shanghai, bagaimanapun, telah menunjukkan bahwa skema agresif untuk memperlambat penurunan terbukti efektif. Pembatasan pada sumur pribadi, sistem GPS untuk memantau lebih baik penenggelaman dan pergeseran yang lebih besar dari ekstraksi air tanah telah membantu memperlambat laju tenggelam tahunan kota itu dari 3,5 inci menjadi kurang dari setengah inci.

Manila

Manila terkenal sangat padat. Ini juga yang menjadi penyebab cepatnya kota ini tenggelam. Setiap tahun, permukaan tanah di Manila mengalami penurunan sekitar empat 4 inci atau 10 kali lipat tingkat kenaikan permukaan laut yang disebabkan pemanasan global.

Lagos

Foto: Nigeria online.

Dengan populasi yang melampaui 21 juta orang, kota pelabuhan di Nigeria ini sangat rentan terhadap naiknya permukaan laut sebagian karena kurangnya sistem drainase yang memadai dan penurunan permukaan tanah disebabkan ekstraksi air tanah.

Pembangunan pulau buatan baru, Eko Atlantic, yang direncanakan di seberang daratan Lagos, disebut-sebut sebagai anugerah ekonomi potensial. Namun, banyak yang khawatir jika pulau baru dengan tembok laut besar-besaran ini bisa memiliki dampak merugikan di pulau-pulau sekitarnya di mana gelombang badai akan menuju ke pulau di sekitar Eko Atlantic.

Dhaka

Pengambilan air tanah yang tidak berkelanjutan diperkirakan jadi penyebab tenggelamnya Dhaka, ibu kota Bangladesh, sedikit di atas setengah inci per tahun. Pergeseran lempeng tektonik juga berperan dalam penurunan yang dialami di wilayah tersebut, meskipun ekstraksi air tanah adalah penyebab utama.

Meskipun percepatan tenggelamnya Dhaka tidak secepat beberapa kota lain, situasi keseluruhan dibuat secara eksponensial lebih buruk oleh fakta bahwa kenaikan permukaan laut di Teluk Benggala adalah 10 kali rata-rata global. Menyebabkan jutaan orang di daerah-daerah pantai dataran rendah di barat daya kota untuk bermigrasi secara massal ke daerah kumuh Dhaka yang sudah kelebihan penduduk. [DF]
 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Dosen IPB University Berbagi Tips Merawat Ikan Hias

Pet & Animal   12 Jan 2021 - 10:50 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Tips Penyembuhan Indera Penciuman Usai Terpapar Covid-19

Health & Beauty   21 Des 2020 - 17:12 WIB
Bagikan: