Nyaris Punah, Ini 4 Bahan Pangan Alternatif Potensial yang Jarang Diketahui

TrubusLife
Ayu Setyowati
15 Okt 2018   11:17 WIB

Komentar
Nyaris Punah, Ini 4 Bahan Pangan Alternatif Potensial yang Jarang Diketahui

Sorgum, salah satu bahan pangan alternatif potensial (Istimewa)

Trubus.id -- Keberagaman budaya Indonesia membuat penduduknya memiliki makanan pokok yang berbeda. Ada padi, jagung, sagu sampai ubi dan singkong. Selain itu, ternyata masih banyak loh jenis bahan makanan pokok orang Indonesia yang mungkin belum pernah kamu ketahui, dan konon sudah dilupakan orang karena tak lagi ada yang menanam dan mengonsumsinya. 


Mengutip berbagai sumber, berikut beberapa jenis bahan pangan pokok masyarakat Indonesia yang perlu diketahui. 

1. Cantel/ sorgum

Beberapa tahun belakangan, cantel alias sorgum sedang naik daun karena disebut-sebut sebagai pengganti nasi. Cantel atau gandrung (Sorghum bicolor), atau umumnya dikenal sebagai sorgum, adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan (serealia, sirup), pakan ternak dan bahkan bahan baku industri (alkohol, biofuel).

Sebagai bahan pangan, cantel berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Berasal dari Afrika utara, Sorghum bicolor kini banyak dibudidayakan di pelbagai bagian dunia dan merupakan bahan makanan pokok penting di Afrika, Asia Selatan dan Amerika Tengah. 

Biji-bijian yang dikenal dengan nama watablolon di NTT ini cocok bagi mereka yang alergi karbohidrat. Kandungan sorgum jika dibandingkan dengan beras gambarannya sebagai berikut; Sorgum mengandung karbohidrat (73 g), lemak (3,3 mg), vitamin B1 (4,4 mg), protein (11 g), zat besi (0,38mg), kalsium (28mg), dan fosfor (287mg), dan menghasilkan energi sebesar 332 kal - dimana semua kandungan nutrisi tersebut lebih besar daripada yang dikandung beras. 

Bahkan, indeks glikemiks (angka yang dapat meningkatkan kadar gula darah) dalam sorgum lebih rendah dibandingkan beras sehingga cocok untuk penderita diabetes. Cara mengolah sorgum sama halnya dengan memasak beras. Namun, karena tekstur sorgum yang keras, maka gunakan air 2 kali lebih banyak dibandingkan dengan saat memasak beras. 

Sorgum juga dapat diolah menjadi berbagai macam masakan, mulai dari bubur, bahan dasar kue basah dan kering, roti hingga bahan dasar MPASI bayi. 

2. Umbi Gembili 

Tak banyak lagi orang, apalagi generasi sekarang yang mengenal tanaman gembili. Umbi-umbian yang masih banyak ditanam di pedesaan ini kini sudah jarang dijumpai di pasar, termasuk pasar tradisional. Padahal gembili dianggap sebagai bahan pangan berpotensi besar di masa depan. 

Gembili, tumbuhan dari suku gadung-gadungan (Dioscoreaceae), memiliki nama ilmiah Dioscorea esculenta, L. Tumbuhan ini juga dikenal melalui nama sinonimnya, yakni Oncus esculentus, Lour., Dioscorea fasciculata, Roxb., dan Dioscorea sativa, Auct. 

Gembili dapat tumbuh mencapai 12 meter dengan cara merambat, berdaun hijau dan berduri pada batang sekitar umbi. Siap dipanen 7-8 bulan setelah penanaman. Berdiameter 4 cm, dengan panjang 4-10 cm, gembili bisa mencapai berat 100-200 gram, ukuran yang hampir sama dengan ubi jalar. 

Tumbuhan yang dalam bahasa Inggris disebut lesser yam ini tumbuh dengan baik di daerah tropis, terutama Asia, daerah dengan curah hujan tinggi. Masa penanaman yang baik adalah pada bulan-bulan memasuki musim kemarau. 

Meski disebut-sebut telah menyebar ke seluruh daerah tropis sesudah tahun 1500 M, saat ini, budidaya tanaman gembili berpusat di Asia Tenggara (khususnya Papua Nugini), Oseania, Madagaskar, Kepulauan Karibia dan Tiongkok. 

Umbi gembili biasanya direbus atau dikukus terlebih dahulu sebelum dimakan. Bertekstur kenyal seperti umbi gembolo namun berukuran lebih kecil. 

Berbagai penelitian terus dilakukan untuk melestarikan keragaman hayati dan pengolahan umbinya, di antaranya telah dilakukan penelitian akan kemungkinannya menjadi etanol. 

3. Jewawut 

Tanaman jewawut (Setaria italica) adalah sejenis tumbuhan serealia seperti padi dan gandum. Pernah dipakai sebagai bahan utama berbagai makanan pokok yang dikonsumsi oleh masyarakat Asia Timur dan Asia Tenggara sebelum budidaya padi dikenal.

Terdapat dua kelompok varietas biologis. Yang pertama adalah jewawut yang biasa dimakan orang, S. italica var. italica, dan yang kedua adalah yang biasa dijadikan pakan burung, S. italica var. moharica.

Jewawut dapat diolah menjadi berbagai bentuk makanan seperti nasi, bubur, bahkan dodol. Namun, bagi masyarakat Biak Numfor tanaman ini bisa diolah menjadi bubur yang dipercaya baik bagi ibu hamil ataupun sebagai MPASI bayi.

Cara mengolah jewawut sama dengan pengolahan beras. Jewawut yang telah dipanen kemudian dijemur lalu kemudian dikuliti hingga didapatkan dagingnya. Bulir dari jewawut terlihat mirip dengan beras ketan.

Secara kandungan nutrisi, jewawut memiliki kadar protein sampai 13 persen, dibanding padi yang hanya 8%-10%. Jewawut memiliki antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, untuk mencegah pembentukan sel kanker. Kalsium pun cukup tinggi dibanding padi, sorgum ataupun jagung.  

4. Ganyong 

Ganyong (Canna edulis) merupakan tanaman berjenis umbi-umbian yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan baku industri. Di Indonesia sendiri tanaman ini terdiri dari dua jenis, yaitu ganyong merah dan ganyong putih. Penamaan jenis ganyong tersebut karena warna umbinya.

Umbi ini berasal dari Amerika Selatan dan dapat tumbuh di segala jenis tanah dan suhu udara. Ganyong dapat tumbuh subur di tanah lempung berpasir yang kaya humus dengan ketinggian tempat antara 0 - 250 mdpl. Di Indonesia, tumbuhan ini telah dikembangkan di seluruh daerah, khususnya Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Namun, ternyata terdapat pula pengolahan ganyong di Kuningan, Jawa Barat yang menarik serta berpotensi di sektor pertanian serta perekonomian. 

Ganyong mengandung karbohidrat tinggi, dan menurut Data Direktorat Gizi Depkes RI, kandungan gizi ganyong dalam 100 gram nya terdiri dari kalori 95 kal. protein 1 gram, lemak 0,11 gram, karbohidrat 22,6 gram, kalsium 21 gram, fosfor 70 gram, zat besi 1,9 mg, vitamin B1 0,1 mg, vitamin C, 10 mg dan air 75 gram. [KW]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Dosen IPB University Berbagi Tips Merawat Ikan Hias

Pet & Animal   12 Jan 2021 - 10:50 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Tips Penyembuhan Indera Penciuman Usai Terpapar Covid-19

Health & Beauty   21 Des 2020 - 17:12 WIB
Bagikan: