Kementan Pacu Produksi Kapulaga Sebagai Tanaman Obat

TrubusLife
Syahroni | Followers 0
11 Okt 2018   15:45

Komentar
Kementan Pacu Produksi Kapulaga Sebagai Tanaman Obat

Kapulaga. (Istimewa)

Trubus.id -- Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang memiliki berbagai jenis tanaman yang secara turun temurun digunakan sebagai obat. Dari sekian banyak tanaman obat yang ada di nusantara, kapulaga adalah salah satu tanaman obat yang banyak ditanam.

Pohon obat dengan nama latin Amomum cardamomum ini diketahui mempunyai kandungan zat aktif dan minyak atsiri yang memiliki sifat afrodisiak. Manfaat kapulaga antara lain melancarkan sirkulasi darah, anti oksidan, menurunkan kolesterol, mencegah kanker dan sariawan.

Kelebihan lain kapulaga adalah kemampuannya untuk membantu mengurangi resiko sakit pencernaan, obat impotensi serta antidepresan dan aromaterapi.

Salah satu wilayah penghasil kapulaga yang tengah dikembangan di Indonesia ada di Kabupaten Garut. Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Deni Herdiana mengatakan, kondisi agroklimat dan lahan di kabupaten ini berpotensi untuk pengembangan tanaman kapulaga. 

Perkebunan kapulaga di Garut, Jawa Barat. (Foto: Doc/ Kementan)

“Kabupaten Garut sangat potensi untuk pengembangan tanaman kapulaga. Agroklimat dan kondisi lahan di kabupaten Garut sangat cocok untuk budidaya kapulaga. Minat petani terus bertambah untuk menanam. Luas tanam kapulaga tahun 2016 hanya 769 hektar, meningkat pada 2017 menjadi 1.295  hektar”, jelas Deni di Garut, Kamis (11/10).

Sementara itu, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), Prihasto Setyanto menambahkan, Kementan mendukung penuh pengembangan kapulaga, sehingga tidak hanya memacu produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga ditargetkan agar dapat diekspor. Langkah ini cukup penting karena dampaknya bisa meningkatkan kesejahteraan petani dan juga bisa menambah devisa negara.

“Produksi kapulaga di dalam negeri tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, namun juga untuk memenuhi permintaan ekspor dari negara-negara Timur Tengah, Mesir dan India,”  jelas Prihasto.

Tercatat, produksi kapulaga terus meningkat rata-rata sebesar 15,05%.  Di tahun 2012 hingga 2017, produksi Kapulaga  berturut-turut naik mulai dari 42.973 ton, 54.171 ton, 72.851 ton, 93.121 ton, 86.144 ton dan 90.787 ton.  Dengan volume ekspor di tahun 2012 hingga  2015 sebesar 7.961 ton, 6.697 ton, 7.737 ton dan 6.245 ton.

“Kapulaga termasuk suku jahe-jahean atau zingiberaceae. Tanaman obat ini cukup mudah dalam pemeliharaannya namun tetap membutuhkan budidaya yang baik dan benar supaya dapat memperoleh hasil yang maksimal,” tambahnya.

Uden dan Saroh, sepasang suami istri petani di Desa Mekarsari, sangat bersemangat bertanam kapulaga karena budidayanya tidak sulit dan tidak memerlukan modal besar. Saat ini harga kapulaga kering dihargai lumayan tinggi yaitu Rp83 ribu per kg. Harga pada umumnya sekitar Rp40 sampai 60ribu per kg.

Saroh mengatakan, petani di Garut biasa menanam kapulaga di bawah tegakan tanaman tahunan seperti albasia atau pisang. Lahan seluas 200 tumbak atau 3000 m2 dalam sekali panen dapat menghasilkan 50 - 75 kg kapulaga kering dan mampu dipanen tiga kali dalam setahun yaitu pada bulan September, Januari dan Mei.

“Jika rajin memberi pupuk urea dan ZA serta lahan bersih dari gulma maka tanaman kapulaga akan rajin berbuah,” ungkap Saroh.

Hal senada juga disampaikan Ilan, seorang pengempul besar rempah di Garut. Ia mengaku gembira melihat perkembangan kapulaga di Kota Garut. Karena selain cepat, kapulaga juga sangat menguntungkan karena mudah untuk dijual. Bahkan pada musim panen, gudangnya dapat menyerap kapulaga sekitar 1 ton per hari.

"Selain ke para pengepul, Kapulaga ini langsung diserap oleh industri jamu dan obat di dalam negeri maupun ekspor ke beberapa negara seperti, Timur Tengah, Mesir dan India,” ungkapnya. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait