Trauma, Korban Bencana Alam Rawan Gangguan Jiwa

TrubusLife
Ayu Setyowati | Followers 0
03 Okt 2018   21:00

Komentar
Trauma, Korban Bencana Alam Rawan Gangguan Jiwa

Warga melihat bangunan pusat perbelanjaan yang ambruk akibat gempa di Palu, Sulawesi Tengah yang terjadi Jumat (28/9). (ANTARA FOTO/Rolex Malaha/pras/18)

Trubus.id -- Rasanya, nyaris tak ada hal baik yang datang setelah bencana alam. Selain kerugian material, para korban bencana alam juga kerap dirundung kesedihan mendalam akibat kehilangan keluarga, kerabat dan harta harta benda. Tidak sedikit korban selamat mengalami syok hingga trauma yang berujung pada gangguan jiwa.

Melalui penelitian terhadap korban gempa bumi Hanshin-Awaji di Jepang pada 1995, Kato H dan rekan-rekannya menemukan fakta bahwa para korban selamat mayoritas mengalami gangguan tidur, depresi, mudah marah dan hipersensitif.

Penelitian serupa juga dilakukan oleh Masahiro Kokai bersama tim penelitinya yang diterbitkan dalam jurnal Psychiatry and Clinical Neurosciences pada tahun 2004 dengan judul Natural Disaster and Mental Health in Asia.

Baca Lainnya : Pondok Ceria Dibangun Kemensos agar Korban Gempa dan Tsunami di Palu Tidak Trauma

Dari penelitian tersebut ditemukan istilah morbiditas psikiatri yang mengacu pada kerusakan fisik dan psikologis akibat kondisi kejiwaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan kecemasan sebagai dampak langsung dari kejadian yang traumatis banyak ditemukan pada bulan pertama setelah gempa. Umumnya, korban bencana terus memikirkan beban untuk kembali membangun rumahnya dan mengalami kesulitan menyesuaikan diri di tempat relokasi.

Post-traumatic Stress Disorder (PTSD) Mengintai

Dari berbagai jenis gangguan jiwa, Post-traumatic Stress Disorder (PTSD) merupakan gangguan yang paling banyak dialami oleh korban bencana. PTSD adalah kondisi mental ketika seseorang mengalami serangan panik, dipicu oleh trauma pengalaman masa lalu.

Gambaran mengerikan dari bencana alam yang dialami dapat membekas di pikiran para korban. Itulah sebabnya, banyak korban bencana alam yang rentan akan gangguan jiwa yang satu ini.

Baca Lainnya : Alami Trauma Benturan Kepala, Choirul Huda, Kiper Persela Lamongan Meninggal Dunia

Meski dapat terjadi pada setiap orang, baik pria maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, menurut penelitian, PTSD lebih banyak dialami oleh para perempuan dan anak-anak. Sebab, perempuan umumnya lebih sensitif terhadap perubahan daripada pria sehingga mereka akan mengalami emosi yang lebih intens. Sedangkan pada anak-anak, jika tak ditangani dengan baik, berpotensi terbawa hingga usia dewasa.

Sebelum mengalami PTSD, biasanya akan terjadi fase akut yang berlangsung mulai dari 3 hari hingga 1 bulan pascatrauma (gangguan stres akut). Bila tidak ditangani dengan baik, gangguan stres akut dapat berlanjut menjadi PTSD.

Baca Lainnya : Peneliti: Orang yang Suka Selfie, Idap Gangguan Mental Sejati

Perlu diketahui bahwa di dalam otak manusia terdapat amigdala, pusat rasa takut. Ketika terjadi gangguan psikologis akibat suatu kejadian, amigdala akan teraktivasi dan mengirim sinyal ke berbagai otak lainnya. Ketika amigdala mengirim sinyal ke batang otak, terjadilah peningkatan denyut jantung (berdebar-debar) dan pembuluh darah perifer menciut sehingga orang menjadi pucat.

Amigdala juga mengirim sinyal ke pusat yang mengatur pernapasan. Akibatnya, napas orang yang mengalami trauma menjadi lebih pendek atau cepat. Peristiwa rasa takut yang hebat akan disimpan ke bagian otak. Disebut hipokampus yang kemudian memunculkan berulang kali peristiwa traumatik tersebut, tidak sama dengan penyimpanan memori biasa. Memori bencana traumatik disimpan lebih dalam dan lama, sulit hilang atau pun dilupakan. [DF]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: