Dugaan Peneliti, Likuifaksi di Petobo karena Endapan Lumpur dan Pasir

TrubusLife
Diah Fauziah
03 Okt 2018   18:00 WIB

Komentar
Dugaan Peneliti, Likuifaksi di Petobo karena Endapan Lumpur dan Pasir

Inilah suasana di Kampung Petobo usai mengalami likuifaksi akibat gempa bumi dan tsunami, Jumat (28/9) lalu. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/kye/18)

Trubus.id -- Bagi para ahli dan peneliti kebumian, likuifaksi merupakan hal biasa. Namun, likuifaksi yang terjadi di Kampung Petobo sesaat setelah gempa bermagnitudo 7,4 yang diikuti tsunami, dianggap menyeramkan oleh ahli geologi dari Saint Louis University, John Encarnacion.

"Likuifaksi yang terjadi di Palu adalah contoh yang paling menyeramkan saya lihat. Banyak suara-suara aneh terdengar," kata John, menanggapi video tentang likufaksi yang terjadi di Petobo.

Baca Lainnya : Gempa dan Tsunami Mengakibatkan Muncul Fenomena Likuifaksi, Ini Penjelasannya

Awalnya, John mengira jika video yang sempat viral di media sosial adalah tsunami. Setelah diamati seksama, itu bukanlah tsunami, melainkan likufaksi. Dugaan John, seluruh kawasan di Petobo berada di atas endapan lumpur dan pasir dari pesisir atau sungai yang tidak terkonsolidasi dan jenuh dalam air. Ketika material itu terguncang oleh gempa bumi, jadi mencair.

Menurut perkiraan John, usia endapan lumpur mencapai ribuan hingga puluhan ribu tahun.

"Masih sangat muda, tidak cukup waktu untuk berubah menjadi batu. Likufaksi sebenarnya merupakan situasi yang terjadi di banyak wilayah pesisir," ujarnya kepada Antara.

Baca Lainnya : Peneliti LIPI Minta Semua Pihak Jangan Asal Bicara Soal Gempa

John mengatakan jika tsunami dan likufaksi merupakan dua fenomena alam yang berbeda. Tsunami terjadi karena permukaan laut terganggu oleh gerakan patahan atau tanah longsor di bawah laut.

"Likufaksi terjadi karena sedimen yang kaya air terguncang hebat akibat gempa," jelasnya.

Ya, likuifaksi yang terjadi di Kampung Petobo, Sigi, tidak hanya menenggelamkan ratusan rumah, tapi juga sebagian warga di permukiman tersebut. [DF]

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: