Pembuatan Cagar Alam Paus di Atlantik Selatan Terancam Gagal

TrubusLife
Diah Fauziah | Followers 0
12 Sep 2018   19:30

Komentar
Pembuatan Cagar Alam Paus di Atlantik Selatan Terancam Gagal

Paus. (AFP)

Trubus.id -- Negara-negara yang mendukung perburuan paus menolak tawaran untuk membuat cagar alam bagi mamalia laut terancam punah di Atlantik Selatan saat mengikuti pertemuan International Whaling Commision (ICW) di Brasil, Selasa (11/9). Padahal, rencana pembuatan cagar alam paus sudah direncakan selama 20 tahun.

Cagar alam paus di Atlantik Selatan didukung oleh 39 negara, ditentang 25 negara. Beberapa negara tidak memberikan suara. Karena itu, gagal mendapatkan dua pertiga suara dari total anggota 89 negara.

Menteri Lingkungan Brasil, Edson Duarte, yang sudah mengusulkan cagar alam paus sejak pertemuan ICW pada tahun 2001 lalu, mengungkapkan kekecewaannya. Walau begitu, ia akan terus meminta dukungan dari seluruh negara di dunia.

Baca Lainnya : Lindungi Paus Bungkuk, Peru Berencana Bikin Cagar Laut Pasifik di Awal 2019

"Sebagai menteri lingkungan di sebuah negara dengan 20 persen keanekaragaman hayati dunia di hutannya, kami merasa sangat bertanggung jawab atas pengelolaan kekayaan kami dan yang ada di seluruh dunia," kata Edson, disambut tepuk tangan delegasi negara yang mendukung pembuatan cagar alam paus.

Beberapa kelompok lingkungan yang menghadiri pertemuan tersebut mengungkapkan kekecewaan. Disponsori oleh Argentina, Afrika Selatan dan Uruguay, cagar alam paus di Atlantik Selatan pertama kali dibahas pada tahun 1998. Pada tahun 2001, mulai dilakukan voting untuk pembuatan cagar alam paus di Atlantik Selatan.

ICW sendiri mengaku dua tempat perlindungan lainnya, Cagar alam di Samudra Hindia yang dibuat pada tahun 1979 dan Cagar alam di perairan Samudra Selatan di sekitar Antartika yang dibuat pada tahun 1994.

Baca Lainnya : Kejam, Islandia Bunuh Lebih dari 200 Paus Sirip untuk Ekspor

Jepang, negara yang mendukung perburuan paus, menentang pembuatan cagar alam. Didukung oleh negara-negara yang juga melakukan penangkapan paus untuk tujuan komersial, yakni Islandia, Norwegia dan Rusia. Delegasi Jepang memberi ide tentang perubahan aturan pada pertemuan dua tahunan yang memungkinkan keputusan dibuat oleh mayoritas, bukan minimum tiga perempat negara aggota.

Ide tersebut akan memudahkan Jepang untuk kembali mengajukan usulnya untuk mengakhiri moratorium 32 tahun perburuan paus komersial. Memperkenalkan kembali penangkapan paus berkelanjutan. Tentu, ide tersebut mengundang kemarahan negara-negara yang menentang perburuan paus.

"Pertemuan ini untuk mencai jalan keluar bagaimana melindungi paus, bukan tentang menentukan hasil untuk wilayah lain di dunia," kata Amy Laurenson, delegasi asal Selandia Baru.

Pada tahun 2014 lalu, Australia memenangkan sebuah kasus melawan Jepang yang mengabaikan cagar alam di Samudra Selatan dan berburu di sekitar Antartika sebagai bagian dari program ilmiah. Setelah keputusan itu, Jepang terus berburu di Samudra Selatan, tapi dengan kuota tangkapan yang dikurangi. [DF]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Mengapa Anjing Makan Rumput? Ini 5 Alasannya

Thomas Aquinus   Pet & Animal
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: