BNPB: Hindari Memberi Susu Formula pada Bayi Korban Gempa Lombok

TrubusLife
Diah Fauziah
14 Agu 2018   15:30 WIB

Komentar
BNPB: Hindari Memberi Susu Formula pada Bayi Korban Gempa Lombok

Ilustrasi susu bubuk. (Financial Tribune)

Trubus.id -- Gempabumi 7 SR telah meluluhlantakkan Lombok. Berdasarkan data dari Posko Tanggap Gempa Lombok pada Senin (13/8), pengungsi yang tercatat sebanyak 352.793 orang. Walau begitu, belum semua kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi. Bahkan, masih terdapat pengungsi yang belum mendapat bantuan karena sulitnya akses menuju ke lokasi terdampak.

Di antara ratusan ribu pengungsi, terdapat bayi dan anak-anak yang perlu mendapat perlakukan khusus. Bayi dan anak termasuk kelompok rentan bersama ibu hamil, lansia, dan disabilitas. Mereka perlu mendapat perlakukan khusus karena rentan terserang penyakit selama di pengungsian.

"Hingga saat ini, belum ada data pasti jumlah pengungsi bayi dan balita. Diperkirakan ada puluhan ribu jiwa. Data sementara di Kabupaten Lombok Utara terdapat 1.991 jiwa balita berusia nol sampai lima tahun dan 2.641 jiwa anak-anak berusia enam sampai sebelas tahun," kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala pusat Data Informasi dan Humas BNPB di Jakarta.

Baca Lainnya : Anak-anak Korban Gempa Lombok Alami Trauma Mendalam

Pemberian bantuan berupa makanan untuk bayi dan balita tidak dapat dilakukan sembarangan di pengungsian lantaran mereka harus mendapat perhatian. Air susu ibu (ASI) merupakan makanan yang paling sempurna bagi bayi. Oleh karena itu, menyusui dalam kondisi darurat harus terus dilakukan oleh ibu kepada bayi hingga usia 2 tahun atau lebih.

Bagaimanapun juga, ASI tidak bisa digantikan oleh susu formula. Apalagi, terbatasnya sarana untuk membuat susu formula di tempat pengungsian. Tidak heran jika penyakit diare di kalangan bayi usia di bawah enam bulan yang menerima bantuan susu formula, dua kali lebih banyak dibandingkan mereka yang tidak menerima bantuan itu. Bahkan, pemberian susu formula akan meningkatkan risiko terjadinya kekurangan gizi dan kematian bayi.

"Dalam beberapa pengalaman saat terjadi bencana, apalagi skala besar yang menyebabkan banyak pengungsi, susu formula dan bubuk menjadi produk yang seringkali diberikan pada pengungsi dalam keadaan darurat. Sayangnya, produk tersebut seringkali dibagikan tanpa kajian dan pemantauan sehingga dikonsumsi oleh bayi dan anak-anak yang seharusnya masih perlu disusui (ASI)," jelas Sutopo.

Baca Lainnya : Penyaluran Logistik Korban Gempa Lombok Terhambat Jumlah Kendaraan

UNICEF dan WHO sebagai Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengingatkan bahaya pemberian susu formula di pengungsian. Pemberian susu formula untuk balita dan anak-anak justru meningkatkan pasien dan kematian.

"Kasus pascabencana gempa di Bantul, hendaklah dijadikan pelajaran. Pemberian susu formula kala itu justru meningkatkan terjadinya diare pada anak di bawah usia dua tahun, di mana 25 persen dari pasien mengosumsi susu formula," tutur Sutopo.

Oleh karena itu, ia mengimbau siapa saja yang ingin menyalurkan bantuan bagi korban gempa Lombok untuk tidak memberikan susu formula dan produk bayi lainnya seperti botol, dot, empeng, tanpa persetujuan Dinas Kesehatan Provinsi atau Kabupaten setempat.

"Ibu yang menyusui, harus diberikan dukungan dan bantuan praktis untuk meneruskan menyusui. Tidak boleh sembarangan diberikan bantuan susu formula dan bubuk," ucapnya.

Meski demikian, ada pengecualian untuk bayi yang tidak bisa disusui. Selain susu formula, orangtua bayi harus diberikan perlengkapan untuk menyiapkan susu tersebut di bawah pengawasan ketat tim dokter. Kondisi kesehatan bayi harus tetap dimonitor.

Baca Lainnya : 400 Hunian Sementara Disiapkan Pemerintah untuk Korban Gempa

Pengungsi yang memiliki anak usia nol sampai enam bulan, harus terus memberikan ASI eksklusif. Untuk b\ayi usia 6 hingga 9 bulan, selain diberikan ASI, bisa diselingi makanan sehat yang dibuat dengan disaring, di mana tekstur makanan lumat dan kental. Bayi usia 9 sampai 12 bulan, masih diberikan ASI, ditambah dengan makanan yang sama untuk orang dewasa.

"Tapi, makanan tersebut dicincang atau dicacah, dipotong kecil, dan selanjutnya diiris-iris. Jangan lupa untuk perhatikan respon anak saat makan. Nah, untuk bayi usia 12 sampai 24 bulan, lanjutkan menyusui dan ditambahkan dengan makanan keluarga," beber Sutopo.

Ia melanjutkan, "Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda, selimut, makanan siap saji, beras, MCK portable, air minum, air bersih, tendon air, pakaian, terpal atau alas tidur, alat penerang, layanan kesehatan dan trauma healing." [DF]

  


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: