Selamatkan Badak Putih dari Kepunahan, Embrio Rhino Hibrida Berhasil Dibuat

TrubusLife
Diah Fauziah
11 Juli 2018   19:30 WIB

Komentar
Selamatkan Badak Putih dari Kepunahan, Embrio Rhino Hibrida Berhasil Dibuat

Najin (kanan) dan Fatu, dua badak betina yang tinggal di konservasi Olpajeta di Kenya, Afrika. (Reuters)

Trubus.id -- Sebuah tim ilmuwan internasional telah mengumumkan terobosan yang bertujuan menyelamatkan badak putih jantan dari kepunahan. Embrio rhino hibrida pertama telah berhasil dibuat di laboratorium untuk penelitian bioteknologi di Italia.

Sekarang, konservasionis berencana untuk menggunakan teknologi. Caranya dengan membuat replika gen badak putih. Terobosan ini diumumkan pada Rabu (4/7) lalu oleh Kebun Binatang Dvur Kralove dan Institut Leibniz untuk Kebun Binatang dan Penelitian Satwa Liar.

Pengumuman tersebut disambut bahagia oleh konservasionis satwa liar di seluruh dunia, khususnya Konservasi Olpajeta di Kenya yang menyediakan tempat perlindungan selama 10 tahun bagi badak putih jantan terakhir.

Baca Lainnya : Ketika DNA Badak Mengadili Pemburu Liar

"Jelas, ini merupakan kabar baik. Akhirnya, langkah ini mampu menciptakan seekor badak putih jantan, murni melalui IVF (fertilisasi in vitro)," kata Richard Vigne, CEO Olpajeta.

Ia melanjutkan, "Begitu kita bisa menciptakan embrio, bukan berarti kita bisa memasukkan embrio tersebut ke ibu pengganti untuk menciptakan badak putih yang saat ini diambang kepunahan. Tapi setidaknya, kita menuju langkah yang benar."

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah badak telah menurun drastis karena perburuan liar ada banyak permintaan untuk cula badak.

Mengadaptasi teknik reproduksi yang digunakan pada kuda, para ilmuwan menggunakan telur badak putih betina dan sperma badak putih jantan untuk mengembangkan embrio yang menurut para peneliti berpeluang kuat untuk bertahan hidup. Untuk pembuahan, akan menggunakan sperma dari badak putih jantan yang telah mati.

Baca Lainnya : Dua Anak Badak Jawa Lahir di Tengah Ancaman Kepunahan

Sudan, badak putih jantan terakhir di dunia, mati pada Maret 2018 lalu di usia 45. Saat ini, tinggal dua ekor badan betina yang masih bertahan hidup. Najin (anak Sudan) dan Fatu (cucu perempuan Sudan), tinggal di Olpajeta.

Selanjutnya, para ilmuwan akan mengambil sel telur dari Fatu dan Najin. Begitu dua badan betina tersebut memiliki sel telur, ilmuwan dapat memulai proses menciptakan embrio badak putih untuk implantasi. Badak putih betina akan bertindak sebagai ibu pengganti.

Richard memperkirakan implantasi badak putih akan terjadi dalam waktu satu tahun dari sekarang. Setelah itu, ia berharap jika Najin dan Fatu akan segera memiliki keturunan.

Baca Lainnya : Menyedihkan, Kisah Badak Sumatera Betina Terakhir di Malaysia

"Menjaga mereka dalam kesehatan yang baik, apalagi kami akan memberikan ibu pengganti, di mana embrio badak putih jantan dapat ditanamkan untuk menghasilkan keturunan. Pada waktunya nanti, kami akan memberikan kesempatan untuk mencipakan kawanan badak putih di Afrika," tuturnya.

Sperma yang tersedia berasal dari empat ekor badak putih jantan, termasuk Sudan. Untuk menciptakan populasi badak putih dengan keragaman genetik yang diperlukan, para ilmuwan akan menggabungkan penelitian sel induk dengan teknik reproduksi terbaru lainnya.

Ini bukan yang pertama kali konservasionis berusaha menyelamatkan spesies badak. Pada Mei lalu, Victoria, badak putih betina di Amerika Serikat hamil berkat inseminasi buatan. Saat ini, para ilmuwan sedang menunggu untuk melihat apakah Victoria berhasil melahirkan bayinya atau tidak. [DF]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Dosen IPB University Berbagi Tips Merawat Ikan Hias

Pet & Animal   12 Jan 2021 - 10:50 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Tips Penyembuhan Indera Penciuman Usai Terpapar Covid-19

Health & Beauty   21 Des 2020 - 17:12 WIB
Bagikan: