Menurut Penelitian IUCN, Minyak Nabati Lebih Buruk untuk Lingkungan Dibandingkan Minyak Sawit

TrubusLife
Diah Fauziah
02 Juli 2018   20:00 WIB

Komentar
Menurut Penelitian IUCN, Minyak Nabati Lebih Buruk untuk Lingkungan Dibandingkan Minyak Sawit

Secara teoritis, minyak nabati dapat menggantikan minyak sawit. (NutriNeat)

Trubus.id -- Melarang minyak sawit demi minyak nabati lainnya yang dianggap kurang merusak lingkungan hidup dapat menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati yang lebih besar, menurut laporan baru.

Studi yang diungkapkan oleh International Union for the Conservative of Nature (IUCN) itu muncul di tengah perdebatan yang semakin meningkat tentang penggunaan minyak sawit, di mana Uni Eropa berusaha menghentikan penggunaan komoditas umum di biofuel pada tahun 2030, dengan alasan pelanggaran hak asasi manusia dan lingkungan hidup dalam memproduksi komoditi tersebut.

Namun, minyak nabati yang secara teoritis dapat menggantikan minyak sawit, jauh lebih merusak lingkungan karena membutuhkan lebih banyak lahan, menurut laporan IUCN berjudul Minyak Kelapa Sawit dan Keanekaragaman Hayati.

Produksi minyak sawit dicirikan oleh hasil yang tinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Itu artinya, minyak nabati dihasilkan dari area lahan pertanian tertentu dibandingkan dengan tanaman minyak lainnya. Membutuhkan lahan sembilan kali lebih banyak daripada kelapa sawit untuk menghasilkan jumlah minyak yang sama.

Baca Lainnya : Organisasi Lingkungan Ini Dorong Teknologi Sawit Berkelanjutan

Saat ini, minyak kelapa sawit dihasilkan dari 10 persen semua lahan pertanian yang didedikasikan untuk menanam tanaman minyak, namun menyumbang 35 persen dari volume global semua minyak nabati.

“Setengah dari populasi dunia menggunakan minyak sawit dalam makanan. Jika kita melarang atau memboikotnya, minyak lainnya yang haus akan lahan mungkin akan menggantikannya,” kata Inger Anderson, direktur umum IUCN salam siaran pers.

Dampak Negatif Budidaya Tanaman Kedelai

Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia, yang merupakan gabungan 90 persen pasokan global. Namun, ekspansi perkebunan kelapa sawit, khususnya di Indonesia, telah lama dikritik karena mendorong deforestasi di banyak pulau Sumatra dan Kalimantan. Serta memicu konflik sosial atas tanah dan sumber daya lainnya dengan hutan dan masyarakat adat.

Mengikuti permintaan global untuk minyak sayur dengan tanaman lain hanya akan menggeser kerusakan di tempat lain, ke ekosistem seperti hutan tropis dan sabana dari Amerika Selatan, menurut laporan IUCN.

Baca Lainnya : Petani Riau Marak Mengalihkan Fungsi Kebun Dari Sawit Ke Hortikultura

Salah satu tanaman minyak yang dibudidayakan secara luas di Amerika Selatan adalah kedelai. Telah memiliki dampak negatif yang sangat besar terhadap keanekaragaman hayati di wilayah tersebut. Studi telah menghubungkan budidaya kedelai dengan keragaman burung yang lebih rendah di Brasil dan Argentina. Itu karena, sebagian besar produksi kedelai Brasil terjadi di Cerrado, sebuah padang rumput tropis luas, rumah bagi spesies langka dan terancam yang tidak ditemukan di tempat lain.

Studi yang dilakukan Mighty Earth, LSM yang mengampanyekan lingkungan hidup menemukan 30 ribu hektare hutan sedang dibuka untuk menanam ladang kedelai baru di Argentina Utara, yang memasok kedelai ke beberapa perusahaan yang memproduksi biodiesel berbasil kedelai untuk ekspor.

“Ketika kita melihat penggunaan produksi kedelai di sana, kami mengirim tim ke Argentina dan menemukan kerusakan besar pada hutan,” ucap Henry Waxman, ketua Mighty Earth, mengatakan pada diskusi panel di Forum Hutan Tropis Oslo di Norwegia pada Kamis (28/6).

Minyak Sawit Menghancurkan Keanekaragaman Spesies Asia Tenggara

Laporan IUCN menekankan bahwa, meskipun minyak kelapa sawit merupakan tanaman minyak paling efisien, diperlukan bebas deforestasi untuk menghentikan penghancuran keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan wilayah lain di mana tanaman ini diproduksi.

Baca Lainnya : Indonesia Menangkan Gugatan atas Iklan Minyak Sawit di Prancis

Praktik yang ada saat ini, minyak sawit tetap sangat merusak lingkungan lantaran mengarah ke penipisan hutan hujan tropis dan spesies yang bergantung, kata laporan itu. Orangutan, owa dan harimau termasuk di antara 193 spesies terancam di Daftar Merah IUCN yang akan terpengaruh oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit ke kawasan hutan, sebuah keanekaragaman hayati yang mewakili setengah dari mamalia terancam di dunia dan hampir dua pertiga burung-burung terancam.

“Minyak sawit menghancurkan keanekaragaman spesies Asia Tenggara yang kaya karena memakan habis hutan tropis,” kata Erik Meijaard, penulis utama laporan dan ketua satuan tugas kelapa sawit IUCN.

Ia melanjutkan, "Akan tetapi, jika itu digantikan oleh area yang lebih luas dari lahan rapeseed, kedelai atau bunga matahari, ekosistem alam dan spesies yang berbeda mungkin menderita."

Laporan ini menemukan bahwa sejauh ini, keuntungan terbesar bagi keanekaragaman hayati dalam konteks kelapa sawit adalah dengan menghindari deforestasi lebih lanjut. Dapat dicapai melalui peningkatan perencanaan perkebunan baru dan pengelolaan tambalan hutan lebih baik yang tidak tersentuh di perkebunan.

Laporan ini juga merekomendasikan para pemangku kepentingan untuk mendorong permintaan yang lebih besar akan minyak sawit yang diproduksi secara berkelanjutan, sehingga memberikan tekanan pada produsen untuk meningkatkan praktik mereka.

Baca Lainnya : Redam Kampanye Hitam Uni Eropa, Pelaku Usaha Sawit Indonesia Harus Punya ISPO Semua

“Dengan sebagian besar minyak kelapa sawit dipasok ke India, China, dan Indonesia, kesadaran konsumen di negara-negara ini perlu ditingkatkan untuk memastikan bahwa permintaan ini akan terwujud,” tulis laporan tersebut.

Memahami Pentingnya Produksi Minyak Sawit Berkelanjutan

Adrian Suharto, kepala pelibatan pemangku kepentingan pemasok biodiesel yang berbasis di Finlandia, Neste Corporation, setuju dengan rekomendasi laporan tersebut.

“Yang paling penting adalah apa yang Anda beli adalah berkelanjutan. Anda mendidik orang dan membantu mendukung pemerintah lokal di Indonesia dan Malaysia, Thailand, Kolombia, dan di mana pun untuk memahami pentingnya memiliki produksi minyak sawit berkelanjutan,” ucapnya di Forum Hutan Tropis Oslo.

Federasi Eropa untuk Transportasi dan Lingkungan, sebuah 'payung' bagi LSM yang bekerja di bidang transportasi dan lingkungan, memberikan solusi terbaik, yakni sepenuhnya menghapus mandat dan insentif untuk biofuel berbasis tanaman yang memaksa orang untuk menggunakan biofuel. Pada tahun 2009 lalu, Uni Eropa mengeluarkan kebijakan yang mengharuskan setiap negara anggota Uni Eropa untuk memiliki 10 persen bahan bakar terbarukan pada tahun 2020.

Baca Lainnya : Luhut: Sawit Hidupi 17,5 Juta Warga Indonesia

Saat ini, Uni Eropa sedang merevisi kebijakan energi terbarukannya, yang akan menghapus insentif untuk bahan bakar berbasis tanaman mulai dari 2020. Akibatnya, akan menghentikan penggunaan minyak sawit dalam biodiesel, yang menurut Laura Buffet, manajer untuk bahan bakar bersih di transportasi dan federasi lingkungan, dikatakan bergerak ke arah yang benar.

“Saya setuju bahwa jika Anda mempertahankan driver dan target yang sama. Anda cukup menghapus satu bahan baku dari persamaan, di mana itu mungkin akan diisi oleh sesuatu yang lain. Jika alternatif itu adalah minyak kedelai atau minyak rapeseed, Anda juga akan melihat dampak tidak langsung dan penggundulan hutan. Itu tidak akan menyelesaikan masalah sepenuhnya," kata Laura.

Ia melanjutkan, "Itulah mengapa kami meminta untuk mengurangi atau menghapus sepenuhnya mandat. Dan itu akan menjadi solusi terbaik." [DF]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: