Mengapa Gatal Menular?

TrubusLife
Trubus Life
23 Agu 2017   14:30 WIB

Komentar
Mengapa Gatal Menular?

Ternyata, gatal itu menular (Foto: Bloglovin)

Trubus.id -- Tikus, seperti manusia dan monyet, akan mulai gatal jika mereka melihat tikus lain menggaruk tubuh mereka, menurut sebuah studi baru. Penemuan tersebut merupakan bukti bahwa gatal menular secara sosial pada hewan pengerat. Peneliti mengatakan jika hal itu sudah tertanam dalam otak tikus.

"Tikus yang diteliti merasa gatal ketika melihat tikus lainnya menggaruk sendiri,” kata Zhoufeng Chen, direktur di Center for the Studi of Itc at the Washington University School of Medicine di St. Louis. “Sama seperti manusia,” lanjutnya.

Pada manusia, penyebutan kutu bisa membuat seseorang merasa gatal, kata para ilmuwan. Begitu juga monyet, cenderung mulai menggaruk sendiri saat melihat monyet lain, atau bahkan video monyet, menggaruk di depannya, menurut sebuah studi tahun 2013 di jurnal Acta Dermato Venereologica.

Untuk menyelidiki apakah tikus memiliki perilaku tersebut, Chen dan rekannya menaruh tikus bersama dengan rekannya yang memiliki kondisi gatal secara kronis. Mereka juga meletakkan video tikus yang gatal di hadapan hewan tersebut. Dalam setiap kasus, peneliti melihat jika tikus mulai menggaruk.

Ketika tikus "menangkap" rasa gatal, pemindaian otak hewan pengerat menunjukkan peningkatan aktivitas, disebut suprachiasmatic nucleus (SCN), yang mengendalikan kapan hewan tertidur dan bangun.

Foto: NPR

Saat seekor tikus melihat rekannya menggaruk tubuh, sel-sel di SCN mengeluarkan sebuah bahan kimia yang dikenal sebagai peptida pelepasan gastrin, atau GRP. Chen mengidentifikasi GRP sebagai pemancar penting sinyal gatal antara kulit dan sumsum tulang belakang dalam sebuah penelitian di Journal Nature 2007.

Akan tetapi, GRP hanya bisa mempengaruhi gatal "sosial". Ini membuat tikus bertindak seolah-olah sedang melihat tikus lain menggaruk. Ketika tim menggunakan teknik untuk memblokir GRP, dan juga reseptor yang mengikatnya, tikus tidak menggaruk sendiri saat ketika mereka melihat tikus lain menggaruk.

“Tapi, tikus tersebut masih bisa merasakan gatal. Terbukti ketika tikus mulai menggaruk saat disuntik histamin, zat yang merangsang gatal,” kata Chen kepada Live Science.

Menariknya, GRP dapat memicu penularan gatal dengan sendirinya. Ketika para peneliti menyuntikkan GRP tambahan, tikus mulai menggaruk tubuhnya selama satu jam, bahkan ketika mereka tidak melihat tikus lain menggaruk.

Penemuan ini dapat membantu ilmuwan memahami sirkuit otak yang mengendalikan perilaku menular secara sosial, kata mereka. Tidak sepenuhnya jelas mengapa beberapa hewan menderita gatal menular. Menurut Chen, itu bisa menjadi mekanisme perlindungan.

"Mungkin saja, ketika ada banyak tikus yang menggaruk di satu tempat, itu peringatan bagi tikus lain jika tempat tersebut memiliki banyak serangga saat banyak tikus menggaruk, mungkin itu memperingatkan tikus lain bahwa ini adalah tempat yang memiliki banyak serangga,” kata Chen. [DF]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bawang Merah dan Daun Bawang Manakah yang Lebih Sehat

Health & Beauty   29 Jan 2021 - 09:39 WIB
Bagikan:          

Dosen IPB University Berbagi Tips Merawat Ikan Hias

Pet & Animal   12 Jan 2021 - 10:50 WIB
Bagikan:          
Bagikan: