Menyedihkan, Derita Tanpa Akhir Korban Lumpur Lapindo

TrubusLife
Binsar Marulitua
30 Mei 2018   17:00 WIB

Komentar
Menyedihkan, Derita Tanpa Akhir Korban Lumpur Lapindo

Menurut penelitian yang telah dilakukan sejak 2008 oleh Walhi Jatim, tanah dan air di area sekitar lumpur panas mengandung PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbon) hingga 2000 kali di atas ambang batas normal. (Foto: Dok. Walhi Jawa Timur)

Trubus.id -- Sambil membawa foto dan hasil pemeriksaan kesehataan, puluhan korban lapindo yang didominasi perempuan, berkumpul di titik 25 tanggul penahan lumpur. Reaksi peringatan tragedi 12 tahun silam tersebut adalah buntut memburuknya kasus kesehatan akibat degradasi lingkungan di sekitar wilayah terdampak lumpur lapindo Sidoarjo, Jawa Timur.

Koordinator aksi, Harwati, mengatakan jika kasus lapindo selalu berhenti pada urusan penyelesaian ganti rugi lahan. Padahal, dalam urusan kesehatan, banyak sekali muncul gejala penyakit berat seperti kanker, jantung dan ISPA. Sementara itu, tidak ada jaminan kesehatan yang dikhususkan untuk korban di wilayah terdampak.

"Korban lapindo harus mengeluarkan biaya ekstra untuk ongkos kesehatan mereka di rumah sakit,” ujar Harwati, Selasa (29/5).

Rere Christanto, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur menjelaskan bahwa, menurut penelitian yang telah dilakukan sejak 2008, tanah dan air di area sekitar lumpur panas mengandung PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbon) hingga 2000 kali di atas ambang batas normal. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mengatakan bahwa PAH adalah senyawa organik yang berbahaya dan bersifat karsiogenik (memicu kanker).

"Menurut laporan tim, kelayakan permukiman yang dibentuk Gubernur Jatim, level pencemaran udara oleh Hydrocarbon mencapai tingkat 8 ribu hingga 220 ribu kali lipat di atas ambang batas," kata Rere.

Foto: Dok. Walhi Jatim.

Degradasi lingkungan juga berimbas pada sejumlah biota di Sungai Porong sebagai buangan semburan lumpur lapindo. Berdasarkan penelitian WALHI Jatim, di dalam tubuh udang ditemukan kandungan timbal (Pb) 40 sampai 60 kali di atas ambang batas yang diperbolehkan dan kandungan kadmium (Cd) 2 hingga 3 kali di atas ambang batas yang diperbolehkan.

Hal ini mengonfirmasikan penelitian lain yang yang menunjukkan adanya logam berat timbal dan kadmium di atas ambang batas yang diperbolehkan dalam tubuh ikan di tambak dan Sungai Porong.

“Besaran angka kontaminasi logam berat dalam tubuh udang dan ikan ini sangat mengkhawatirkan. Dalam rantai makanan, akumulasi logam berat dalam tubuh biota akan semakin banyak terkumpul pada organisme yang lebih tinggi. Artinya, jika pada tubuh biota sekitar semburan lumpur lapindo ditemukan unsur logam berat yang tinggi, ancaman adanya logam berat yang terakumulasi dalam tubuh manusia juga akan tinggi,” ujar Rere.

Kontaminasi logam berat juga terdeteksi ada dalam sumur warga di desa-desa sekitar semburan lumpur lapindo. Di Desa Gempolsari di kecamatan Tanggulangin dan Glagaharum di Kecamatan Porong, ditemukan kandungan timbal (Pb) 2 sampai 3 kali di atas ambang batas yang diperbolehkan serta kandungan kadmium (Cd) hingga 2 kali di atas ambang batas yang diperbolehkan. Akibatnya, air sumur di sekitar semburan lumpur lapindo tidak bisa dipakai sebagai konsumsi untuk air minum warga.

"Jika memadukan temuan logam berat, gas dan PAH di wilayah sekitar semburan lumpur lapindo yang menunjukkan tingkat cemaran yang kuat, dapat diduga memberikan pengaruh terhadap kualitas kesehatan warga yang masih beraktivitas di sekitar semburan lumpur lapindo," jelasnya.

Ditambahkan Rere, logam berat dapat mempengaruhi kondisi kesehatan manusia yang terpapar secara langsung, baik melalui air, sedimen lumpur maupun udara.

“Timbal di dalam darah kita dapat menyebabkan gangguan kronis dan akut pada ginjal serta memicu penyakit jantung seperti hipertensi atau iskemia. Sementara itu, kadmium di dalam tubuh manusia juga dapat menyebabkan gangguan ginjal dan kekakuan paru paru” ungkap Rere.

Hubungan logam berat dan kesehatan korban lapindo bisa dilihat berdasarkan pemeriksaan kesehatan yang telah dilakukan sebelumnya. Dari hasil pemeriksaan kesehatan terhadap 20 korban lapindo yang dilakukan secara acak, 50 persennya atau 10 orang mengalami kelainan pada pemeriksaan darah dan urine. Sedangkan 4 korban lapindo lainnya mengalami kelainan pada pemeriksaan toraks.

"Temuan ini juga menguatkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Menular (BTKL PPM) pada tahun 2010 yang menemukan 81 persen sampel warga di Desa Besuki, Glagah Arum, Gempol Sari, Kali Tengah mengalami gangguan restriksi paru-paru," tutupnya. [DF]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Begini Cara Tepat Hindari Kontaminasi Bakteri Pada Tanaman Tomat

Plant & Nature   19 Okt 2020 - 18:04 WIB
Bagikan:          
Bagikan: